• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Kebebasan beragama yang suram

Aku tidak nonton TV, tapi dari Mahoni dapat kabar kabar bahwa SBY sudah angkat bicara mengenai kelompok sesat. Tayangan diulang-ulang terus di Metro TV bahwa pemerintah mendukung MUI. Aku baca di situs MetroTV, SBY menyatakan dukungan kepada MUI di Rakernas MUI 2007 di Istana Negara.

Wah.. ini angin yang luar biasa buat kelompok konservatif yang dipimpin MUI. Setelah mengeluarkan fatwa mengenai haramnya pluralitas (yang jelas berbahaya utk kelangsungan hidup bermasyarakat/bernegara), MUI bukan dianggap berbahaya oleh negara. Tapi, MUI justru diberikan amunisi yang luar biasa dari pemerintah yaitu legitimasi atas semua yang dilakukannya.

Buatku… ini awal kegelapan dalam kehidupan kebebasan berkeyakinan di Indonesia yang selama ini dikenal moderat dan toleran. Tanpa legitimasi negara saja masyarakat melakukan anarkisme terhadap kelompok yang dianggap sesat. Dengan legitimasi presiden, kebhinnekaan niscaya sirna oleh model keagamaan yang monolitik dan anti-kritik.

Orang/kelompok akan dihabisi karena pikiran/pendapat yang berbeda, bukan karena tindakan kriminalitas yang dilakukannya. Stabilitas (semu) dan keresahan masyarakat (yang tak dewasa) telah menjadi Tuhan baru yang menjadi sumber keputusan negeri ini. Mekanisme pengadilan sebagai alat uji kriminalitas digantikan oleh mekanisme politik untuk membungkam yang berbeda. Menurut pendapat pribadiku, ini jauh lebih berbahaya daripada rezim orde baru yang membungkam lawan-lawan politiknya.

Siapa saja yang akan ditetapkan MUI sebagai korban? Al-Qiyadah al-Islamiyah sudah pasti. Jemaat Ahmadiyah, Eden, JIL, kelompok-kelompok kepercayaan, apalagi? Terus, kalau masyarakat tidak puas karena belum semuanya yang dianggap sesat dilarang, apa yang akan terjadi?

Apakah Indonesia akan beralih menjadi seperti Pakistan…? Atau Arab Saudi?

Mmmm… sekali premanisme dan kekerasan ditolerir dan hukum (yang memandang semua orang setara) ditinggalkan, kita akan melihat spiral negatif itu berputar kencang. Dan, begitu spiral negatif itu dibiarkan, tak ada yang dapat menahan lajunya. Kereta sedang meluncur dengan deras menuju jurang….

Apakah aku terlalu pesimis untuk negeri ini?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: