• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Di balik tewasnya Madi (Mahdi) di Selena, Palu

Terbunuhnya Madi, seorang pemuda yang dianggap pemimpin kelompok sesat di Selena, Palu, meninggalkan berbagai pertanyaan. Yang ada hanya versi sepihak dari polisi yang mengisahkan Madi sebagai pemimpin kelompok sesat yang melakukan perlawanan kepada polisi sehingga ditembak mati.

Berikut ini cerita seorang aktivis hukum/HAM yang pernah melakukan investigasi mengenai Madi. Semoga bisa menambahkan kelengkapan informasi, perspektif dan sudut pandang.

Soal kasus Madi di Palu, dulunya (tahun 2005) saya bersama dengan teman-teman LPSHAM mengadvokasi kasus ini termasuk 9 orang pengikutnya yang saat ini divonis 5 s/d 9 thn.

Kasus Madi menjadi sesat ketika nama Madi di tambahkan “H” menjadi MaHdi sehingga dikatakan sesat. Tidak satupun fatwa atau sk dari Depag dan MUI tentang aliran ini sesat, ini hanya statemen polisi dalam memuluskan aksi pengejaran madi yang ditetapkan sebagai DPO kasus terbunuhnya 3 perwira polresta palu pada tgl. 25 Oktober 2005. hanya pernyataan Din Syamsuddin sat itu yang menambahkan huruf “H” menjadi mahdi.

Madi adalah pemuda dari desa yang terisolasi dan angat terbelakang karena diskriminasi pembangunan pemerintah. madi salah satunya pemuda terpelajar dari Dusun Salena, sempat kuliah di STAIN Datokaramah Palu. Karena ilmu di kampus yang dimiliki mulailah dia mengajarkan penduduk salena tentang ilmu-ilmu sosial dan agama. Karena dia dianggap terpelajar maka dia dipanggil sebagai guru oleh warga setempat. Ada beberapa keistimewaan Madi lainnya, dia mampu menyembuhkan orang yang diyakini oleh orang suku kaili sebagai ritual Balia, ritual adat menyembuhkan org sakit. Madi memang diakui oleh warga setempat bisa menyembuhkan warga yang sakit, tetapi halnya adalah memang akses warga atas pendidikan dan kesehatan yang murah menjadi barang mahal bagi warga yang akses ekonominya terbatas. Madi memberikan alternatif bagi kesulitan warga.

Untuk kasus 25 Oktober 2005, beradasrkan hasil investigasi teman-teman di LPSHAM, kami melihat bahwa ada pendekatan yang salah secara prosedural oleh polisi dalam menghadapi madi dan kelompoknya. Karena didatangi dengan sejumlah polisi yang berpakai seragam, senjata lengkap, madi menganggap dirinya akan diserang atau disangkakan kriminal. Warga yang bersama Madi kaget karena memang mereka sangat jarang berhadapan dengan peradaban luar (didatangi oleh orang luar dan berkomunikasi) apalagi warga salena tidak bisa berbahasa indonesia. Saat itulah terjadi bentrok antara madi dan pengikutnya dengan polisi dari Polresta Palu. Peristiwa itu menyebabkan tewasnya 3 orang perwira polresta palu (Kasat Intel dan Samapta) dan seorang lainnya luka. Dan seorang dari pengikut Madi juga tewas tertembak. selanjutnya 10 warga salena yang disangkakan sebagai pengikut madi tertangkap, LPSHAM yang mendampingi warga ditingkat penyidikan dan persidangan sampai pada tingkat kasasi baru baru ini. 8 warga divonis 9 tahun dan 1 warga divonis 5 tahun sedangkan yang satu lagi bebas klarena tidak terbukti. Fakta selama persiadangan ke-9 warga tsb tidak terbukti bersalah membunuh ke 3 perwira polisi, dia hanya dituduh ikut serta dimana pelaku utamanya Madi yang ditetapkan sebagai DPO pOlisi. dalam persidangan juga tidak diakui adanya keterangan bahwa mereka semua adalah pengikut ajaran sesat yang dipimpin oleh madi.

Selanjutnya pasca peristiwa 25 Oktober 2005, respon pemerintah yang seakan-akan memang betul madi dan pengikutnya penganut aliran sesat, Dari Depag dan MUI kemudian membuat program dakwa, mengislamkan orang-orang salena. sebuah tindakan yang sesat tentunya cara-cara pemerintah seperti ini…. Listrik dan infrastruktrur jalan mulai diperbaiki karena di salena proyek desa tertinggal juga ternyata dikorupsi.

Saat proses penyidikan di Mapolda Sulteng, 10 orang warga salena yang ditetapkan sebagai tersangka disiksa oleh polisi. Kami saat LPSHAM mengadvokasi kasus penyiksaan ini kemudian Kapolda saat itu memerntahkan propam polda sulteng utk memeriksa polisi yang melakukan penyiksaan. terbukti adanya dendam polisi kepada madi dan masyarakat salena.

Setelah 2,5 Tahun menjadi buron polisi, madi ditembak disalah satu gubuknya di perbukit an salena. Madi ditembak oleh satuan khsusus Densus 88 Polda Sulteng yang mengintai dia selama 4 hari. Bersama madi ditangkap 3 orang salah satunya perempuan (ibu dari pendi, ketua RT Salena) Kemarin teman-teman LPSHAM sdh mendampingi dan membebaskan 3 org warga salena yang ditangkap tsb.

Tentang penembakan madi, berdasrkan informasi dari teman-teman aktivis LSM dan wartawan yang berada di TKP setelah peristiwa, saya simpulkan beberapa keganjilan, diantaranya; Lokasi / TKP tidak diisolasi atau dipasangkan police line, secara prosedural, TKP harus diisolasi agar menghindari kerusakan barang bukti, dsb. Saya menduga kondisi ini dibiarkan agara penyelidikan terjadinya kesalahan prosedural polisi terhadap penembakan madi mengalami kesulitan atau validitasnya berkurang. Bhakan informasi yang berkembang, polisi memerintahkan untuk mebongkar gubuk-gubung warga salena yang berukuran 2×2 meter. kondisi ini juga terjadi saat peristiwa 25 oktober 2005, polisi membakar rumah-rumah warga salena, ini juga bukti kalau balas dendam.

Kondisi mayat Madi, menurut beberapa informasi, polisi melakukan pemberondongan. Keteragan dari LSM di palu menyatakan ada 30 peluru atau amunisi yang diberondongkan dan ditemukan 18 slongsong di TKP. Dugaan ini menurut saya bisa berkurang atau bertambah mengingat projectil bisa saja recoset (mantul). Informasi dari teman2 wartawan di palu, foto yang diperlihatlan oleh polisi ke mereka terlihat ada 5 luka yang diduga bekas tembakan. Namun juga wartawan melihat ada luka lain yang diduga bukan karena tembakan karena seperti luka sayatan. Saya berpendapat bahwa mungkin saja, tembakan ke tubuh Madi hanya melumpuhkan, luka sayatan lainnya ditubuh yang diduga sebagai bentuk penganiayaan. Kalo dugaan ini terjawab, polisi terbukti melakukan penyiksaan yang menyebabkan meninggalnya Madi.

Kasus Madi memang memunculkan kontroversial, paling tidak bagi warga di Palu. Tuduhan sesat seakan membenarkan tindakan brutal polisi terhadap warga miskin salena. Pasca Oktober 2005 begitu banyak informasi yang muncul lalu hilang begitu saja. Dari kalangan LSM dan Peneliti mengatakan di sekitar salena akan dibangun lapangan tembak (latihan) polisi, dikawasan salena ada potensi tambang dll…. tapi entah….. isu./info itu menghilang, mungkin akan muncul lagi karena madi tertembak, kasus salena hangat lagi.

Saya kira perlu satu tindakan untuk menelusuri kasus ini secara mendalam, misalnya investigasi. Dugaan-dugaan dari informasi yang ada saya kira perlu diperivikasi agar tidak menimbulkan anasir-anasir yang juga merugikan bagi madi dan warga salena. Yang paling penting memberikan pelajaran bahwa menyesatkan ajaran atau keyakinan orang lain tidak dibenarkan untuk melegalkan tindakan brutal. seperti yang dilakukan oleh polisi di Salena. ini hanya share dan usulan saja.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: