• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Membandingkan Ahmadiyah dengan Hizbut Tahrir

Ada artikel menarik di The Jakarta Post yang membandingkan antara Ahmadiyah dengan Hizbut Tahrir. Ahmadiyah yang memiliki keyakinan khas yang berbeda dengan keyakinan mainstream Islam diperbandingkan Hizbut Tahrir yang juga memiliki keyakinan berbeda karena keyakinannya memperjuangkan bentuk Kekhalifahan Islam.

Dua kelompok itu berbeda keyakinan, sekaligus berbeda nasib. Jemaat Ahmadiyah yang tidak pernah melakukan ancaman kekerasan, bahkan bersemboyan “Love for all, hatred for none” diancam pelarangan di Indonesia. Sebaliknya, Hizbut Tahrir yang memperjuangkan politik untuk mengganti dasar negara Indonesia dengan konsep Kekhalifan justru bebas melenggang, bahkan menikmati dukungan dari pembesar Islam di Indonesia.

Ini ironik. Berikut ini artikel selengkapnya:

Comparing the Ahmadiyah and the Hizbut Tahrir

Opinion and Editorial – April 16, 2008

Bramantyo Prijosusilo, Ngawi, East Java

Followers of Ahmadiyah believe their leaders are rightly guided Caliphs and their congregations of faithfuls constitute a Caliphate. The Hizb ut Tahrir al Islami (the Islamic Party of Liberation, HT for short) is also preoccupied with the idea of a Caliphate, a State with its own constitution, armed forces and geographical boundaries.

Where as the Ahmadiyah seek to convert people into believing in the Ahmadi version of Islam, which maintains Mirza Gulam Ahmad was the promised Messiah, the HT also attempts to convert people into believing their own version of Islam, which prescribes the struggle to establish a physical Caliphate as a wajib, or fundamental obligation, for Muslims.

Both peculiarities are unique to their groups and represent a ‘deviation’ from the traditional mainstream Islamic thought. HT was founded in 1953 in Jerusalem by Taqiuddin al-Nabhani, and is banned in many Islamic countries but has supporters in high places in Jakarta. Ahmadiyah is also banned in many countries and has no open supporters among the elite in Indonesia.

Although Islamic traditions state the Messiah will descend sometime before the end of the world, not many Muslims believe he has already arrived and departed in the form of Mirza Gulam Ahmad in India before its partition.

Similarly, although Islamic tradition does note early Muslims after the death of the Prophet were organized under the banner of a Caliphate, most Muslims also believe the establishing of a Caliphate is not a religious duty, and that any form of State is fine as long as it promotes justice and allows the practices of Islam and doesn’t prosecute Muslims because of their faith.

Most modern Muslims believe secular democracy is better than any form of government yet invented and refer to the process of electing Abu Bakar as the first Caliph after the Prophet’s death as the precedence for democracy in Islam.

Of course, there are some fundamental differences between the Ahmadiyah and the HT. The main difference is the HT aims to establish a political Caliphate.

Everywhere the HT is active, it denounces democracy as a Western vice. A glance through HT websites impresses upon the reader a hatred for Jews and the West, who are portrayed as evil controllers of the world that can only be dealt with through the establishment of a Caliphate. In contrast, the Ahmadiyah websites proclaim their motto “Love for all, hatred for none” and do not aim to overthrow any government or form any State whatsoever.

Both the Ahmadiyah and the HT are prosecuted and banned in many countries, but for different reasons. The HT is banned in many Middle Eastern countries because it is hostile toward the governments and aims to overthrow the State. In some European Union countries, the HT is banned because it breeds anti-Semitic and extremist views, and several European terrorists were found to have links to the HT and to possess substantial amounts of HT literature. The Ahmadiyah are banned in some Islamic countries because they are judged as deviating from ‘true’ Islam, especially in their faith in Mirza Gulam Ahmad being the promised Messiah.

In Indonesia, the MUI organization of clerics has called for the Ahmadiyah to be banned, and several Islamic organizations have viciously attacked and closed down Ahmadiyah mosques. The Indonesian chapter of the HT, in contrast, enjoys tacit support from some ministers and overt support from hard organizations.

One might be tempted to ask, if Ahmadiyah preaches love for all and hatred for no one, and HT preaches hatred for democracy and calls for the overthrow of existing States, why is it that in Indonesia, the establishment is more worried about Ahmadiyah than it is concerned about the anti-democracy ideology of the HT? Why are there cabinet ministers who overtly and tacitly support the anti-democracy, theocratic, ideology that aims to overthrow the State to replace it with their version of a Caliphate? Does that not sound like hypocrisy?

Further more, one might want to examine whether HT’s version of establishing a Caliphate is truly as Islamic as they claim. Though HT activists are taught their strategy is to follow the example of the Prophet, many ex-activists, such as the British writer Ed Husain have pointed out that HT has a lot to thank Lenin and Trotsky for. While Muhammad taught a religion, HT seeks political power using Leninist methods. The HT goes on and adopts a Trotskyist, internationalist vision.

Maybe because Lenin’s thoughts have for decades been banned here, no one has actually pointed out the Leninism in HT’s methods, because no one is sure what Leninism is. The HT seeks, just like the Bolsheviks, to firstly develop a core of firm believers that communicate clear and simple slogans to the masses, and when the time ripens, one day seize power and establish their Caliphate (Soviet).

Then from that Caliphate, like falling dominoes, their ideology will spread throughout Islamdom. Eventually the Caliphate will convert the whole world through jihad and da’wah. Just because they wrap their Leninist ideas in Islamic jargon it doesn’t mean that Leninism isn’t there. The rank and file of the HT is unlikely to be aware of their debt to Lenin but a debt there certainly is.

Both the Ahmadiyah and HT seek to convert people to believing their version of Islam, but while the first is concerned with the spiritual aspect of life, the second is concerned with the political aspect. One would be happy to see the Republic of Indonesia prosper and flourish, while the other would succeed only once it had overthrown the Republic and established a Caliphate in its place. Which is more dangerous for the nation?

Link: The Jakarta Post

11 Tanggapan

  1. menarik tuh🙂

    salam ajah

  2. yang ironis justru saat ada orang yang menganggap sebuah ironi bahwa pemerintah mencoba menjaga kemurnian islam

  3. komunisme, leninisme, marxisme dilarang. tetapi khilafahisme dilarang gak? pemerintah goblok nan tolol.

  4. Setuju, saia prihatin dengan Hisbutahrir

  5. karena sesungguhnya yang jauh lebih berbahaya adalah Hisbutahir … ingin mengganti dasar negara dan membuat kekalifahan yang nyata sudah ketinggalan zaman

  6. Caliph and prophet are very different, aren’t they?

    Tapi saya setuju kalau kadang ketetapan pemerintah soal agama sulit dinalar…

  7. Sebuah logika sederhana memang:

    Mengapa pemerintahan yang bukan berdasarkan agama tertentu lebih sibuk mengurusi soal perbedaan keyakinan dalam agama tertentu daripada soal makar ya?

  8. Ah, mungkin karena pemerintah sangat religius. *berusaha berbaik sangka*

  9. banyak aliran agama yang berbeda di negara ini, misalnya Katolik dengan Protestan; kenapa pemerintah tidak membubarkan salah satu ?

    http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/04/23/negara-tidak-berhak-membubarkan-ahmadiyah/

  10. Bagi yang lebih peduli urusan akhirat, perkara akidah (Ahmadiyah vs Islam) lebih penting. Bagi yang lebih peduli urusan dunia, perkara politik (Hizbut Tahrir vs negara) lebih penting. Sederhana saja, beda orang beda pendapat.

  11. Pernyataan Jujur Para Tokoh Tentang Ahmadiyah

    Bung Karno,
    Proklamator Kemerdekaan RI dan
    Presiden RI Pertama:
    “Maka oleh karena itulah, walaupun ada beberapa fasal dari Ahmadiyah tidak saya setujui dan malahan saya tolak,….., tokh saya merasa wajib berterima kasih atas faedah-faedah dan penerangan-penerang an yang telah saya dapatkan dari mereka punya tulisan-tulisan yang rasional, moderen, broad minded dan logis itu”. (Di Bawah Bendera Revolusi : 346; Sinar Islam, Januari 1984 : 57 )

    Dr. H.A.Karim Amarulah,
    Ulama dan Tokoh Pergerakan Kemerdekaan RI,
    Ayah Prof. Dr. Hamka :
    “Diatas nama Islam dan kaum Muslimin se-Dunia kita memuji sungguh kepada pergerakannya Ghulam Ahmad tentang mereka banyak menarik kaum Nasrani (Kristen) masuk agama Islam di tanah Hindustan dan lain-lain tempat…..”. (Al Qaulus-Shahih : 149; Ibid )

    Prof. Dr. Hamka,
    Ulama dan Ketua MUI pertama :
    “Adapun kaum Ahmadi (Ahmadiyah), dan usahanya melebarkan Islam di benua Eropa dan Amerika, dengan dasar ajaran mereka, faedahnya bagi Islam ada juga. Mereka menafsirkan Qur’an ke dalam bahasa-bahasa yang hidup di Eropa. Padahal zaman 100 tahun yang lalu masih merata kepercayaan tidak boleh menafsirkan Qur’an. Penafsiran Quran dari kedua golongan Ahmadiyah itu membangkitkan minat bagi golongan yang mengingini kebangkitan Islam ajaran Muhammad kembali buat memperdalam selidiknya tentang Islam…..”. (Pelajaran Agama Islam, Cet. I : 199; Ibid )

    Muhammad Akram M.A.,
    Cendekiawan Muslim :
    “Pengaruh Jemaat Ahmadiyah memang jauh sekali. Ini disebabkan kepercayaan Pendiri Jemaat Ahmadiyah dan pengikutnya, bahwa jihad dengan pedang bukanlagh masanya sekarang. Yang diperlukan ialah jihad dengan pena, jihad dengan lisan dan tulisan. Pendirian mereka ini tidak sejalan dengan pendirian umat Islam lainnya, tetapi hakikat yang nyata ialah, kemampuan jihad dengan pedang tidak ada pada Ahmadiyah dan tidak pula terdapat pada umat Islam lainnya. Karena kepercayaan umum umat Islam terhadap jihad dengan pedang itu, maka akhirnya jihad ‘am dan dakwah pun tidak dilakukan. Orang Ahmadiyah yang mengakui jihad dengan dakwah itu merekalah yang melakukannya dengan menganggapnya sebagai kewajiban. Di sini mereka berhasil dan sukses”. (Maud-i-Kauthar, 193-194; Ibid )

    Prof. Drs. K.H. Hasbullah Bakry S.H.,
    Ulama dan Cendekiawan Muslim :
    “Menurut pendapat saya, adalah suatu kesalahan yang amat besar telah dilakukan oleh Majlis Ulama kita baru-baru ini tanpa mendengar lebih dulu pendapat ulama lain, menyatakan Ahmadiyah bukan Islam (hal ini pasti bertentangan dengan ayat Alquran An-Nisa:94 yang mencegah kita mengkafirkan sesama Islam).

    Kalau kita tidak boleh mengkafirkan golongan Syi’ah, begitu juga kita tidak boleh mengkafirkan golongan Ahmadiyah, sebab mereka tetap masih mengaku Islam dengan iman Islam. Kiranya para Ulama di Indonesia dapat menempati posisinya yang benar dalam membangun bangsa dan negara, amien”. (Kiblat, No.16/XXVII, hal 26 ).

    Sumber : http://putradarweisy.blogspot.com/2009/05/pernyataan-jujur-para-tokoh-tentang.html

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: