• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Syiah Bangil Diserbu

Hari ini sedang main di tempat Ibu, tiba-tiba aku dipanggil karena ada acara di radio 68H (kongkow bersama Gus Dur) tentang penyerbuan terhadap masjid Jarhum serta rumah ustad Ali Umar al Zaenal Abidin dan pengurus masjid Ahmad bin Abdullah Alaydrus di Bangil-Jawa Timur. Peristiwanya pada 27/11 yang lalu. Alasan penyerbuan itu karena mereka adalah penganut Syiah.

Luar biasa…. wajah Islam Indonesia yang selama ini dianggap moderat dan toleran semakin hilang dari realitas. Kekerasan demi kekerasan berlangsung dengan alasan membela Islam dan menghancurkan “yang sesat”.

Repotnya, tindakan semacam ini bukan dilakukan oleh orang awam. Tetapi dimotori oleh mereka yang menamakan dirinya para ulama Islam dan dilakukan secara terbuka di mimbar-mimbar agama. Bahkan, MUI memberikan amunisi melalui fatwa-fatwa di tingkat nasional yang mendorong tindakan intoleransi semacam ini.

Sementara itu, aparat negara seperti biasa gamang dan ketakutan. Mereka tak berani menegakkan aturan main dan hukum. Atas nama ancaman stabilitas semu, mereka memenangkan para preman daripada memenangkan hukum yang menjadi pondasi interaksi bermasyarakat di negeri ini.

Bagaimana masa depan Indonesia ini?

4 Tanggapan

  1. Salam mas… Begitulah realita kehidupan berbangsa di negara kita ini. Minoritas selalu terinjak dan terpinggirkan. Ngomong-ngomong, masih di Eden? Salam kenal dari saya, Ram-Ram Muhammad di Bandung.

  2. Salam kenal mas Ram-Ram,

    Sebagai yang tertulis di judul dan about, saya sekarang sudah tidak di Eden lagi.🙂

  3. Jadi sekarang “di mana?”. Saya kebetulan suka bantu-bantu di PAKUAN (Paguyuban Untuk Anti Diskriminasi Afama Adat dan Kepercayaan). Gak heran Eden mengalami keriminalisasi, saya aja yang muslim pernah mengalami hal yang sama, bahkan mungkin lebih parah, hanya gara-gara menjembatani dialog antar agama.

  4. […] informasi dari teman-teman yang melakukan advokasi terhadap umat Syiah di Bangil yang mengalami penyerbuan pada November 2007 yang lalu. Polisi belum menindak satu pun pelakunya  walaupun sudah hampir satu bulan setelah […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: