• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Hasil Survey: mayoritas mengakui keberadaan Ahmadiyah

Fakta adanya penolakan terhadap eksistensi Jemaat Ahmadiyah tak dipungkiri. Penolakan itu memang ada. Isunya, seberapa besar penolakan itu? Dan bagaimana negara menyikapi penolakan terhadap sebuah faham keagamaan tertentu?

Survey yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam dan Kewarganegaraan (PSIK) Paramadina menunjukkan bahwa mayoritas warganegara yang disurvey menyatakan bahwa Ahmadiyah berhak untuk hidup di Indonesia dengan damai.

Survei PSIK: Mayoritas Akui Keberadaan Ahmadiyah

Selasa, 22 April 2008 | 15:20 WIB

JAKARTA, SELASA – Sebuah survei yang dilakukan Pusat Studi Islam dan Kewarganegaraan (PSIK) Paramadina menunjukan bahwa mayoritas warga menyatakan Ahmadiyah berhak untuk hidup di Indonesia dengan damai. Hasil survei tersebut disampaikan Ketua PSIK Yudi Latif saat diskusi “Perlindungan Hak-Hak Konstitusional Warga Negara” di Indofood Tower, Plaza Senayan, Jakarta, Selasa (22/4).

Survei tersebut dilakukan melalui pembagian dan pengisian kuesioner dalam kurun waktu 9 April 2007 hingga 8 Agustus 2007 lalu yang dilakukan pada 18 kota antara lain Jakarta, Jambi, Banjarmasin, Aceh, Gorontalo, Ambon, Ternate, Samarinda, Palangkaraya, Pontianak, Bogor, Surabaya, dan Makasar.

Total responden yang disurvei 296 orang dengan komposisi laki-laki 183 orang dan perempuan 113 orang. Rentang usia responden berkisar 17 tahun hingga 74 tahun. Pekerjaannya beragam, mulai dari mahasiswa (144 orang), dosen (68 orang), pegawai negeri sipil (35 orang), pekerja sosial (7 orang), peneliti (6 orang), guru (4 orang), pendakwah (3 orang), pengamat, pengarang dan pelajar (masing-masing 2 orang), serta pensiunan pegawai negeri sipil, seniman, rohaniwan, wartawan, dan ibu rumah tangga (masing-masing 1 orang).

Dari satu pertanyaan yang diajukan yakni ‘apakah penganut Jamaah Ahmdiyah atau Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) berhak hidup di Indonesia dengan damai?’, sebanyak 24 persen mengatakan tidak berhak, dan 13 persen mengatakan tidak tahu. Mayoritasnya yakni sebanyak 63 persen mengatakan bahwa Ahmadiyah atau IJABI berhak hidup damai di Indonesia.

Negara lakukan pembiaran

Sebelumnya, Yudi Latif mengkritik sikap negara dalam menangani Ahmadiyah, berkait dengan tindakan dan tuntutan sejumlah lembaga dan komunitas lain yang untuk membubarkan Ahmadiyah.  Menurut Yudi, komunitas agama harus memahami seberapa jauh otoritas keagamaan bisa masuk dalam urusan kenegaraan. Jangan meminta negara cepat-cepat ikut campur dalam persoalan komunitas.

“Boleh saja komunitas berpandangan berbeda, misalnya MUI menyatakan Ahmadiyah sebagai aliran sesat, dan Ahmadiyah merasa benar, namun tidak berhak meminta pembubaran yang lain, jika tidak ada pelanggaran konstitusi dan hukum yang dilakukan,” ujar Yudi.

Senada dengan Yudi, Ray Rangkuti mengatakan, Bakorpakem yang menggunakan pendekatan destruktif dalam menilai keyakinan masyarakat tidak bisa dibiarkan. Pasalnya, dalam demokrasi yang dikembangkan saat ini, hanya pengadilanlah yang berhak membubarkan suatu lembaga dan paham tertentu.

“Pengadilan yang berhak pun bukan pengadilan umum, tetapi Mahkamah Konstitusi. Dan dalam konstitusi, pembubaran organisasi itu dikaitkan dengan paham marxisme,” ujarnya.

Link: Kompas

11 Tanggapan

  1. mungkin perlu dilakukan jejak pendapat juga, biar akurat datanya.

  2. Wah kok saya gak disurvey……?

  3. wah daeng survey kan gak melulu harussemua orang, random order juga bisa..

  4. Alhamdulillah…😛

  5. Mungkin survey sistem sms di televisi bisa dicoba. Meniru KDI, Mama Mia atau Indonesia Idol. Beri 3 option, lalu penonton di rumah tinggal kirim sms. hasilnya bisa langsung dipublikasikan.
    Kalau cuma 300 responden, ya menunjukkan betapa minimnya dana survey yang dimiliki PSIK. menyedihkan

  6. @ daeng limpo

    mana ada ceritanya “nabi” disurvei hehehe….

    btw adanya survei ini menarik juga, dan penting; bisa sebagai acuan untuk mehami silent majority.

  7. hari gini masih berceloteh ttg ahmadiyah ???????????????
    Wahai Hamba Allah yang arif, kembalikanlah semua ini kepada al_Quran & Assunah

  8. Betul, kan ini Negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai HAM….Maka Ahmadiyah layak eksis.
    Kecuali klo Negara ini yang menjunjung tinggi HAA/Hak-Hak Asasi Allah…, Negara yang mengedepankan Syari’at Allah daripada Hak manusia (karena manusia sebagai hamba Allah). Maka Ahmadiyah……..?

  9. mereka yang mungkin ditanya oleh para interviewer (org awam) akan menjawab ahmadiyah itu sesat krn mereka hanya ikut2an saja,dr mobilisasi opini pemberitaan media yang buruk. ‘katanya’, ‘kata itu’, ‘kata ini’. sehingga berdampak buruk bagi penganut aliran ahmadiyah.

  10. OOOOOOOOOOOOOO

    JADI SETELAH BACA BLOG LOE BARU AMBO TAU BAHWA LOE ITU SALAH SATU MURIDNYA NURKOLIS MADJID…
    JADI LOE ADALAH ORANG LIBERAL……….

    HEEEE
    PANTAS LOE PUNYA BLOG ISINYA INI AJA….

  11. dibalik semua masyarakat (organisasi massa) yang mengalami keresahan, ternyata survey membuktikan sebaliknya… kita tinggal tunggu dan lihat kebenarannya berada di pihak mana ^_^V

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: