• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Orang fanatik

Orang fanatik di mana-mana, di berbagai agama dan keyakinan. Yang aku maksudkan fanatik di sini adalah orang-orang yang kepercayaannya pada sesuatu hal membabi buta sehingga dia kehilangan keadilan/keobjektifan. Bukan hanya ditandai oleh ketertutupan pikiran (close minded), tapi juga disertai sikap mental merendahkan keyakinan/orang lain.

Orang fanatik selalu menuduh orang yang agama/keyakinannya berbeda dengan dirinya sebagai orang yang “tidak menggunakan rasionya dengan baik”. Menurutnya, hanya agama/keyakinannya yang benar dan rasional. Dia mungkin mempelajari agama lain melalui buku yang ditulis pemuka agamanya. Pembacaan itu dikiranya apa adanya, padahal pembacaan itu sudah di-frame menurut keyakinannya.

Mengapa ya orang kok bisa menjadi fanatik yang selalu merendahkan keyakinan orang lain dan rela melakukan kekerasan karena perbedaan keyakinan?

Bukankah sebagian besar kita memeluk agama/keyakinan karena faktor orang tua/lingkungan? Dengan kata lain, sebagian besar diantara kita tidak memilih agama tertentu, tapi Tuhan menempatkan kita di lingkungan keluarga tertentu.

Karena kita lahir di keluarga muslim, kita sejak kecil beragama Islam. Karena kita lahir di keluarga Kristen, sejak kecil kita beragama Kristen. Begitu juga saat kita terlahir di Bali di lingkungan orang Hindu, secara otomatis kita akan beragama Hindu. Hanya sedikit orang yang melakukan konversi agama berdasarkan sebuah pencarian spiritual yang murni.

Aku sih cuma bingung saja, bagaimana orang bisa memiliki kebencian sedemikian besar kepada orang lain. Coba, kalau dia dilahirkan di keluarga lain dan lingkungan lain.

Dapatkah dia berempati dengan kondisi itu? Atau, empati itu sudah dimatikan oleh kuatnya doktrin yang diyakininya?

Tidak… aku percaya bahwa selalu ada nurani yang membisikkan di dalam hati. Tinggal, apakah kita memenangkan nurani yang bersuara halus dan lamat-lamat ataukah memenangkan doktrin yang memuaskan rasio kita.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: