• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Penutupan gereja di Tambora

Mayong dari LBH Jakarta menyampaikan update cerita mengenai kasus-kasus kebebasan beragama di Indonesia. Selain ancaman terhadap Ahmadiyah oleh GUII, pada hari Jumat (23/11) yang lalu juga ada ancaman penutupan gereja di Tambora oleh Front Pembela Islam (FPI) dan kawan-kawannya.

Peristiwa-peristiwa semacam ini menambah keprihatinan tentang masa depan Indonesia. Ancaman dan tekanan massa menjadi penguasa baru Indonesia yang mengalahkan sistem hukum dan prinsip-prinsip kebangsaan yang menjadi pondasi negeri ini.

Aparat pemerintah (Lurah, Camat, dsb) memilih untuk tunduk pada tekanan massa yang mengancam dengan anarkisme atas nama agama (Islam). Polisi pun tidak berani menegakkan hukum dan aturan main. Atas nama stabilitas dan menghindari anarkisme, pengancam dituruti dan diikuti. Semua memilih untuk tunduk pada premanisme gaya baru ini.

Tidak banyak detil informasi yang disampaikan Mayong. Dari Internet, aku coba browsing, ketemu informasi Penutupan Gereja Damai Kristus. Peristiwanya di Tambora, tanggal kejadiannya sama; aku tidak tahu persis apakah peristiwa ini sama dengan yang diceritakan Mayong atau sebuah peristiwa yang lain.

Sebuah spiral negatif sedang berpusing. Sekali ancaman kekerasan dimenangkan, dia tak akan menjadi reda, tapi akan terus berkembang mencari bentuk-bentuk yang lebih mengancam dan ekstrem.

Ini kabar buruk untuk Indonesia, spiritualitas, dan kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: