• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Dealing with fear

Pagi-pagi, dapat telpon dari Tanti. Katanya, berita mengenai Eden di TV semakin buruk. Semalam, Amin Rais menyerukan supaya seluruh anggota ditangkap saja. Di Bogor orang-orang mulai membakar gambar-gambar Bunda Lia. Itu cerita Tanti yang pagi ini sedang gelisah.

Aku mencoba menengok hatiku. Ternyata agak “shaky”. Ingatan dan rasa evakuasi 2 tahun lalu terasa kembali. Walaupun pada waktu itu semuanya mulus, tapi suasananya cukup menegangkan dengan gemuruh kemarahan masyarakat. Belum lagi suasana pasca evakuasi yang dipenuhi energi negatif yang menerpa.

Lalu, di rumah bersama anak-anak aku jadi teringat film “Life is Beautiful”-nya Roberto Benigni yang mencoba tetap mengajak main anaknya dengan gembira walaupun berada di kamp konsentrasi NAZI. Lucu, tapi terasa getir. Apalagi saat merasakannya sendiri.

Buatku, tantangan terbesar saat ini adalah dealing with fear. Walaupun aku tak lagi di Eden, tulisan kesaksianku mengenai Eden bertebaran. Dan aku tetap menghikmati Eden walaupun tak menjadi bagiannya.

Ketakutan adalah salah satu dosa terbesar manusia yang dapat menjerumuskan ke banyak hal buruk. Ketakutan terhadap apapun; tekanan sosial, kekuasaan, ekonomi, rasa malu, ego, fisik; semuanya dapat membuat kita mengambil keputusan yang salah.

Spritualitas adalah mengatasi ketakutan pribadi; apapun sumber ketakutan itu. Keputusan tidak boleh didorong dan dilandasi karena ketakutan (terhadap apapun). Ketakutan tidak boleh menjadi penguasa atas diri kita dan masyarakat.

Keputusan yang benar adalah yang kita buat berdasarkan kejernihan nurani. Ketakutan tak menjadi jerat yang membelenggu kita. Karena kita percaya bahwa tempat bergantung kita adalah Tuhan semata.

Doaku pagi ini, semoga aku (dan teman-teman Eden) bisa melewati semuanya dengan jernih dan benar; apapun yang dihadirkan Tuhan kepada kami. Amin.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: