• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Syiah mulai diincar

Bola liar dukungan presiden terhadap MUI memang sulit dikendalikan. Nampaknya presiden tidak sadar konsekuensi besar dari pilihan keputusannya mendukung MUI yang konservatif itu.

Hari ini, aku melihat tayangan berita pukul 17.00 di Trans TV. Sekelompok masyarakat penganut Syiah 12 Imam (Syiah Itsna Asyari) di Probolinggo diserbu massa dan tokohnya diperiksa Polisi.

Inilah repotnya kalau negara mengintervensi keyakinan dan menilai keyakinan warga negaranya berdasarkan “keyakinan yang bersifat eksklusif”. Padahal negara sudah memiliki Pancasila yang menjadi platform dasar, mengakui “Ketuhanan yang Maha Esa”.

MUI itu kan merasa memiliki otoritas untuk menentukan benar dan salahnya sebuah keyakinan. Seolah MUI adalah pemilik Islam. Syiah yang dianut oleh jutaan penduduk dunia dan “memiliki negara” pun dianggap sesat oleh MUI.

Mmmm, di negeri ini orang dihakimi karena keyakinan dan pikirannya, bukan karena tindakan kriminal yang dilakukannya. Pemerintah membiarkan negara dan hukum menundukkan dirinya kepada MUI. Bukan karena sebuah prinsip yang benar dalam pengelolaan negara, tetapi karena ketakutan terhadap ancaman “keresahan masyarakat” yang terus dicuatkan.

Inikah wajah negeri yang sedang tersandera?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: