• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Menjaga Martabat Bangsa

Press release AKKBB pada aksi damai di Kejaksaan Agung dan Mabes Polri, Senin 7/1/2008:

Republik Indonesia dibentuk bukan oleh satu golongan. Republik ini dibentuk dari dan oleh berbagai golongan, kelompok, agama, etnis,yang telah bersepakat bahwa keragaman itulah ruh bangsa ini. Keragaman itulah yang justru mempersatukan kita, bukan menceraiberaikan.

Bhinneka Tunggal Ika, kata kunci yang membuat semua komponen bangsa dan founding fathers kita merumuskan sebuah bangsa

yang disebut Indonesia. Lalu Pancasila dan UUD 1945 disepakati sebagai prinsip dasar dan konstitusi yang menjadi fundamen paling dasar penyelenggaraan negara ini. Di atas tanah air tercinta inilah, atas dasar ideologi Pancasila. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) didirikan untuk melindungi dan menaungi seluruh warganegara, tanpa memandang jenis kelamin, warna kulit, adat istiadat, maupun agama dan kepercayaan.

Belakangan, sekelompok masyarakat tertentu, berdasarkan kepentingan golongan dan kepentingan politik sesaat, berulang kali melakukan tindakan penyesatan, kekerasan, dan bahkan brutalitas kepada sesama anak bangsa dan golongan lain. Kelompokisme, fanatisme, tiba-tiba menjadi tren yang merajalela dan berakibat terancamnya nyawa, terusirnya warga dari rumahnya sendiri, dan hancurnya sendi-sendi keadaban dan harmoni sosial yang selama ini menjadi identitas Indonesia. Perbedaan tiba-tiba menjadi legitimasi untuk mengusir, menghancurkan, merusak, dan bahkan membunuh sesama.

Sebagai bagian dari anak bangsa, sudah saatnya kita menyatakan keprihatinan yang mendalam atas tercabik-cabiknya keutuhan bangsa ini. Sudah saatnya kita terbangun dari keterdiaman kita terhadap ancaman disintegrasi yang makin hari makin mengerikan di negeri ini. Sudah saatnnya kita turut berperan aktif menyarakan perdamaian dan harmoni yang menjadi ruh dan identitas bangsa yang bermartabat. Sudah saatnya kita turut dengan lantang berkata tidak untuk segala bentuk kekerasan, diskriminasi, dan pemberhangusan hak asasi manusia.

Sebagai bagian dari anak bangsa, sudah semestinya kita memberikan dukungan moral terhadap Presiden, Wakil Presiden, dan segenap aparat pemerintah, aparat peradilan, Kejaksaan Agung, Kepolisian, daam menjalankan amanat konstitusi, terutama untuk:

1. Menegaskan bahwa negara kita negara hukum dan konstitusional. Artinya segala proses penyelenggaraan kehidupan berbangsa didasarkan atas konstitusi dan hukum, bukan atas kelompok kepentingan dan golongan tertentu, apalagi yang jelas-jelas anti demokrasi dan menghalalkan kekerasan.

2. Menjamin hak-hak kebebasan dasar (normative) setiap warga negara Indonesia tanpa kecuali.

3. Menunjukkan komitmen tinggi untuk mewujudkan kesetaraan tiap-tiap warga negara di muka hukum, dan terutama dalam menegakkan rule of law.

4. Menolak tegas sikap-sikap dan perilaku intoleransi dan segala bentuk kekerasan.

5. Menjamin penegakan hukum kepada siapa saja yang bersalah tanpa pandang bulu.

Sebagai bagian dari anak bangsa, sudah semestinya kita juga mengingatkan kepada tokoh agama, partai politik, ormas-ormas

dan kelompok keagamaan, organisasi civil society, media massa dan segenap elemen masyarakat, untuk mengedepankan semangat toleransi dan kearifan dalam menghadapi perbedaan-perbedaan dengan orang atau kelompok-kelompok tertentu untuk membenarkan atau turut serta dalam tindak-tindak kekerasan yang menebar rasa tidak aman dan permusuhan antar sesama anak bangsa. Untuk mewujudkan agama sebagai faktor harmoni, bukan disharmoni, pendorong kedamaian, bukan pemantik permusuhan. Untuk tidak memberi pembenaran apapun, terutama dari sisi doktrin dan teologi agama, terhadap setiap tindak kekerasan yang dilakukan oleh

kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama. Untuk berada pada jalur moderasi dan mengambil peran terdepan dalam menumbuhkan semangat toleransi dan perdamaian dalam menghadapi perbedaan apapun.

Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan.

Elemen-elemen pendukung:
Indonesian Conference on Religion and Peace, National Integration movement, The Wahid Institute, KONTRAS, LBH JAKARTA, Jaringan Islam Kampus, Jaringan Islam LIberal, Lembaga Studi Agama dan Filsafat, Generasi Muda Antar Iman, Institut IAN/Interfidei, Masyarakat Dialog Antar Agama, Komunitas Jati MUlia, ELSAM, Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika, Lembaga Kajian Agama dan Jender, Pusaka Padang, Yayasan Tunas Muda Indonesia, Konferensi Waligereja Indonesia, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia, Forum Mahasiswa Ciputat, Jemaat Ahmadiya Indonesia, Tim Pembela Kebebasan Beragama, El_Ai_Em Ambon, Yayasan Ahimsa (YA) Jakarta, Gedong Gandhi Ashram (GGA) Bali, Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Dinamika Edukasi Dasar (DED) Jogjakarta, Forum Persaudaraan Antar-Umat Beriman Jogjakarta, Forum Suara Hati Kebersamaan Bangsa (FSHKB) Surakarta, SHEEP Indonesia Jogjakarta, Forum Lintas Agama Jawa Timur Surabaya, Lembaga Kajian Agama dan Sosial Surabaya, LSM Adriani Poso, PRKP Poso, Forum Mahasiswa Syariah se-Indonesia NTB, Relawan untuk Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (REDHAM) Lombok, Forum Komunikasi Lintas Iman Gorontalo, Krisis Center SAG Manado, Forum Dialog Antar Kita (FORLOK-Antar Kita) Sulawesi Selatan Makassar, Jaringan Antar-Iman se-Sulawesi, LK3 Banjarmasin, Forum Dialog Kalimantan Selatan (FORLOK Kalsel) Banjarmasin, PERCIK Salatiga, Sumatra Cultural Institute Medan, Muslim Institute Medan, PUSHAM UII Jogjakarta, Swabine Yasmine Flores-Ende, Komunitas Peradaban Aceh, Yayasan TIFA, Wahana Kebangsaan, Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) Jawa Timur.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: