• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Apakah Ahmadiyah mengkompromikan imannya?

Dari 12 pernyataan yang dikeluarkan Jemaat Ahmadiyah, aku memiliki sedikit renungan dan pertanyaan pribadi.

Apakah pernyataannya mengenai kenabian dan Mirza Ghulam Ahmad itu sesuai dengan keyakinan teman-teman Ahmadiyah? Atau mereka melakukan kompromi dan mengorbankan keyakinannya? Kalau itu memang keyakinan Ahmadiyah, tentu saja tidak masalah. Tapi kalau itu adalah sebuah kompromi iman, ini akan menjadi ganjalan spiritual dengan Tuhan.

Aku tidak ingin sok tahu dan tidak ingin mengajari teman-teman Ahmadiyah soal iman. Mereka pasti tahu apa yang sedang dilakukannya. Tulisan ini adalah refleksi pribadiku, yang kebetulan memang memiliki iman yang berbeda dengan mainstream umat Islam, dianggap sesat, bahkan Bunda Lia dan YM Abdul Rahman yang kuhormati dimasukkan ke dalam penjara.

Iman adalah persaksian pribadi kita kepada Tuhan mengenai kebenaran yang menerpa nurani kita. Iman berbicara mengenai kejujuran dan komitmen terhadap persaksian itu. Apapun, iman dan orang beriman itu memang beresiko. Dan kita telah belajar banyak dari sejarah. Dari sejarah Yesus, kita belajar mengenai pengorbanan Yesus dan para muridnya yang dikejar-kejar dan dibunuh. Dalam sejarah itu kita juga belajar mengenai murid Yesus (Simon Petrus) yang 3 kali berdusta dan mengkompromikan imannya karena tekanan massa.

Dari sejarah Nabi Muhammad, kita belajar mengenai iman Bilal, budak berkulit hitam yang hampir mati disiksa karena keislamannya. Juga, penyiksaan keluarga Ammr bin Yasr yang keji dan berbuah kematian.

Di mana-mana, iman itu beresiko. Jujur di dalam keimanan, kita akan menghadapi tentangan massa yang biasanya cenderung pada status quo dan menghindari konflik. Sementara ingkar/kompromis dalam keimanan, kita akan dihantui oleh ketakutan dan kegelisahan seumur hidup kita. Belum lagi pertanggung jawaban pribadi kita kepada Tuhan.

Apapun; mari menjalankan iman kita dengan jujur dan setia. Menjadi ksatria yang tak takut menempuh derita oleh iman pada kebenaran dan kecintaan kita kepada-Nya.

Satu Tanggapan

  1. iya, memang benar mas komunitas lia eden menurut saya masih lebih baik daripada ahmadiyah…
    alasannya :
    1. komunitas lia eden membentuk sebuah agama baru sendiri tanpa merusak ataupun memparodikan agam islam menjadi sebuah agama baru yang telah dibumbui dengan nabi baru maupun kitab baru. sebab dalam akidah islam tidak ada nabi lagi selain muhammad dan kitab alquran adalah penutup kitab.

    2.ahmadiyah tidak konsisten jika mereka benar beragama.kita tahu sejak dulu ajarannya menganggap mirza ghulam ahmad sebagai nabi dan kitabnya juga tadzkirah. namun ketika mereka terdesak keadaan mengapa malah takut dan membuat pernyataan yang mendukung islam sebenarnya? saya lebih salut pada kelompok eden yang sekalipun dikeroyok rumahnya, dipenjara, diancam mereka tetap pada keyakinannya. ini membuktikan bahwa ahmadiyah ini diragukan sebagai sebuah aliran kepercayaan alias agama. karena tidak konsisten dengan apa yang telah diajarkan pembawanya.

    saran saya sebaiknya mereka membentuk saja sebuah agama baru seperti kelompok eden anda ini terlihat begitu damai tanpa merusak akidah orang lain
    sebab dalam islam ada ayat :
    LAKUM DINUKUM WALIYADIIN ( bagimu agamamu bagiku agamaku ) nah jika ahmadiyah tidak membuat sebuah agama baru tetapi hanya mendompleng kebesaran islam maka mereka tidak berhak diperlakukan seperti ayat diatas. sebab ayat diatas hanyalah ditujukan islam kepada agama lain sedangkan ahmadiyah bukan agama lain melainkan sebuah kelompok yang mencoba mem “PARODI” kan islam

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: