• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Pesantren Bidayatul Hidayah Garut diserang

Ratusan massa menyerang Pesantren Bidayatul Hidayah, di kecamatan Leles, Garut-Jawa Barat (Jumat, 14/12/2007). Aku membaca di running text berita Topik Siang ANTV. Aku cek Googling ke Internet siang ini belum ada berita di media lainnya.

Beberapa santri dilaporkan terluka dan fasilitas belajar rusak berantakan akibat serangan ini. Aksi penyerangan ini dilakukan dengan tuduhan bahwa Pondok Pesantren ini mengajarkan ajaran sesat.

***

Duh…apa artinya agama kalau ekspresinya seperti ini? Mengapa begitu sulit menjadi dewasa dan menerima perbedaan? Mengapa tidak bisa menjadi beradab menyikapi perbedaan?

Duh… jangan sampai hati kita menjadi bebal dan terbiasa dengan kekerasan semacam ini dan menganggapnya sebuah hal yang bisa dibenarkan dan menjadi biasa…

Pantas sebelum meninggal Nabi Muhammad sempat merintih,”ummati, ummati… (umatku, umatku).”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: