• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Bolehkah wanita berjilbab mengikuti kebaktian?

Dorongan dan paksaan agar siswi non-muslim di Padang berjilbab memunculkan sejumlah pertanyaan besar dalam relasi antar-masyarakat. Walaupun penyelenggara kota Padang bisa berdalih bahwa tidak ada aturan tertulis yang mewajibkan siswi non-muslim di Padang memakai jilbab, kenyataan bahwa seluruh siswi non-muslim memakai jilbab di sekolah dan mereka takut jika tak memakai jilbab ke sekolah menjadi bukti pemaksaan (langsung atau tidak langsung) dalam pemakaian simbol agama yang bukan menjadi keyakinannya itu.

Buatku, salah satu isu dari kasus ini adalah keadilan. Mengapa siswi non-muslim diharuskan menggunakan simbol keagamaan agama yang bukan dipeluknya?

Ada seorang kawan non-muslim menanggapi kasus ini dengan sebuah pertanyaan yang kurang lebih begini: “Bolehkah siswi-siswi berjilbab itu, datang ke gereja dan melakukan kebaktian sebagaimana yang diyakininya?”

Ke gereja dan melakukan kebaktian tentu saja boleh karena itu adalah keyakinan mereka. Terus, kalau jilbab diwajibkan untuk dipakai (sebagaimana di Padang), logikanya boleh donk orang Kristen memakai jilbab dan mengikuti kebaktian.

Aku tidak tahu bagaimana jawabannya kalau di kota Padang.

Repotnya, di tempat lain pemakaian jilbab oleh non-muslim justru bisa dituduh sebagai penodaan agama Islam. Sebab, katanya jilbab itu milik umat Islam. Lho, mana yang benar: harus dipakai atau tidak boleh dipakai? Dua hal itu kan bertolak belakang.

Pak Djohan Effendi (mantan Mensesneg yang ketua ICRP) menceritakan, dulu pernah ada kasus teman-teman Katolik Betawi merayakan natal menggunakan sarung dan peci. Sarung dan peci adalah pakaian mereka sehari-hari. Tetapi, pakaian itu diprotes karena katanya sarung dan peci adalah simbol orang Islam.

Duh… bagaimana ini… bukankah ajaran agama adalah sumber keadilan untuk seluruh masyarakat (bukan hanya untuk kelompok agama itu sendiri)?

5 Tanggapan

  1. Hehehe…
    Mana ada orang Arab pakai sarung dan peci?
    Lama-lama gamelan pun diklaim sebagai simbol islam.

  2. Peraturan ini harus tidak bersifat “memaksa”, apapun yang dipaksakan tidak akan mendapatkan manfaat. Mungkin lebih baik kalau sekedar penyadaran atau himbauan bagi siswa yang muslimah. Yang non-Islam gak usah aja pakai jilbab kalau memang tidak mau…itu adalah hak anda. Dan perda inikan lebih rendah dari UUD 45. Protez dunk.

  3. kebetulan saya tinggal di Padang, sepengetahuan saya tidak ada pemaksaan itu, dan masih ada juga siswi yang tidak berjilbab di sekolah. adapun jika ada siswi non muslimah yang mengenakan jilbab, mungkin sebagemana siswi muslimah yg “terpaksa” mengenakan jilbab, alasannya yaitu cuma, karena tidak ingin terlihat “aneh”, lain daripada yang lain.

    saya lihat banyak juga siswi2 yg berjilbab asal-asalan, jilbab gaul (nampak rambut, ketat dlsbg). dari cara berjilbabnya, nampak mereka berjilbab “terpaksa”, biyar gak nampak aneh, secara mayoritas padha berjilbab. jadi mereka ikut2an berjilbab, namun yaah.. namanya juga “ikut2an”, jadinya asal nempel jilbab aja, gak peduli baju ketat, susu menonjol, rambut nampak, dan setiyap mbungkuk cd nya nongol di blakang..😕

  4. Mas Titov, terima kasih mas atas update informasi dari Padang.🙂

    Dari investigasi dan wawancara yang dilakukan Jurnal Perempuan, memang tidak ada pemaksaan (dalam arti aturan tertulis yang mengharuskan non-muslim berjlibab). Pressure memang bersifat sosial dan lisan. Dan seperti yg Anda sebutkan, mereka terpaksa berjilbab.

    Repotnya, ini kan sekolah umum yang dibiayai oleh negara dan setiap ketentuannya seharusnya tidak diskriminatif menurut ajaran tertentu (Islam, Kristen, atau apapun)?

    Terus, tugas negara bukannya melindungi setiap warga negara (tanpa kecuali) dari keterpaksaan-keterpaksaan yang harus dilakukannya?

  5. Hehehehehehehe………..lucuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu………….!!!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: