• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Adakah hak untuk murtad?

Apakah boleh seorang yang sudah di Eden kembali ke agamanya atau berpindah ke agama lain? Itu salah satu pertanyaan yang beberapa kali aku dengar waktu di Eden. Kalau di Eden, jawabannya sederhana; boleh (titik, tanpa kata sambung tapi). Iman adalah pilihan pribadi dan pertanggungjawabannya kepada Tuhan. Mau di Eden atau keluar, silakan. Bahkan yang di Eden pun berguguran karena gagal dalam pensucian.

Yang menarik buatku bukan pertanyaan itu atau jawabannya. Tetapi, mengapa ada pertanyaan semacam itu?

Pertanyaan itu muncul mungkin karena seorang yang murtad (atau keluar) dari sebuah ajaran/kelompok biasanya dipersulit; bahkan mendapat ancaman dibunuh oleh kelompoknya. Pertanyaan itu ditujukan ke Eden mungkin karena ada sebagian orang yang mengira bahwa orang masuk ke Eden itu karena dipaksa dan orang tidak boleh keluar dari Eden.

Pada kenyataannya, realita yang ada bukan begitu. Bahkan, yang terjadi adalah sebaliknya. Ada (mungkin banyak) pemuka agama lain (misalnya Islam) yang menganggap bahwa murtad adalah sebuah hal yang terlarang dan orang yang murtad dari Islam hukumnya adalah dibunuh. Anda tidak percaya? Tanyakan saja kepada para ustadz atau bacalah buku-buku agama mengenai hukum murtad.

Aku sendiri sering mendengar penjelasan hukum murtad semacam itu. Salah satunya pada waktu sidang Eden di PN Jakarta Pusat sekitar satu tahun yang lalu. Pada waktu itu, sudah jelas dari bukti-bukti di pengadilan bahwa pengikut Eden bukanlah muslim. Mereka sudah melepaskan keislaman mereka dan menjadi seorang perenial (monotheis etis, seperti pengikut Ibrahim). Majelis Hakim kemudian bertanya kepada saksi Ahli (terafiliasi dengan MUI) yang didatangkan oleh Jaksa, “Terdakwa ini bukan lagi Islam, apakah dia masih terikat dengan ketentuan-ketentuan Islam?”

“Masih. Dalam aturan Islam ada aturan yang mengatur tentang murtad. Dalam negara yang memberlakukan hukum Islam, orang yang murtad mendapat hukuman mati.”

Pada waktu itu aku melihat wajah hakim agak sedikit terperanjat. Mungkin dia bingung; sudah keluar dari sebuah agama, tapi seseorang masih harus terikat aturan agama lamanya itu. Bahkan lebih buruk lagi, karena keluar dari agama itu maka dia harus dihukum bunuh oleh negara.

Jadi, itu artinya sekali seorang masuk Islam, dia tidak boleh keluar dari Islam? Bagaimana kalau seseorang memeluk Islam karena keturunan atau lingkungannya? Bagaimana kalau seorang memilih Islam, tetapi kemudian merasa pilihannya salah dan ingin kembali ke agama lamanya atau beralih ke agama baru?

Untunglah pendapat mengenai Islam tak toleran yang ditampilkan oleh Ahli agama itu dibantah dan dinetralkan oleh Prof. Dr. Kautsar Azhari (guru besar IAIN) yang didatangkan oleh pengacara. Pak Kautsar bercerita bahwa penyerbuan terhadap Musailamah pada kekhalifan awal Islam (yang sering dijadikan alasan bahwa murtad dihukum mati) itu terjadi karena pemberontakan bersenjata, bukan karena kemurtadan Islam. Keimanan adalah hal personal yang dijamin dan diakui Tuhan.

***

Setahun lebih peristiwa itu berlalu, aku mencoba merefleksikan rasionalitas mengapa pendapat bahwa murtad=halal darahnya itu sangat populer. Lihatlah pemuka agama yang bersuara di mimbar agama atau di media massa untuk membela Islam. Sesat = keluar Islam = halal darahnya. Begitulah logika yang sering ditampilkannya.

Mungkin para pemuka agama itu ingin meninggikan Islam dan menjaga kemuliaan Islam. Tapi, bukankah pemuliaan model semacam itu justru akan memperburuk wajah Islam sebagai agama yang tidak toleran dan tidak terbuka untuk berkompetisi? Bukankah pendapat semacam itu dapat membuat Islam terlihat seperti “jebakan”, sekali masuk orang tidak bisa keluar? Menurutku, pendapat dan retorika itu bukan meninggikan Islam, tapi justru memperburuk wajah Islam yang sudah cukup tercoreng oleh berbagai sikap intoleran yang mengatasnamakannya.

Jadi, bagaimanakah sebenarnya hak untuk beralih keyakinan atau murtad itu?

Satu Tanggapan

  1. […] itu pernah diungkap dalam persidangan Eden yang menghadirkan saksi Ahli yang menyatakan bahwa walaupun seorang muslim keluar dari agama Islam, maka dia tetap terikat dengan hukum Islam. Dan huku…. Walah… hakimnya waktu itu sempat […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: