• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Surat FUI kepada Jaksa Agung RI tentang Ahmadiyah

Kaget, begitu respon pertamaku saat membaca surat itu. Membaca surat dari Forum Umat Islam (FUI) kepada Jaksa Agung RI, aku seperti tak lagi mengenali ajaran Islam yang jernih dan santun. Surat resmi itu begitu penuh dengan “ancaman hukuman mati” dan ajaran Islam terlihat begitu konservatif, kalau tidak bisa dikatakan bengis.

Aku sudah lama mendengar wacana-wacana seperti itu. Tadinya aku mengira bahwa wacana seperti itu hanyalah bagian dari kajian fiqh abad-abad lalu yang adanya sebagai bahan kajian di bangku sekolah. Aku tidak pernah mengira bahwa fiqh model semacam itu mengemuka menjadi sebuah mainstream di kalangan umat Islam dan menjadi pernyataan resmi/terbuka yang dinyatakan ke publik.

Tadinya, aku mengira bahwa garis radikal bergaya preman itu hanya milik kelompok radikal Islam yang minoritas dan tak populer di kalangan umat Islam. Tapi begitu melihat surat FUI yang didukung oleh beragam lembaga seperti NU dan Muhammadiyah yang dianggap moderat; dan menjadi bagian sikap keberagamaan PKS, PPP, dan partai-partai lainnya sebagaimana yang disebutkan dalam surat tersebut; rasanya bergidik.

Bagaimana keislaman yang akan berkembang di Indonesia ke depan? Apakah Indonesia akan menjadi seperti Pakistan? Masih adakah Indonesia yang bersendikan Pancasila dan UUD 1945?

Berikut ini surat selengkapnya:

FORUM UMAT ISLAM
Sekretariat: Gedung Menara Dakwah Lantai 3, Jl. Kramat Raya No. 45 Jakarta
Telp. (021) 3909059-3900201; Fax: (021) 3908203-3103693

Kepada Yang Terhormat
Bapak Jaksa Agung Republik Indonesia
Hendarman Supandji, SH
di Jakarta

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Menyusul surat kami tertanggal 11 Sya’ban 1426 H/15 September 2005, berkaitan dengan masalah Aliran Ahmadiyah yang akhir-akhir ini mencuat kembali terkait kasus apa yang disebut dengan “penyerangan masyarakat” atas markas Ahmadiyah di Manis Lor Kuningan dan “segel” yang dilakukan oleh polisi atas sejumlah musholla/masjid Ahmadiyah beberapa waktu lalu, dan opini-opini yang dikembangkan oleh pihak-pihak tertentu yang menyudutkan Fatwa MUI, lembaga MUI, dan masyarakat muslim yang sesungguhnya merupakan korban dan sasaran tindak penodaan agama (penyesatan aqidah) oleh kelompok Ahmadiyah, sebagai pihak-pihak yang dituduh “menzalimi” kelompok Ahmadiyah dan melanggar hak asasi mereka, Forum Umat Islam (FUI) sebagai wadah komunikasi, silaturrahmi, dan koordinasi ormas dan berbagai organisasi Islam lainnya memandang perlu untuk memberikan pandangan dan pendapat kepada saudara Jaksa Agung.

Setelah mencermati secara lebih mendalam tentang :

1. Islam menetapkan bahwa perbuatan murtad adalah tindakan berbahaya dan dilarang berdasarkan firman Allah SWT dalam Qs. Al Baqarah 217. Kita berkewajiban mengajak mereka bertaubat kembali kepada Islam dan apabila tidak mau, maka dikenakan hukuman mati sesuai prosedur syariah, menurut hadits Rasulullah saw. (HR. Bukhari). Oleh karena itu perbuatan murtad tidak bisa dibenarkan dengan alasan kebebasan beragama.

2. Berbagai pertimbangan dan alasan syar’i yang dimuat dalam ketetapan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) hasil Munas MUI VII di Jakarta, pada tanggal 22 Jumadil Akhir 1426 H/29 Juli 2005, yang menegaskan kembali keputusan Fatwa MUI dalam munas ke II tahun 1980 yang menetapkan bahwa aliran Ahmadiyah berada diluar Islam, sesat dan menyesatkan, serta orang Islam yang mengikutinya adalah murtad (keluar dari Islam), yang mengajak mereka dan terlanjur mengikuti aliran Ahmadiyah supaya kembali kepada ajaran Islam yang haq (al ruju’ ila al haqq) yang sejalan dengan Al Qur’an dan Al Hadits; yang menyatakan pemerintah berkewajiban untuk melarang penyebaran faham Ahmadiyah di seluruh Indonesia dan membekukan organisasi serta menutup semua tempat kegiatannya.

3. Hasil rapat Tim Pakem Pusat tanggal 18 Januari 2005 yang dihadiri oleh seluruh Tim Pakem Pusat yang dikoordinir oleh Jaksa Agung Muda Intelijen di gedung Utama lantai 3 Kejaksaan Agung RI yang telah sepakat memutuskan menyatakan bahwa Aliran Ahmadiyah Qodiyani maupun Ahmadiyah Lahore kedua-duanya dilarang di seluruh Indonesia. Hasil rapat Tim Pakem Pusat tanggal 12 Mei 2005 yang telah merumuskan rekomendasi Tim Pakem Pusat tentang pelarangan Ahmadiyah sebagai kelanjutan hasil rapat Tim Pakem tanggal 18 Januari 2005 tersebut disampaikan untuk disampaikan kepada Presiden RI.

4. Surat Penetapan Presiden Republik Indonesia No. 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama pasal 1, pasal 2 ayat 1 dan 2 tentang kewenangan Saudara Jaksa Agung berkaitan dengan pelarangan dan pembubaran aliran sesat yang telah menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama.

5. Bahaya Aliran Ahmadiyah yang secara nyata telah menyimpang dari Islam dengan menyatakan Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi, dan kitab Tadzkirah adalah kitab suci serta Qadiyan dan Rabwah di India dan Pakistan adalah tempat suci dan lain-lainnya, jika dibiarkan pasti akan sangat berbahaya dalam menggerus Aqidah Ummat dan memurtadkan umat Islam serta berbagai dampak yang diakibatkannya berupa konflik horisontal di tengah-tengah masyarakat.

6. Bergesernya masalah Ahmadiyah dari masalah penyimpangan dan pengrusakan aqidah dan keyakinan umat Islam oleh kelompok Ahmadiyah kepada persoalan penyerbuan markas Ahmadiyah yang ditarik kepada persoalan HAM dan pelanggaran HAM sehingga menghilangkan substansi permasalahan yaitu penyalahgunaan dan penodaan agama Islam.

7. Konstitusi menjamin kebebasan beragama bukan perusakan agama. Oleh karena itu negara wajib melindungi umat Islam dari perusakan dan penodaan agama Islam oleh siapapun termasuk yang dilakukan oleh Ahmadiyah. Jika pemerintah tidak melakukannya berarti melanggar konstitusi.

Maka berdasarkan ketujuh poin di atas kami pimpinan organisasi-organisasi Islam tingkat pusat yang bergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) mendukung serta mendesak kepada pemerintah c.q. Saudara Jaksa Agung RI untuk segera melarang aliran Ahmadiyah di seluruh Indonesia dan membekukan organisasi serta menutup semua tempat kegiatannya. Kami juga mendesak Saudara Jaksa Agung segera memberikan rekomendasi kepada presiden RI untuk melaksanakan kewenangan membubarkan kelompok Ahmadiyah dan menyatakan sebagai organisasi dan aliran terlarang dan menyerahkan para anggotanya kepada para ulama dan pimpinan ormas Islam untuk dibina dalam rangka ruju’ ilal haq sesuai fatwa MUI di atas.

Demikian semoga langkah Saudara dan siapa saja yang peduli kepada penjagaan kemurnian ajaran Islam mendapatkan barakah dan pahala dari Allah SWT.

Jazaakumullah khairan katsiira.
Wassalaamu’alaikum Warrahmatullaahi Wabarakaatuh.

Jakarta, 25 Dzulhijjah 1428 H
03 Januari 2008 M
FORUM UMAT ISLAM,

Mashadi K.H. M. Al Khaththath
Ketua Sekretaris Jenderal

FORUM UMAT ISLAM :
Perguruan As Syafi’iyyah, Komite Islam untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhamadiyyah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Syarikat Islam (SI), Dewan Masjid Indonesia (DMI), PERSIS, BKPRMI, Al Irsyad Al Islamiyyah, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Badan Kontak Majlis Taklim (BKMT), YPI Al Azhar, Front Pembela Islam (FPI), Front Perjuangan Islam Solo (FPIS), Majelis Tafsir Al Quran (MTA), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Majelis Adz Zikra, MER-C, PP Daarut Tauhid, Forum Betawi Rempug (FBR), Tim Pembela Muslim (TPM), Muslimah Peduli Umat (MPU), Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI), Korps Ulama Betawi, Forum Tokoh Peduli Syariah (ForToPS), Taruna Muslim, Al Ittihadiyah, Hidayatullah, Al Washliyyah, KAHMI, PERTI, IKADI, Ittihad Mubalighin, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Koalisi Anti Utang, PPMI, PUI, JATMI, PII, BMOIWI, Wanita Islam, Missi Islam, GeMa Pembebasan, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS),Partai Bintang Reformasi (PBR), Partai Nahdlatul Umat Indonesia (PNUI) dan organisasi-organisasi Islam lainnya.

4 Tanggapan

  1. […] Jemaat Ahmadiyah akan berada di bawah pengawasan MUI. Mereka akan dipaksa untuk bertaubat dan kembali ke Islam “yang benar”. Kalau tidak mau, mereka akan difatwakan murtad dan diancam hukuman mati (Berdasarkan surat FUI kepada Jaksa Agung) […]

  2. Hukum matilah orang-orang Islam yang hanya mengaku Islam tetapi sejatinya mereka tidak mengerti dengan Islam, malah hanya merusak Islam. Hukum matilah orang-orang dibawah ini :
    1. Para Koruptor yang mengaku Islam
    2. Para Pejabat yang mengaku Islam dan berzinah
    3. Para Pemimpin yang mengaku Islam tetapi sebenarnya mereka hanya menjadi budak kaum Kapitalis
    Ayo apa tanggapan anda wahai Pembela Islam?

  3. Hukum mati juga para orang Islam yang Oportunis…, setelah semua dihukum mati maka habislah umat Islam

  4. Sejujurnya, sebagai manusia, kita tidak mau dihukum mati. Merekapun akan merasakan hal yang sama.

    Apakah kita akan melakukan “kekerasan” seperti itu?

    Apakah dengan cara lemah lembut [sesuai tuntunan Agama] tidak bisa dilakukan?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: