• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Agama Masa Depan

Mas Dawam Rahardjo menuliskan artikel menarik di Koran Tempo, 21 Desember 2007, tentang “Agama Masa Depan”. Secara umum gagasannya cukup dekat dengan pesan-pesan Ruhul Kudus di Eden mengenai perenialisme, spiritualitas tanpa agama, dan agama etis.

Agama Masa Depan

Oleh: M. Dawam Rahardjo

Dalam bukunya, The End of Faith (2005, 2004), Sam Haris mengungkapkan bahwa sejarah agama-agama, khususnya agama Smith atau agama Ibrahim yang menamakan dirinya agama langit, adalah sejarah konflik, peperangan, dan pertumpahan darah. Tapi, pada abad ke-21, wajah yang sama mewarnai agama-agama lain, misalnya konflik antara penganut agama Hindu dan Buddha, antara Hindu dan Islam, serta antara Buddha dan Islam. Justru itulah gejala kebangkitan agama-agama yang dimaksud oleh John Naisbitt. Bahkan konflik internal antara mazhab Sunni dan Syiah serta antara Sunni dan Ahmadiyah.

Di sini agama bukan lagi merupakan rahmat sebagaimana diklaim oleh semua agama, melainkan telah menjadi bencana, seperti kata Kimley. Sumber pokoknya adalah klaim eksklusif kebenaran iman atau akidah. Memang, berbagai kasus konflik dan peperangan dilatarbelakangi kepentingan ekonomi dan politik, misalnya di Indonesia, kasus konflik Ambon dan Maluku. Dalam kasus itu, agama hanyalah sumber legitimasi yang dimanfaatkan demi kepentingan politik ataupun ekonomi. Tapi mengapa agama begitu mudah dimanfaatkan? Sebab, agama itu mengandung fanatisme dan masing-masing merasa benar serta dibantu Tuhan masing-masing.

Karena itu, konflik agama atau antarpenganut agama dan konflik yang melibatkan agama selalu sulit dicarikan penyelesaiannya. Ini sangat kentara dalam kasus konflik Poso. Hal ini terjadi lantaran konflik antarpemeluk agama itu selalu melahirkan dendam, karena terjadinya kekejaman, bahkan ketika konflik kepentingan ekonomi dan politik sudah memperoleh solusi yang adil. Selain itu, perbedaan iman atau keyakinan tersebut sulit dikompromikan, sedangkan pertentangan kepentingan ekonomi dan politik dapat dinegosiasi. Apalagi sekarang sudah dikembangkan teori-teori resolusi konflik dalam penelitian peace-research. Tapi metode tersebut belum bisa diaplikasikan untuk mencari penyelesaian yang damai dan adil dalam konflik agama, karena iman itu tidak bisa dikompromikan. Bahkan dialog antar-iman saja masih belum bisa diterima oleh semua pemeluk agama, karena bagi mereka iman atau akidah itu tidak bisa didialogkan. Itulah masalahnya ketika agama telah menjadi bencana.

Penyelesaian masalah agama yang telah menjadi bencana dewasa ini lebih sulit dan lebih rumit lagi, karena berbagai konflik kepentingan ekonomi serta politik di berbagai belahan dunia itu telah melibatkan agama. Konflik kepentingan ekonomi dan politik tersebut selalu dibarengi dengan konflik antarpemeluk agama. Konflik Irlandia Utara disertai dengan konflik antara penganut Katolik dan Kristen, konflik Kashmir juga merupakan konflik Islam-Hindu. Masalah separatisme Thailand Selatan juga dilatarbelakangi perbedaan agama Buddha dan Islam serta masalah yang sama di Filipina telah membawa konflik Islam-Katolik. Gerakan separatisme Maluku Selatan dilatarbelakangi oleh perbedaan Islam-Kristen, juga masalah gerakan Papua Merdeka. Konflik separatisme Aceh ternyata dapat diselesaikan melalui kompromi, karena tidak melibatkan perbedaan agama, mereka sama-sama muslim. Di lain pihak, persamaan agama bisa tidak menyelesaikan masalah, misalnya dalam kasus separatisme Kurdi, padahal suku Kurdi ataupun bangsa Turki dan Irak sama-sama muslim. Dalam kasus ini, timbul pertanyaan, lalu apa manfaat persaudaraan karena persamaan agama?

Mengapa agama secara potensial merupakan sumber konflik dan bencana sepanjang waktu dan di mana saja? Pertama, agama, terutama agama Smith, menekankan iman atau akidah yang tidak bisa dikompromikan dan tidak bisa didialogkan. Selanjutnya, kedua akidah itu selalu mengklaim kebenaran absolut yang eksklusif. Ketiga, agama terbesar di dunia, Kristen dan Islam, adalah agama dakwah atau evangelis, yang bertujuan memperoleh pengikut yang sebanyak-banyaknya. Keempat, dua agama itu cenderung berprinsip “tujuan menghalalkan cara” (the end justify the means), misalnya dalam kasus bom. Artinya, jika tujuannya itu dinilai benar, cara apa pun telah disucikan oleh tujuan itu, termasuk penggunaan kekerasan, kalau perlu berperang demi mempertahankan akidah. Kelima, dalam mencapai tujuan atau mempertahankan diri, agama pada umumnya meminta bantuan kekuasaan dan negara. Itulah sebabnya, dalam Islamisme diyakini prinsip kesatuan agama dan negara. Dalam kasus formalisasi syariat, negara diperlukan untuk melaksanakan syariat sebagai hukum positif yang sifatnya memaksa.

Karena itu, agar sikap dan pelaku agama tersebut bisa lebih teduh dan ramah, diperlukan pembaruan cara keberagaman baru di masa mendatang. Pertama, agama tidak lagi menitikberatkan iman atau akidah, tapi perilaku atau moral (al-akhlaq al-karimah). Kedua, komunikasi antarpenganut agama tidak perlu disertai dengan klaim eksklusif kebenaran, tapi koeksistensi kebenaran atau kebenaran yang plural. Ketiga, dakwah agama jangan menekankan kuantitas pengikut, melainkan kualitas keberagamaan dan pembinaan komunitas. Keempat, dalam persaingan antaragama, prinsip “tujuan menghalalkan cara” harus ditinggalkan. Tujuan yang benar harus dicapai dengan cara yang benar pula. Kelima, pelaksanaan ajaran agama tidak memerlukan bantuan kekuasaan yang memaksa, dalam hal ini negara.

Jika agama masih ingin memiliki masa depan, perubahan cara keberagamaan di atas perlu dipertimbangkan serius. Jika tidak, ramalan Sam Haris, yaitu berakhirnya iman, perlu diperhatikan secara serius. Tapi, menurut Sam Haris, agama formal yang melembaga sekarang memang tidak memiliki masa depan. Dan jika kita melihat Eropa sekarang, agama formal yang melembaga akan mengalami transformasi besar (great transformation) menjadi seperti yang diramalkan oleh Sapdo Palon Noyo Genggong, yaitu agama budi atau agama moral atau meminjam istilah Hans Kung, seorang pastor Katolik Jerman, etika global (global ethics). Agama seperti itu mengimplikasikan makna agama tanpa iman kepada Tuhan (religion without faith) atau agama tanpa Tuhan (religion without God). Di sini indikator religiositas bukan lagi iman kepada Tuhan atau ketaatan beribadah, melainkan moralitas atau perilaku dalam berkomunikasi dengan sesama manusia dan alam. Orang yang berkawan dengan alam atau hidup ramah dan damai umpamanya dapat disebut religius.

Dalam perspektif filsuf Muslim Jerman, F. Schuon, dan filsuf Syiah, Syed Hossein Nasr, agama masa depan adalah agama perenial. Agama perenial lahir jika agama-agama bertemu pada tingkat esensial atau hakikat. Artinya, syariat tidak lagi merupakan inti agama seperti sekarang ini. Dalam istilah para sufi muslim, terlahir kesatuan agama-agama (wahdatul adyan). Dalam praktek sufi, agama adalah proses transendensi mengatasi agama-agama formal dalam upaya memahami jati diri. Apabila seseorang telah mengenal dirinya, ia akan bertemu dengan Tuhan.

Dalam pengertian agama seperti itu, orang tidak perlu mengklaim kebenaran. Agama juga tidak perlu didakwahkan, apalagi dengan menggunakan pedang. Dengan perkataan lain, agama tidak memerlukan institusi negara karena agama tidak perlu perlindungan dari ancaman. Dalam pertemuan agama-agama itu tidak perlu persaingan, apalagi perjuangan antaragama. Agama-agama telah mengalami perdamaian (darr al-salam). Atau dalam bahasa Kristen, manusia telah memasuki kerajaan Tuhan yang aman dan damai. Dalam pengertian Islam, agama-agama telah terislamkan. Dalam keadaan seperti ini, agama tidak lagi bisa dimanfaatkan atau dimanipulasi untuk kepentingan individu dan kelompok.

Dalam perspektif seperti itu, agama sepertinya akan mengalami transformasi menjadi spiritualisme. Dalam situasi seperti itu, agama memang makin menjadi urusan pribadi. Dalam perspektif Durkhemian, agama menjadi tidak fungsional dalam perkembangan masyarakat. Padahal agama-agama di masa lalu itu selalu berperan dalam perubahan kemasyarakatan dan merupakan tiang penyangga penting dalam civil society, seperti dikatakan oleh Toquivile, sebagaimana ia lihat dalam masyarakat Amerika abad ke-19. Peran ini hanya bisa terjadi melalui agama yang melembaga sebagai bagian dari kebudayaan. Karena itu, dalam masyarakat modern yang sekuler, peranan agama yang melembaga tetap diperlukan. Tapi peranan itu diperlukan jika agama-agama bekerja sama dalam mengembangkan agama publik (public religion), sebagaimana dikembangkan dalam teologi pembebasan (liberation theology). Sebagai kekuatan pembebas dari segala bentuk tirani, itulah peran yang diharapkan oleh masyarakat modern.

URL Source: http://korantempo.com/korantempo/2007/12/21/Opini/krn,20071221,52.id.html

4 Tanggapan

  1. Agama itu gak perlu transformasi bos.. karena agama dari Tuhan tentu sudh haq kebenarannya dan bisa diterapkan kapan saja dan dimana saja, klo agama transformasi itu namanya bukan agama tapi adat ato norma atau hukum buatan manusia, gitu aja masa harus aku yng kasih tau. cape dee

  2. Yang sedang dibahas adalah sisi sosial agama mas. Manusia tidak bisa lepas dari memahami dan menafsir. Karena selalu ada jarak antara kehendak Tuhan dan pemahaman manusia. Apalagi ketika ajaran Tuhan itu jaraknya sudah ribuan tahun dari saat turunnya.

    Terima kasih sudah dikasih tahu…🙂

  3. agama tanpa syari’at adalah palsu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: