• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Nasib Jemaat Ahmadiyah di daerah

“Ada lebih seratus wanita tua muda dan anak2 yang hidupnya dibawah standard kesehatan Lombok, karena sudah lebih 2 tahun mereka tinggal di Transito.

Di Manislor ada sekitar 2000 perempuan tua muda dan anak hidup dibawah ancaman terror selama 2 tahun, mereka selalu gelisah, khawatir dan ketakutan jika sampai terjadi kekerasan, bentrokan akibat adanya penyerangan kembali.”

Begitulah sebagian potret para anggota Jemaat Ahmadiyah sebagaimana yang diceritakan seorang sahabat.

Apakah negara tidak mempedulikan mereka, yang juga adalah warga negara Indonesia, yang telah menjadi korban selama bertahun-tahun? Apakah suara korban hilang dan yang ada hanya suara para penentang yang mengatasnamakan mayoritas yang begitu jumawa memandang kemayoritasannya? Mengapa media massa hanya mengangkat isu konflik Ahmadiyah tanpa pernah mengangkat sisi-sisi kemanusiaan yang melintasi sekat-sekat perbedaan keyakinan?

Haruskah saling bunuh karena berbeda keyakinan? Haruskah membuat begitu banyak orang dan anak-anak terusir dari rumahnya dan hidup dalam ketakutan karena mereka dinilai sesat oleh manusia?

Apakah para penentang Ahmadiyah pernah memikirkan ibu dan anak-anak korban penyerangan dan intimidasi yang mereka lakukan? Jangan-jangan tidak…. jangan-jangan dalam keyakinan mereka hanya ada kata sesat, serang, usir, bunuh… jangan-jangan mereka memandang para Jemaat Ahmadiyah hanya seonggok daging yang bebas ditumpahkan darahnya dan diperlakukan apa saja…

Bukankah mereka juga manusia seperti kita dan keluarga kita?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: