• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Fundamentalisme merasuki birokrasi

Hari ini, dalam perjalanan menuju LBH Jakarta, aku membeli koran Tempo. Ada artikel Novriantoni “Ketika Kaum Fundamentalis Merasuki Birokrasi.”

Aku baru tahu. Ternyata, pada 27 November yang lalu, di Malang telah terjadi peristiwa “penting”. Seorang cendekiawan Mesir, Nasr Hamid Abu Zayd, dilarang menjadi pembicara dalam Seminar internasional tentang Islam di Universitas Islam Negeri Malang.

Guru besar studi Islam di Universitas Leiden, Belanda, tersebut datang atas kerjasama antara Universitas Leiden dan Departemen Agama. Tetapi, yang menjegal juga Depag. Dan pesan pelarangan itu baru disampaikan saat Abu Zayd sampai di Surabaya.

Konon, penjegalan itu dilakukan atas nama Menteri Agama Ri karena desakan “masyarakat Islam tertentu”. Sebuah tekanan yang diatasnamakan “Islam” atau “masyarakat Islam” yang biasanya dibarengi dengan ancaman pengacauan ternyata efektif untuk mendorong agenda intoleransi.

Catatan Abu Zayd atas peristiwa itu: ini adalah sebagian pertanda fundamentalisme yang mulai merasuki birokrasi. Kehidupan sosial keagamaan di masyarakat terkontaminasi oleh iklim teror dan semangat intoleransi. Ini adalah sebuah terorisme sosial yang tak kalah bahaya dibandingkan terorisme aktual atau terorisme negara.

***

Duh, premanisme semakin mewabah. Sekarang malah memasuki wilayah universitas dan akademis yang memiliki tradisi perdebatan ilmiah dan berbeda pendapat yang panjang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: