• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Kebencian diajarkan, bukan bawaan lahir

Semalam nonton film klasik di Trans7, Missisipi Burning, kisah bangsa Amerika membangun bangsanya melawan Klu Klux Klan (KKK). Sentimen rasis kulit putih ala KKK terhadap kulit hitam itu disandarkan pada pemahaman terhadap Kitab Suci Injil yang menurut tafsir mereka mengajarkan pemisahan antara “orang beriman/kulit putih” dengan orang kulit hitam.

Walaupun konteksnya adalah prasangka rasis berdasarkan warna kulit dan konteksnya adalah Amerika Serikat, ada tipikal yang dapat kita refleksikan dalam kondisi masyarakat dan hubungan keberagamaan di masyarakat. Ada isu kebencian terhadap orang lain yang diyakini oleh sekelompok masyarakat dan dianggap sebagai kebenaran.

Ada kutipan menarik dari film itu.

“Kebencian bukanlah bawaan lahir, tetapi diajarkan. Ketika sejak umur 7 tahun kita diajarkan untuk membenci orang lain secara terus menerus, kita lama-lama meyakininya, dan kemudian bernafas dengannya,” kata isteri Deputy sherif mengenai suaminya yang pengikut KKK.

Refleksi kita; apakah kita mengajarkan kepada anak-anak kita bahwa hanya kita yang benar dan orang lain salah? Apakah kita mengajarkan anak-anak kita merendahkan atau membenci keyakinan orang lain (baik secara langsung ataupun melalui contoh sikap kita sehari-hari)?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: