• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Syahadat itu tak ada di Al Quran

Syahadat “asyhadu alla ilaha illah Allah, wa asyhadu anna Muhammadarasulullah” tidak ada di Al Quran. Redaksional syahadat itu diinisiatifkan oleh Khadijah, isteri Nabi untuk menguatkan Nabi Muhammad saat awal menerima wahyu. Redaksi syahadat/persaksian di dalam Al Quran jauh lebih luas karena menyangkut pernyataan iman kepada utusan-utusan Tuhan sebelum Nabi Muhammad. Bahkan, memuat larangan untuk membedakan antara satu utusan dengan utusan lain.

Tetapi, mengapa saat ini umat Islam sangat menekankan soal redaksi syahadat Khadijah sebagai harga mati dan tidak mengedepankan syahadat versi Al Quran yang jauh lebih luas itu, ya? Paparan mengenai syahadat itu ditulis oleh YM Muhammad Abdul Rachman dari Eden saat membalas pertanyaan mengenai Eden. Surat itu ada di milis Salamullah-info. Berikut ini surat selengkapnya:

Terima kasih atas silaturahmi dan penjelasannya. Sungguh penjelasan yang Anda utarakan yang juga Anda kutipkan dari Al Quran dan Al Kitab memberikan sebuah pemahaman tentang keluarga Abraham.

Adapun mengenai Kerajaan Tuhan. Tiadalah kewenangan bagi kami, untuk menjelaskannya karena itu tidak berada dalam kewenangan kami sebagai hamba-hamba Tuhan. Biarlah Tuhan sendiri dan Ruhul Kudus sebagai rasul-Nya yang menjelaskannya. Karena Ruhul Kuduslah yang menyatakannya di dalam kitab-kitab suci yang dibawa oleh para nabi. Untuk itu silakan membuka website http://www.le2-34-777.info di dalamnya terdapat Risalah Tuhan dan Risalah Ruhul Kudus.

Kemarin, saat kami hendak menanggapi tulisan Anda tiba-tiba datang dua orang tamu dari sebuah Komunitas Tarekat yang ingin klarifikasi terhadap berita-berita yang sampai kepada mereka tentang Eden. Mereka adalah Muslim yang baik, dan sangat rendah hati, karena mereka ingin mengetahui secara langsung kebenaran dari semua yang mereka dengar tentang Eden.

Yang mereka tanyakan kepada kami adalah, “Apakah Syahadat Komunitas Eden? Apakah masih bersyahadat ‘ashadu Allah ilah ha illallahu wa ashadu anna Muhammadarasulallahu’ (aku bersaksi tiada illah selain Allah, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah)”

Kemudian saya bertanya kembali kepadanya, “Apakah syahadat orang yang beriman (mukmin) yang demikian itu dinyatakan di dalam kitab suci Al Quran?”

Kedua tamu saya itu terdiam sejenak, mereka tidak memberikan jawaban. Karena itu saya kemudian meneruskan penjelasan tentang syahadat itu. Yang saya ketahui, ikrar yang diperintahkan Allah kepada orang-orang mukmin (orang beriman) tidak sesederhana dan tidak sesimpel seperti syahadat yang dinyatakan dan dipraktekan pada saat ini.

Sebagaimana termaktub di dalam kitab suci Al Quran, surat Al Baqarah (2) ayat 136, “Katakanlah, olehmu sekalian (nabi Muhammad dan para pengikutnya) ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan keturunannya. Dan apa yang diturunkan kepada Musa, dan Isa, serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka (seluruh para nabi) dan kami hanya tunduk dan patuh serta berserah diri kepada-Nya”. Demikianlah syahadat yang diperintahkan Allah kepada nabi Muhammad dan kepada para pengikutnya.

Apa yang diperintahkan Allah kepada nabi Muhammad dan kepada para pengikutnya tentang ikrar yang dimintakan Tuhannya, sesungguhnya tiada berbeda dengan ikrar dan syahadat yang dinyatakan di dalam Kitab Perjanjian Lama. Andai saja, umat Islam bersyahadat sebagaimana yang Allah perintahkan dalam kitab suci Al Quran, maka tentulah nabi Muhammad dan umatnya benar-benar akan dapat mengejawantahkan kehendak Tuhan yakni menjadi “rahmat bagi semesta alam”.

Lihatlah redaksi dari Firman Tuhan tersebut. Betapa Allah memerintahkan kepada nabi Muhammad dan para pengikutnya untuk berikrar dan ikrarnya itu dibuatkan Tuhan secara langsung, dan mereka semua diminta untuk mengulangi apa-apa yang dinyatakan Tuhan itu, untuk beriman kepada apa yang diturunkan Allah dan beriman kepada seluruh nabi yang disebutkan-Nya maupun yang tidak disebutkan-Nya (wa maa utiyuunan nabiyyuuna mirrabbihiim) dan tidak membeda-bedakan salah satu pun di antara utusan-Nya (la nufarriq bayna ahadimminhum).

Demikianlah universalitas Al Quran yang dibawa oleh nabi Muhammad. Andai syahadat kaum Muslim sedemikian yang diperintahkan Tuhan. Maka damailah bumi ini. Maka jauhlah umat Muslim dari rasa fanatisme golongan dan keegoan serta keakuan. Karena terlarang baginya untuk membeda-bedakan salah satu dari para utusan Tuhan itu.

Lalu darimanakah sesungguhnya datangnya simplifikasi dari sebuah syahadat yang universal itu? Simaklah dengan baik redaksi dari syahadat itu, ‘ashadu Allah ilah ha illallahu wa ashadu anna Muhammadarasulallahu’ (aku bersaksi tiada illah selain Allah, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah). Apakah pernyataan itu keluar dari nabi Muhammad atau dari orang kedua? Niscaya Anda akan melihat bahwa itu pernyataan orang kedua.

Konon, Khadijahlah orang pertama yang menyatakan kesaksiannya tentang kenabian Muhammad, disaat Muhammad sendiri masih dalam keraguan dan ketakutan, dan belum mempercayai apa yang telah diterimanya dari Jibril. Demikian Khadijah memberikan kekukuhan kepada nabi Muhammad bahwa dia sesungguhnya adalah nabi yang benar-benar dari Tuhan. Dan dialah yang bersaksi, ‘Aku bersaksi bahwa tiada illah melainkan Allah, dan aku bersaksi engkau Muhammad adalah utusan Allah’.

Demikian Khadijah memberikan dukungan agar nabi Muhammad kukuh dalam keyakinannya. Bahwa yang datang kepadanya betul-betul namuz (yang dahulu datang kepada Musa).

Sesungguhnya tiada satu pun dari kaum Muslim yang dapat dituduhkan sebagai inkarussunnah (kelompok yang tidak percaya hadis), karena sesungguhnya tidak ada yang menolak kenabian Muhammad yang membawa kitab suci Al Quran. Dan adalah nabi Muhammad sendiri yang melarang umatnya untuk tidak menuliskan apa-apa yang datang darinya selain Al Quran (man kataba anni bi ghairil Quran fal ya tabawwa mak addahu finnar), ‘barang siapa yang menuliskan dariku yang bukan Al Quran, maka sesungguhnya tempatnya adalah Neraka’. Maka adalah patut bagi umat Islam untuk bijak dan arif melihat larangan tersebut.

Andaikata umat Islam merujuk syahadatnya sebagaimana yang dimintakan Allah dalam Al Quran, niscaya tak ada konflik berdarah dengan kaum Yahudi maupun dengan kaum Nasrani yang berkepanjangan dari zaman ke zaman.

Sebagaimana Allah mempertemukan ketiga kaum ini di Baitul Maqdis. Di sana ada sebuah batu (sakhirah), dan di atas batu inilah menjadi simbol momentum sakralitas ketiga agama. Mengapa tidak melihat kehendak sejarah yang juga merupakan kehendah Tuhan sebagai satu ikatan yang kukuh di antara ketiga kaum tersebut? Tetapi malah menjadikan itu menjadi pangkal pertempuran.

Inilah anak-anak Abraham, yang telah menyebar seantero dunia. Pasang surut ketiga umat ini telah berlangsung. Darah yang bersimbah pun tak terbilang banyaknya. Tuhan memuliakan ketiga umat ini sebagaimana janji-Nya. Dan Tuhan pun menistakan ketiga umat ini bila tak mengingkari perjanjiannya dengan Tuhannya. Oleh siapakah bumi ini kembali bersimbah darah? Bila bukan oleh ketiga keturunan Abraham yang saling baku hantam atas nama Tuhan dan keyakinannya.

Sesungguhnya ketiga umat ini jauh lebih banyak persamaannya daripada perbedaannya.

Bila Syahadat yang dikemukakan Al Quran dan yang dikemukakan Al Kitab dalam perjanjian lama tak berbeda, maka sungguh keutuhan kesamaan ajaran Tuhan sangat nyata dan terlihat antara satu nabi dan lainnya. Yang sesungguhnya mereka pun dalam satu keluarga yang sama. Dari Ismaillah kenabian Muhammad itu. Dari Ya’qublah lahir para nabi. Sebagaimana janji Tuhan terhadap keluarga Ibrahim. Dan darisana pulalah lahir Yesus sebagai Rasul yang diimani oleh kaum Kristiani. Demikian Allah menyatukannya di Yerusalem, ketiga umat dalam persaudaraan yang suci.

Demikianlah Allah menepati janji kemuliaan mereka sebagaimana yang Anda utarakan. Tapi juga bagaimana Allah meluluhlantakkan mereka ketika mereka tak memegang teguh perjanjiannya dengan Tuhan.

Dan sesungguhnya nabi Muhammad sendiri diutus oleh Allah untuk mengingatkan kaum musyrikin untuk menuhankan Allah yang Esa. Dan menyerukan kepada kedua kaum Yahudi dan Nasrani, agar mereka kembali kepada millah Ibrahim. Lihatlah surat Al Baqarah 135, saat orang-orang Yahudi dan Nasrani memerintahkan kepada nabi Muhammad dan para pengikutnya agar mengikuti mereka karena hanya merekalah yang mendapatkan petunjuk dari Allah, Allah memerintahkan kepada Muhammad agar kedua kaum itu berkiblat kepada millah Ibrahim yang sesungguhnya juga adalah bapak moyang yang mereka muliakan dan mereka hormati. Dan tiadalah Ibrahim itu mempersekutukan Allah dengan suatu apapun.

Dan Mereka berkata, ‘Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapatkan petunjuk’ Katakanlah: ‘(tidak), bahkan (kami mengikuti) millah Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia dari golongan orang-orang yang menyekutukan Tuhan”.

Terhadap kedua kaum tersebut, tugas nabi Muhammad adalah mengembalikan mereka kepada jalan Ibrahim. Tiadalah Tuhan memerintahkan nabi Muhammad untuk unjuk kekuatan agar mereka (para ahlul kitab itu) menjadi umat Nabi Muhammad. Karena sesungguhnya, tidak ada satu pun ayat di dalam kitab suci Al Quran yang menyatakan pembatalan terhadap kitab-kitab suci yang terdahulu yang diturunkan sebelum kenabiannya.

Adapun teguran, kritik yang disampaikan Al Quran kepada kedua kaum tersebut, lebih pada urusan sosial politik dan kekuasaan bukan soal keimanan. Karena dalam sejarahnya, saat nabi Muhammad berhadapan dengan orang-orang musyrik Mekkah, sedianya kedua kaum tersebut membantu paling tidak, tidak memusuhi nabi saat Muhammad menghadapi kesulitan dari orang-orang musyrik Mekkah yang akan menyerang Madinah. Tetapi sayangnya, kaum Yahudi maupun kaum Nasrani memiliki ketakutan yang sangat besar bila Muhammad terlalu berkuasa kelak, sehingga menggusur kekuasaan mereka. Jadi teguran keras Tuhan terhadap Kaum Yahudi dan Nasrani di zaman Muhammad itu lebih karena persoalan kekuasaan, BUKAN persoalan keimanan.

Mengapa kita tak kembali kepada Abraham sebagaimana yang diperintahkan Al Kitab dan Al Quran yang juga menjadi pegangan ketiga umat ini? Kembali kepada Millah Ibrahim. Ibrahim tak membangun institusi agama. Dia mengukuhkan ketauhidan, dan mengedepankan sikap dan perilaku yang suci.

Di kemah Abraham, kita dapat bersatu. Membangun peradaban yang mulia. Peradaban yang terhormat. Mempersatukan ketiga umat dalam damai. Karena sesungguhnya ketiga umat ini berada dalam permusuhan yang dapat menghancurkan bumi dan semesta ini.

Salam Eden,
M Abdul Rachman

Satu Tanggapan

  1. Ternyata di bahas di sini toh. Sebenarnya walau tidak ada di AQ sih nggak apa apa bentuk syahadat yang seperti sekarang ini. Asal jangan syahadat cuma di bibir, tapi di lakoni dalam hidup. Toh kalo bagi saya Muhammad itu sendiri adalah universal, yakni wali Allah.😉

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: