• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Ahmadiyah diperintahkan hentikan kegiatan

Rabu (16/4/2008), Bakor Pakem mengadakan rapat membahas Ahmadiyah. Keputusan Pakem, Ahmadiyah dinilai tidak mengikuti kesepakatan yang sudah dibuat sebelumnya. Oleh karena, Bakor Pakem merekomendasikan agar warga Ahmadiyah diperintahkan dan diberi peringatan keras untuk menghentikan kegiatannya.

Peringatan itu akan dituangkan dalam bentuk SKB (Surat Keputusan Bersama) antara Menteri Agama, Kejagung, dan Depdagri. Apabila perintah dan peringatan keras itu tidak diindahkan, maka Bakor Pakem merekomendasikan pembubaran Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI).

Keputusan Bakor Pakem ini menjadi babak baru sikap negara terhadap agama. Pemerintah memasuki wilayah keyakinan warga dan melakukan intervensi pada agama/keyakinan tanpa melalui proses peradilan.

Keputusan ini memberikan preseden tunduknya negara pada lembaga ekstra yudisial, yaitu fatwa MUI, yang tak memiliki tempat pada hukum tatanegara Indonesia. Pidato SBY yang pernah menyatakan akan tunduk pada fatwa MUI telah memberikan ruang legitimasi untuk proses tekanan massa dalam pelarangan Ahmadiyah ini.

***

It’s bad. Pemerintah mengira bahwa ini adalah solusi yang menjamin stabilitas negara. Tapi aku meragukannya. Sekali ancaman massa dimenangkan daripada proses hukum dan pegangan pada sendi-sendi negara, spiral ancaman itu bukannya menurun, tapi justru akan semakin membesar. Mereka akan terus mencari bentuk-bentuk yang semakin ekstrem untuk mengancam pemerintahan yang lemah dan tak berani menegakkan prinsip Konstitusi.

Hari ini, Jemaat Ahmadiyah menerima ancaman yang kelihatannya cukup serius, disertai dengan rencana serangan ke Ahmadiyah di berbagai kota. Menyimak ancaman Sobri Lubis (Sekjen FPI) pada ceramahnya di Banjar, yang menyerukan perintah bunuh kepada Jemaat Ahmadiyah di mana pun berada, bukan tidak mungkin konflik horizontal akan terjadi. Kita semua berharap konflik dan penganiayaan terhadap Jemaat Ahmadiyah tak terjadi sebagaimana di Pakistan.

Tapi, keputusan pemerintah NKRI yang lemah ini membuat kita perlu was-was. Bukan mustahil dan jangan heran jika Taliban dan Talibanisme suatu saat menyeruak di Indonesia.

Link: Berita DetikCom

Satu Tanggapan

  1. […] minta pemimpin Ahmadiyah diadili Ditulis pada April 16, 2008 oleh sumardiono Bola liar keputusan Bakor Pakem untuk mendorong pelarangan Jemaat Ahmadiyah terus bergulir. MUI yang selama ini berada di awal dan di depan dalam usaha melarang Jemaat […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: