• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Terlempar dari Surga

“Masih ada kesombongan tuh kalau judul blognya turunkebumi, ” aku mendengar komentar mengenai blog ini. “Harusnya terlempar dari Surga…”

He..he… benar juga kali ya…. Kalau istilahnya turunkebumi, bisa dipersepsikan seolah-olah aku memilih untuk menjadi duta Tuhan ke bumi. Padahal bukan seperti itu kan kenyataannya.

Kesombongan memang menjadi berhala personalku. Kebutuhan untuk mengerti menjadi semacam “kutukan” yang begitu sulit untuk kuluruhkan. Padahal aku tahu, semesta ini menyimpan begitu banyak misteri. Dan orang yang baik adalah orang yang bersedia merendahkan diri, membuka diri bahwa dirinya “tidak mengerti.”

“Aku tidak tahu dan tidak mengerti” adalah salah satu titian spiritualitas. Bukan berarti tidak mau belajar atau tidak peduli, melainkan sebuah kesadaran bahwa sebagai manusia kita tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhan.

Seorang peniti jalan spiritual sejati tidak memiliki masalah saat dia dicela dan dianggap bodoh, bebal dan tidak mengerti. Bukan karena dia sedang merendahkan diri. Tapi memang itulah kenyataannya.

Mengapa harus berbangga dan berbahagia bahwa kita mengerti? Padahal kita sesungguhnya tidak mengerti…

Aku masih harus belajar banyak menyatukan kerendahan hati itu menjadi diriku.  Spiritualitas bukan pengetahuan, tetapi apa yang telah menyatu dan menjadi diri kita..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: