• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Perusakan Pura Sangkareang Lombok Barat

Adduh… peristiwa intoleransi dan kekerasan atas nama agama tak ada habisnya. Ada laporan dari teman-teman di Mataram mengenai perusakan Pura Sangkareang di Keru-Lombok Barat oleh sejumlah massa.

Berikut ini kronologi peristiwanya.

Kronologis kejadian
Perusakan Pure Sangkareang Di Keru Lombok Barat

– Sabtu, 12 Januari 2008
Secara tiba-tiba (tanpa pemberitahuan sebelumnya) Camat Keru Lombok Barat beserta kepala desa dan sejumlah tokoh masyarakat mendatangi lokasi pure Sangkareang di Keru Lombok Barat sekitar pukul 10.00 Wita. Mereka diterima pengurus pure, ketua renovasi pure dan panitia acara Pujewali di pure tersebut (Acara Pujewali rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 18 Januari 2008-hari ini).

Camat datang dengan mengaku ingin menanyakan beberapa hal terkait informasi yang ia terima dari masyarakat. Informasi tersebut diantaranya pertama: acara Pujewali yang akan dilaksanakan di Pure Sangkareang disertai dengan penyembelihan babi secara besar-besaran. Kedua: informasi bahwa acara itu akan dihadiri juga oleh ummat Hindu di luar Lombok seperti Bali. Ketiga: ada isu material pembangunan pure yang batal dilaksanakan di kaki Gunung Rinjani telah dipindahkan ke lokasi Pure Sangkareang. Keempat : Isu pure Sangkareang akan menjadi pusat penyebaran agama Hindu di Asia Tenggara.

Keempat isu ini dibantah kebenarannya oleh panitia dan pengurus Pure Sangkareang. Namun sepertinya Kepala Desa Keru tidak puas dengan bantahan tersebut dan merasa perlu membicarakannya pada hari lain dengan rencana akan menghadirkan pihak pemerintah, toma, toga dan masyarakat setempat. Walau kurang setuju, dengan keterpaksaan pihak pure menyepakatinya dan pertemuan direncanakan pada hari Selasa 15 Januari 2008.

– Ahad, 13 Januari 2008 pkl. 14.00 Wita
Melihat adanya ketidakberesan atas kedatangan Camat dan warga secara tiba-tiba itu, pihak pure melakukan rapat dan memutuskan untuk mencari perlindungan ke pihak kepolisian sebagai langkah antisipasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka meminta secara resmi pada Kepolisian Resort Narmada untuk menjaga mereka yang kemudian disetujui dengan dikirimnya 6 (enam) personel polisi yang berjaga malam itu.

– Ahad, 13 Januari 2008 pkl. 22.30 Wita
Sekelompok massa yang diperkirakan berjumlah ratusan menyerbu pure tersebut dan merusak serta membakarnya. Enam aparat polisi yang ada disitu tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan konon para polisi nyaris dikeroyok massa karena mencoba menghalangi. Massa berjumlah besar itu secara leluasa merusak apa saja yang ada di pure tersebut. Tidak ada korban jiwa, tetapi sejumlah ornamen seperti patung-patung serta tempat pemujaan hancur lebur oleh benda-benda keras. Kelambu dan kain sembahyangan nyaris habis terbakar serta tembok dan pembatas roboh..

– Senin, 14 Januari 2008 pkl. 07.30
Pagi-pagi sekali, pure tersebut telah di penuhi wartawan dan polisi. Menurut pengakuan warga yang berhasil kami temui disekitar pure, mereka sama sekali tidak tahu menahu perihal orang yang merusak itu. Mereka hanya mendengar keributan-keributan, ucapan takbir serta teriakan jihad malam itu. Mereka juga tidak mengetahui jumlah persis kelompok massa tersebut. Tapi yang jelas banyak sekitar 100-an orang. Enam polisi yang menjadi saksi perusakan nampaknya akan mejadi kunci pembuka informasi perusakan ini.

– Selasa, 15 Januari 2008
Pengurus PHDI melakukan rapat internal dengan tokoh-tokoh Hindu di kawasan pure tersebut. Sementara di tempat lain di cakranegara, ummat Hndu telah berkumpul sekitar 300-an orang yang berniat “jihad” tandingan melawan aksi semalam. Namun dapat dicegah dengan pertimbangan konflik akan meluas. Tokoh-tokoh Hindu menyarankan agar aksi diarahkan ke KAPOLDA NTB saja. Mereka berhasil melakukan hearing di sana dan mendesak POLDA untuk mengamankan pure tersebut serta acara Pujewali yang akan dilaksanakan 18 Januari 2008.

– Rabu, 16 Januari 2008
Dilakukan rapat yang dihadiri sekitar 50-an yang terdiri dari Camat, PHDI, Kapolres, Kapolsek, FKUB Lobar, toga, toma dan masyarakat. Diskusi berlangsung sepihak. PHDI Dan pengurus pure seakan diadili di tempat dan tidak bisa banyak komentar. Tuntutan sepihak dari Kades dan warga yang kontra melayang di forum itu.

Adapun tuntutannya adalah,

Pertama : Menolak keberadaan pure itu dengan alasan tidak ada ijinnya dari negara perihal pembangunan rumah ibadah.

Kedua: Pure tersebut harus di vakumkan dulu selama status hukumnya belum jelas.

Ketiga : Harus ada SKB dua menteri atas keberadaan pure tersebut.

Oleh tokoh-tokoh Hindu, tuntutan sepihak itu belum bisa diterima dengan alasan, pure tersebut telah ada sejak tahun 1680-an dan sudah melakukan renovasi dua kali pada 1990 dan 2006 yang lalu. Dan renovasi yang ketiga kali ini.

Tidak ada undang-undang yang mengatur, renovasi harus ada ijinnya. Ijin hanya berlaku bagi rumah ibadah yang baru didirikan. Karena tak berhasil menemukan apa solusi tepat. Pertemuan rencananya keeseokan harinya.

– Jum’at, 18 Januari 2008
Belum ada informasi hasil pertemuan lanjutan itu.

Namun di tempat lain, pada pukul 16.00 wita. Sejumlah elemen mahasiswa berkumpul untuk membicarakan hal yang sama. Mereka tergabung dalam Koalisi Kebangsaan Untuk Perdamaian (KKUP) NTB terdiri dari PMII, JARIK Mataram, KMHDI, KMDI UNRAM, PPMI Dewan Kota Mataram, PHDI NTB, Lurah, BEM STAH Mataram, UKM-BKM. Rencananya aksi damai akan dilangsungkan sebagai bentuk keprihatinan mereka pada NTB yang dalam darurat kekerasan. Mereka berencana menuju KAPOLDA NTB, orasi terbuka, menyebarkan selebaran dan press relese serta pernyataan sikap. Diperkirakan aksi akan diikuti sekitar 150-an orang.

TIM Investigasi JARIK Mataram

Satu Tanggapan

  1. […] umat Hindu atas penyerbuan Pura Sangkareang Ditulis pada Januari 19, 2008 oleh sumardiono Penyerbuan Pura Sangkareang (13/1/2008) memicu respon umat Hindu. Pimpinan Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (PP […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: