• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Di Padang, siswa non-muslim terpaksa berjilbab

Atas instruksi Walikota Padang, para siswa muslim di Padang mengenakan pakaian muslim. Siswi diwajibkan mengenakan jilbab. Siswi non-muslim diminta untuk menyesuaikan diri.

Walaupun tidak ada kewajiban bagi siswi non-muslim untuk berjilbab, pada prakteknya di lapangan seluruh siswi “diwajibkan” memakai jilbab. Tentu saja tidak ada ketentuan tertulis. Tetapi hukum sosial dan sanksi sosial diancamkan kepada siswi non-muslim yang tidak memakai jilbab.

Berikut ini laporan dari Majalah Tempo:


TEMPO, Edisi. 08/XXXVII/14 – 20 April 2008
Nasional
Kewajiban berjilbab

Jilbab, Wajib dan Menyesuaikan

Meski siswi nonmuslim tak diwajibkan, jilbab sebagai ”seragam sekolah” merata di seluruh Sumatera Barat. Kalau tak rapi, diancam dikeluarkan dari sekolah.

RITUAL harian Saskia, sebut saja begitu, dimulai pukul enam pagi. Dua puluh lima menit setelah bangun tidur, tubuh siswi kelas III sekolah menengah atas swasta di Padang itu sudah berbalut baju kurung dipadu kain batik merah muda. Dia pun berdandan di depan cermin yang terpasang di atas lemari tempat menyimpan baju dan kitab Injil.

Dengan terampil tangannya memasang jilbab, berupa selendang persegi empat warna pink, menutup kepalanya. Semenit kemudian, penampilannya berubah bagaikan santriwati pondok pesantren. Dari rumah kosnya ke sekolah, sekali ia berganti kendaraan umum. Dekat pukul tujuh pagi, gadis yang bulan depan menjalani ujian akhir nasional itu memasuki halaman sekolah.

Sekitar pukul 11.00, penganut agama Katolik itu pulang cepat karena hari Jumat. Begitu kakinya melangkah ke luar gerbang sekolah, Saskia sibuk melepas jilbab dan memasukkannya ke dalam tas. ”Panas sekali,” kata perempuan yang sudah berjilbab ke sekolah sejak 2005 itu.

Pernah suatu kali dia dan beberapa temannya ditegur guru dan diingatkan supaya melepas jilbab setelah sampai di rumah. Lain waktu, guru yang lain menegurnya karena tak rapi memakai jilbab sehingga menampakkan sebagian rambutnya. ”Kalau tidak bisa rapi mengenakan jilbab, tinggalkan saja sekolah ini,” kata Saskia menirukan peringatan keras sang guru.

Instruksi Wali Kota Padang, 7 Maret 2005, yang mewajibkan Saskia mengenakan jilbab. Dalam surat edaran ke sekolah-sekolah, Wali Kota mewajibkan siswa beragama Islam semua sekolah dasar hingga sekolah menengah atas dan yang sederajat di wilayahnya mengenakan pakaian muslim. Siswa nonmuslim dianjurkan menyesuaikan diri.

Sebetulnya, banyak siswa nonmuslim yang keberatan. Tapi, ketika Tempo menemui belasan siswi nonmuslim di kelas III sebuah sekolah menengah atas, mereka enggan diwawancarai. Mereka khawatir identitasnya terbuka. Seperti Saskia, mereka hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan sekolah dan terlepas dari kewajiban berjilbab itu.

Sudarto, Direktur Pusat Studi Antar-Komunitas Beragama, lembaga swadaya masyarakat yang mengusung isu pluralisme di Padang, menyayangkan pemerintah kota yang mengatur masalah keagamaan secara simbolis. Menurut dia, tidak jadi masalah jika Wali Kota agamis secara pribadi. ”Tapi jangan sampai diangkat menjadi kebijakan publik,” katanya.

Dalam observasi langsung di beberapa sekolah di Padang bersama Lembaga Survei Indonesia, Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, serta Jurnal Perempuan, dua pekan lalu, Sudarto dan rekan-rekannya menemukan semua siswi nonmuslim di empat sekolah yang disambangi mengenakan jilbab saat bersekolah. ”Ketika saya tanya, mereka menjawab terpaksa mengikuti aturan sekolah,” ujarnya.

Sebetulnya, peraturan itu hanyalah instruksi wali kota kepada dinas pendidikan, dan bukan berbentuk peraturan daerah. ”Apakah instruksi itu sah untuk publik, itu yang sedang kami kaji,” kata Sudarto, yang juga anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Sumatera Barat.

Selama lima tahun terakhir, Pemerintah Kota Padang memang aktif mengeluarkan kebijakan yang terkait dengan ibadah Islam. Pada 2003, pemerintah kota menerbitkan peraturan daerah yang mewajibkan siswa pandai baca-tulis Al-Quran. Berdasarkan peraturan daerah itu, seorang tamatan sekolah dasar tak boleh diterima di sekolah menengah pertama jika tak fasih membaca kitab suci.

Wali Kota Padang Fauzi Bahar berusaha berkelit. Menurut dia, perintah yang dia keluarkan sejak tiga tahun silam itu hanya bersifat wajib bagi siswi sekolah dasar sampai sekolah menengah atas yang beragama Islam. Bagi kalangan nonmuslim, sifatnya hanya anjuran menyesuaikan diri, dengan mengenakan baju kurung bagi siswi dan baju koko untuk siswa.

Dia juga menyatakan tak pernah mendapat protes dari masyarakat. Bahkan kebijakan yang dikeluarkan dengan alasan mengurangi gigitan serangga penyebab penyakit serta penyeragaman ini ditanggapi positif oleh kalangan nonmuslim di kota dengan sekitar 900 ribu penduduk itu.

Karena sifatnya imbauan, menurut Fauzi, yang menjabat sejak 2004, tak ada sanksi bagi mereka yang tak menjalankan aturan ini. ”Tak ada paksaan dan tak pernah ada razia jilbab,” kata pemimpin kota yang 90 persen penduduknya beragama Islam itu. Fauzi malah menambahkan, jika ada sekolah yang terbukti memaksakan pemakaian jilbab terhadap siswa nonmuslim, ia akan menindak tegas. ”Sebutkan dan akan kami copot kepala sekolahnya,” ucapnya.

Kebijakan ini, kata Fauzi, pernah dibicarakan di sidang kabinet. Tapi, karena dianggap tak ada gejolak berarti dari masyarakat, tak pernah ada upaya mencabut atau mengkaji ulang. Bahkan, menurut sang Wali Kota, seluruh Provinsi Sumatera Barat telah menerapkan kebijakan ini karena dianggap membawa pengaruh positif.

DA Candraningrum, Febrianti (Padang)

7 Tanggapan

  1. […] mengikuti kebaktian? Ditulis pada April 21, 2008 oleh sumardiono Dorongan dan paksaan agar siswi non-muslim di Padang berjilbab memunculkan sejumlah pertanyaan besar dalam relasi antar-masyarakat. Walaupun penyelenggara kota […]

  2. 🙂
    pengantar yang anda tulis di atas bisa memicu ketegangan atarumat beragama di sumbar tuh. sebaiknya pakai kalimat yang lebih halus.
    nah, saya sendiri orang padang. 2 tahun yang lalu lulus SMA. sekarang kuliah di jawa.
    sewaktu saya masih SMA, kelas 2, pemerintah kalau tidak salah mengeluarkan surat edaran ke sekolah-sekolah negeri agar siswinya menggunakan jilbab. kenapa?
    FYI, falsafah hidup orang Minangkabau, suku asli SUMBAR, adalah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Adat bersendikan pada agama, agama bersendikan pada Alquran. Karena suku Minangkabau beragama islam. jadi harap maklum jika kebijakan pemerintah kota Padang selalu dilandaskan pada Islam.
    dan jelas tidak ada paksaan bagi saudari2 yang nonmuslim untuk ikut memakai jilbab.
    ini bukan salahsatu bentuk sikap intoleransi, seperti yang tercantum pada keterangan kategori anda….
    rgds.

  3. Ada laporan investigasi di Jurnal Perempuan mengenai hal ini, yang lebih detil. Para siswi non-muslim itu memang terpaksa memakai jilbab.

  4. mungkin ada the-so-called “pemaksaan” itu, kasuistis di beberapa tempat/sekolah. namun untuk menggeneralisir saya rasa terlalu berlebihan. karena faktanya di lapangan masih cukup banyak siswi2 sekolah yg tidak berjilbab, bahkan berpakaian cukup sexy gaul 😉

    bahkan temen saya yg baru dateng dari jakarta sempet terheran2 ketika jalan2 di Padang. dikiranya Padang sama dengan Aceh, dimana semua wanita muslimah harus berjilbab. dan ternyata… tralala…. kata dia, sama aja dengan Jakarta…. persis komentar istri saya saat pertama tiba di Padang dari Djokdja… ternyata gak jauh beda dengan Djokdja😀

  5. ambo g tau yang punya blog ko islam atau kristen tapi sebagai orang Minangkabu asli ambo merasa tersinggung…

    knp kalo aturan yang dibuat oleh Muslim di perbincangkan hangat, tapi kalo aturan yang dibuat non Muslim g pernah di hebohkan…..

    kalo ambo rasa g masalah kalo siswi non muslim make jilbab kalo dia mau….
    aturan yang di keluarkan wali kota Padang itukan tidak ada unsur pemaksaannya…
    jadi sah saja kalo non muslim mau make jilbab….

  6. Justru itulah masalahnya, kalau dilingkungan masyarakat perempuan tidak harus berjilbab, kenapa di sekolah yang non-muslim harus berjilbab. Secara formal, yang non muslim memang tidak harus berjilbab disekolah, tapi justru yang non-formal yang lebih menyiksa.

    Ada kemungkinan kalau yang non-muslim nekat tak berjilbab di sekolah, maka ia akan dikucilkan, bahkan ada kemungkinan juga oleh gurunya. Dari mana asalnya, ya dari auturan yang dibuat walikota itu. Kebijakan walikota itu malah menimbulkan masalah, bukan untuk kebaikan bersama.

  7. rumahbagonjong: aturan non-muslim manakah yang Anda maksudkan; yang menggunakan negara, mengatur publik, dan menciderai umat lain? Kalau ada, tentu akan dibahaskan karena yang menjadi sentral adalah tidak boleh ada diskriminasi terhadap siapapun oleh negara.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: