• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Seputar terbunuhnya Madi di Sulsel

Dari DetikCom kita membaca berita mengenai terbunuhnya Madi, pemimpin sebuah komunitas adat di Sulawesi Selatan yang dianggap kelompok sesat. Kelompok ini diftawakan sesat oleh Majelis Ulama Islam (MUI) Sulawesi Tengah dan pernah mengalami bentrok dengan polisi.

Kita tidak memiliki informasi apapun mengenai kelompok Madi dan kematiannya. Yang kita terima hanya versi resmi dari polisi. Media massa pun tampaknya tidak terlalu tertarik untuk menelusuri “kelompok yang dianggap tidak penting ini”.

Malam ini, dari milis AKKBB aku menerima sebuah posting mengenai peristiwa Madi menurut versi lain. Aku ikut prihatin dengan kekerasan-kekerasan yang terjadi di masyarakat.
“Membunuh satu manusia sama dengan membunuh seluruh manusia. Menyelamatkan satu manusia, sama dengan seluruh manusia.”

Pengurus Besar Aliansi Masyarakat Adat Nusantara [PB AMAN]
Pernyataan Sikap AMAN atas Kekerasan yang terjadi di Dusun Salena, Palu Sulawesi Tengah

Pada hari Minggu, 6 April 2008, Masyarakat Adat di Dusun Salena harus kembali mengosongkan desanya dan lari ke dalam hutan karena takut. Pengosongan desa ini di picu oleh tindakan kekerasan yang dilakukan satuan elit Polri Detasemen Khusus 88 anti teror, yang menembak mati Madi karena dianggap melakukan tindakan kriminal dan menyebarkan ajaran sesat berdasarkan “fatwa” yang dikeluarkan Majelis Ulama Islam Sulawesi Tengah. Keluarnya fatwa tersebut disusul dengan publikasi yang ramai tentang adanya sekelompok penganut “ajaran sesat”, di anggap telah memicu terjadinya tindakan kekerasan dan ancaman yang berlanjut terhadap masyarakat adat di Dusun Salena.

Berdasarkan informasi dari lapangan, Madi tewas diterjang peluru dan 1 orang bernama Asminah dinyatakan hilang. Sementara tiga orang warga Salena masih berada dalam tahanan Kanit III, Densus 88 POLDA Sulteng, yakni Ulmin (laki), Aminudin ( Laki) dan Sania (perempuan). Hingga kini belum diketahui berapa korban dalam aksi penyergapan. Karena selain korban jiwa, diperkirakan masih ada sejumlah korban luka tembak lainnya yang belum diketahui keberadaannya hingga kini.

Penanganan kasus Madi oleh Densus 88 anti teror ini, kami anggap terlalu berlebihan, karena Madi bukanlah seorang “teroris” yang menggunakan metode kekerasan dalam menjalankan keyakinannya. Madi adalah seorang guru silat biasa yang tidak merakit bom dan menenteng senjata organik. Sehingga tidak sepatutnya Densus 88 Anti Teror yang melakukan penangkapan secara langsung. Dan hingga hari ini, informasi tentang prosedur penembakan Madi masih menjadi misteri.

Menyikapi perkembangan situasi, terutama keprihatinan dan kekhawatiran akan makin buruknya kekerasan fisik maupun mental yang menimpa masyarakat adat dari Dusun Salena, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menyatakan:

1. Meminta Otoritas Agama-Agama besar dan segenap lapisan masyarakat serta media agar secara proaktif mendorong pulihnya situasi di Salena dan mencegah berkembangnya kekerasan oleh Negara maupun oleh kelompok masyarakat lain terhadap warga Dusun Salena melalui pemberitaan yang proporsional tentang situasi yang sesungguhnya;
2. Mendesak Pemerintah Pusat dan Daerah untuk menjamin kebebasan mengekspresikan agama, kepercayaan, dan budaya/adat istiadat masyarakat adat, sepanjang tidak mengganggu hak asasi orang atau kelompok orang lain melalui tindakan pemaksaan dan atau kekerasan sebagaimana diatur dalam UUD 1945 dan UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia;
3. Mendesak Pihak Kepolisian untuk Menjelaskan kepada masyarakat luas, alasan sesungguhnya penanganan kasus Madi oleh satuan elit Polri Detasemen Khusus 88 Anti Teror, dan kenapa terjadi penembakan?
4. Secara khusus, kami meminta KOMNASHAM untuk melakukan investigasi secara mendalam dan obyektif atas kasus ini.

Jakarta, 7 April 2008

Pengurus Besar Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PB AMAN)

Abdon Nababan
Sekretaris Jenderal

3 Tanggapan

  1. jangan pernah tanya2 ttg hal itu.
    ssssssssttt…
    udah, diem aja.
    kalo MUI udah bilang sesat, ya udah, diem aja.
    jangan bilang2 ya.
    MUI itu wakil Tuhan di bumi ini…sebagian anggotanya adalah malaikat!
    sssssttt…
    skali lagi, jangan bilang2 ya…

  2. […] balik tewasnya Madi (Mahdi) di Selena, Palu Ditulis pada April 9, 2008 oleh sumardiono Terbunuhnya Madi, seorang pemuda yang dianggap pemimpin kelompok sesat di Selena, Palu, meninggalkan berbagai […]

  3. Madi itu kan bukan sesat, tetapi menjalankan kegiatan religi nya sendiri (bukan Islam atau agama formal lainnya). fatwa MUI mungkin kurang tepat dilihat dari sisi term “sesat”. Madi bukan Islam. Yang harus dipertanyakan adalah MENGAPA Madi melarang orang Islam shalat dan puasa? Itu kan tidak toleran namanya. Mungkin dengan alasan itu polisi bergerak untuk menahan kegiatan intoleransi itu. Apabila kemudian Madi tertembak mati, yaa itu konsekuensi karena dia dan anak buahnya menculik dan membunuh (memenggal) anggota polisi. Polisi pasti marah lah. Rumus umumnya kan begini: kamu bunuh polisi, kamu pasti dibunuh polisi. Sudah banyak kejadian yang membuktikan rumus umum itu. Apakah sikap kepolisian itu benar atau tidak, tergantung dari sudut kita melihatnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: