• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Jangan terprovokasi film Fitna

Umat Islam sedang dalam ujian. Sikap mereka akan menjadi penentu kualitas spiritualnya. Ujian itu berasal dari film Fitna, besutan Geert Wilders. Setelah diputar dan ditautkan di liveleak, film itu mendapat tentangan keras dari berbagai penjuru dunia.

Ini adalah proses pendewasaan dunia, sekaligus pendewasaan umat Islam. Jangan sampai, umat Islam terprovokasi seperti pada kasus kartun Nabi Muhammad beberapa waktu yang lalu yang sampai menimbulkan beberapa korban jiwa saat demonstrasi. Soal hukum dan politik, selesaikan secara beradab. Jangan sampai umat Islam terpicu melakukan kekerasan.

Apakah umat Islam bisa menahan diri dan bersikap moderat? Mudah-mudahan.

Sebab, banyak hal yang selama ini sudah merusak Islam bersumber dari kekerasan yang dilakukan mengatasnamakan Islam. Teologi kekerasan oleh para ekstremis Islam yang tak kunjung berhenti memang menjadi ancaman buat peradaban manusia.

Tentu saja, ada kontribusi Amerika di dalam kekerasan itu. Tapi, tak alasan secara spiritual untuk menyelesaikan masalah dengan membiarkan lingkaran kekerasan membekap kita. Apalagi kalau kekerasan itu disandarkan pada Allah dan ajaran Islam.

Delegitimasi teologi kekerasan adalah salah satu PR umat Islam yang membutuhkan perjuangan besar. Sebab, sejarah Islam sejak awal tak pernah lepas dari konflik-konflik kekerasan yang dicarikan legitimasinya dalam ajaran Islam. Membersihkan hal ini tentu saja bukan pekerjaan yang mudah, tapi harus dilakukan.

Kalau umat merespon dengan kekerasan, hal itu hanya semakin menguatkan antipati terhadap Islam. Jadilah, antipati terhadap Islam akan semakin menjadi-jadi. Tapi kalau umat Islam bisa merespon dengan dingin, apapun yang dikatakan orang tak akan mempengaruhi ajaran Islam dan kemuliaan Tuhan.

Semoga tidak terjadi kekerasan. Semoga antipati terhadap Islam tidak semakin meluas.

Satu Tanggapan

  1. Apakah penulis sudah memastikan bahwa ada teologi kekerasan (dlm Islam)?
    Sok tahu ah! Itu pasti hasil penafsiran penulis saja.
    Semua kekerasan yg tdk pada tempatnya (spt teror thd orang2 yg tdk bersalah dsb) tdk mendapat tempat dlm sistem kepercayaan Islam. Tetapi kekerasan dlm konteks utk membela yang benar (spt melepaskan diri dr belenggu penjajahan) tentu ada landasannya dlm Islam bahkan juga di seluruh sistem kepercayaan manapun.
    Tolong buka lagi donk referensi yang memadai ttg Islam, jgn asal tulis saja.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: