• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Jemaat Ahmadiyah di Mabes Polri

Kemarin, pengurus besar Jemaat Ahmadiyah diundang ke Mabes Polri. Ada pertemuan di sana yang dihadiri dari Depag, Kejagung, dan Intel Polri. Ada juga Agus Miftah dalam pertemuan itu (aku juga melihatnya di TV). Teman-teman pengacara dari LBH Jakarta juga hadir dalam pertemuan itu.

Kelihatannya nasib teman-teman Ahmadiyah belum akan membaik. Bahkan ada kemungkinan memburuk.

Peristiwa Ahmadiyah di Manislor itu oleh Kepolisian tak dilihat sebagai sebuah penyerangan terhadap sekelompok warga negara yang memiliki keyakinan berbeda, tetapi hanya dilihat sebagai konflik. Artinya, keyakinan Jemaat Ahmadiyah dianggap sebagai pemicu dan penyerangan itu dianggap sebagai sebuah respon yang biasa.

***

Negara ternyata tidak netral dan melindungi seluruh warga negaranya. Masyarakat tak didewasakan, gesekan dan perbedaan pendapat tak didorong ke proses dialog dan proses hukum. Tapi siapa yang pandai mengancam tindakan anarkisme, dia yang dimenangkan atas nama stabilitas.

Pelaku tindak kekerasan tak diproses secara hukum, padahal penyerangan dan tindak kekerasan itu jelas-jelas dilakukan berulang kali, di mana-mana. Masyarakat tak diajarkan untuk menyikapi perbedaan dengan cara yang beradab. Bahkan, korban justru diancam dipidanakan.

Anyway, bukankah negara Republik Indonesia ini masih berdasarkan Pancasila yang mengakui eksistensi keyakinan warganya yang beragam? Atau dasar negara sudah berubah menjadi Islam versi MUI sehingga yang difatwakan sesat oleh MUI boleh diserang dan dihancurkan?

Satu Tanggapan

  1. kalau negara tidak netral dan malah memelihara anarkisme, lalu sebenarnya para pelanggar terhadap UUD yang berlaku di negeri ini itu, siapa?
    jangan2 dimata para penyelenggara negara saat ini UUD itu tidak berlaku lagi…???

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: