• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Mencela agama lain, tidak mengenal agama

Pagi ini aku membaca liputan DetikCom berjudul: Mencela Agama Lain, Tidak Mengenal Agama. Liputan itu berisi laporan dialog antar-keyakinan agama yang digelar KBRI Stockholm Swedia, menjelang Idul Adha 1428H.

Menurutku liputan itu bagus. Sebab, meletakkan hubungan antar-agama dan keyakinan dalam sebuah perspektif yang universal. Liputan itu tidak menonjolkan menang-kalah, ketersinggungan, dan tuduhan noda-menodai agama, apalagi ancaman untuk menyerang.

Pemberitaan dan sudut pandang yang dewasa semacam ini sangat diperlukan untuk Indonesia. Ancaman anarkisme dari sekelompok pemuka agama jangan mendapatkan tempat, tetapi kritik terhadap kekerasan dan pendapat para ahli yang berpijak pada hukum harus lebih dikedepankan.

Model pemberitaan semacam ini dapat menjadi bagian dari pendidikan keberagamaan yang dilakukan oleh media massa. Pers tidaklah netral (walaupun berusaha untuk itu), sudut pandang wartawan/redaksi selalu mempengaruhi hasil sebuah pemberitaan/liputan.  Pemberitaan perlu dibangun sebagai edukasi bangsa dengan spirit yang lebih baik dari massa dan kelompok masyarakat yang emosional dan suka main hakim sendiri.

Tentu saja setiap media massa memiliki pilihan; menjadi provokator dan bagian dari masyarakat yang sedang sakit; atau menjadi pilar pembangun demokrasi dan kedewasaan bermasyarakat.

Satu Tanggapan

  1. Hai mas …

    Blog aku sudah ada yg komentar lho.. Tapi ya itu lah.. orang2 yang tak sepaham dengan Eden.. lumayan…🙂

    Btw, ym, bunda sudah tak puasa bicara. Puasa bicara kalau ada wartawan aja …

    Andit

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: