• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Sabdo Palon Naya Genggong

–Hari ini tiba-tiba ingat dan nemu tulisan Mas Dawam (Prof. Dr. Dawam Rahardjo) di Koran Tempo, 19 Maret 2006 —

Dalam seminar yang diselenggarakan Universitas Surabaya, seorang penganut aliran kepercayaan menanyakan bagaimana pandangan saya tentang ramalan Sabdo Palon Naya Genggong. Pengikut setia raja Majapahit terakhir itu pernah mengatakan bahwa agama Hindu memang akan digantikan oleh agama Islam, yang pada waktu itu didakwahkan oleh Wali Sanga. Namun, 500 tahun kemudian, Islam akan digantikan oleh suatu agama baru, yang disebutnya sebagai “agama budi”.

Agama, menurut pengertian kaum penghayat kepercayaan, adalah “ageming budi”, artinya pakaian yang melindungi seseorang itu adalah budi pekerti luhur. Dalam ajaran Islam, sebagaimana disebut dalam Al-Quran, hakikat pakaian setiap orang itu adalah takwa, yang merupakan puncak kecerdasan spiritual manusia.

Pada 1979, Nurcholish Madjid (Cak Nur) tampil di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, setelah dua pidato kebudayaannya yang pada pokoknya menganjurkan liberalisasi sekularisasi pemikiran Islam, dengan jargonnya yang menjadi sangat terkenal, yakni “Islam yes, Partai Islam No”. Isi ceramah itu memberi kesan seolah-olah Cak Nur mengemukakan jargon baru, yaitu “Spiritualisme Yes, Agama No”. Istilah itu sebenarnya tidak pernah diucapkan oleh Nurcholish, tapi penyimpulan ceramah Cak Nur yang dipelintir oleh sebuah majalah Islam.

Memang Cak Nur mengobservasi gejala ditinggalkannya agama (dalam hal ini Kristen) di Barat. Tapi dalam masyarakat Barat justru timbul banyak aliran spiritual. Nada penilaian Cak Nur sebenarnya sikap kritisnya terhadap aliran-aliran spiritual, terutama yang mengajarkan kesesatan. Dan Cak Nur sebaliknya menginginkan agar masyarakat Barat tetap berpegang pada agama.

Saran ini juga ditujukan bagi umat Islam di Indonesia, tapi ceramah Cak Nur itu dipelintir oleh pengritiknya yang mengesankan Cak Nur menganjurkan umat Islam agar menggantikan agama dengan spiritualisme. Sungguh pun begitu, yang diungkapkan Cak Nur itu memang merupakan kenyataan dan gejala baru di masyarakat Barat, yang juga disebut oleh futurolog John Naissbit. Jadi ramalan Sabdo Palon itu sesungguhya telah terjadi di Barat.

Dalam kaitannya dengan Islam yang dikaitkan dengan terorisme dan kekerasan yang muncul dari gerakan radikalisasi Islam, timbul pertanyaan yang ditujukan kepada cendekiawan Dr Jalaluddin Rahmat. Mengapa Islam, yang disebut sebagai pembawa rahmat bagi sekalian alam, dalam realitas telah melahirkan aksi-aksi kekerasan? Kang Jalal kurang-lebih menjawab, gejala itu karena pemahaman Islam terlalu menekankan pada segi akidah, terutama pada kepercayaan yang fundamental yang bersifat mutlak. Hal ini mengakibatkan lahirnya pandangan sempit dan fanatis. Dalam upaya mereka yang merasa “membela Islam” dari kesesatan akidah, apalagi dalam menghadapi apa yang dipersepsikan sebagai ancaman, umat Islam memilih pendekatan kekerasan, paling tidak menyetujui atau membiarkan tindakan kekerasan.

Di samping itu, Kang Jalal mengajukan alternatif bahwa tekanan keberagamaan hendaknya diarahkan pada ajaran kemuliaan akhlak atau al-akhlak al-karimah sesuai dengan hadis Nabi yang mengatakan: “Saya sesungguhnya diutus untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak.” Konsep Kang Jalal itu mendekati pengertian “agama iku ageming budi” (agama itu adalah pakaian yang berupa budi) yang dirumuskan oleh kaum kebatinan.

Mirjam Kunkler dari Universitas Columbia pernah mengatakan bahwa pertumbuhan gereja di Amerika Serikat sangat pesat. Wacana keagamaan tidak hanya dilakukan di gereja-gereja, tapi juga di gedung-gedung pertemuan dan hotel-hotel yang disiarkan melalui radio dan televisi ke seluruh dunia. Ia menilai bahwa masyarakat Amerika sangat religius. Tapi masyarakat Amerika dikenal sebagai masyarakat yang punya kesadaran etik yang rendah, ditandai dengan praktek bisnis yang tidak etis, politik kotor, kriminalitas yang tinggi, dan penggunaan kekerasan secara telanjang yang mewarnai politik luar negeri yang didukung oleh agresi militer. Kesimpulannya, masyarakat Amerika itu religius tapi tidak etis.

Keadaan di Eropa berkebalikan. Di sana gereja telah ditinggalkan. Bahkan banyak gereja yang dijual dan dialihfungsikan. Sebagian dijadikan museum, sebagian lagi dijadikan masjid oleh kaum muslim. Sebagaimana kata Friedrich Nietsche “God is dead”, Tuhan telah mati, kehidupan beragama sudah hampir merupakan sejarah masa lampau. Masyarakat Eropa itu tidak religius, bahkan ateis atau agnostik, tapi etis.

Kata Kunkler, masyarakat Eropa sekarang sudah menjadi sebuah masyarakat etis (etische community), meminjam istilah Hegel. Teolog-filsuf Jerman, Hans Kung, kini mengembangkan apa yang disebutnya etika global (global ethics) dan mempersiapkan sebuah deklarasi mengenai etika global.

Apa yang berkembang di Eropa sesungguhnya transformasi dari religi ke etika. Masyarakat memang telah meninggalkan agama, tapi tetap beretika. Bukan Tuhan yang telah mati, melainkan agamalah yang mati, sedangkan Tuhan masih hidup. Dengan mengikuti kata-kata Cak Nur, di Indonesia yang terjadi mungkin “God yes, religion no”. Itulah versi lain dari ramalan Sabdo Palon.

Sebab, Ketuhanan yang Maha Esa, seperti dikatakan oleh Bung Hatta, adalah landasan moral bangsa Indonesia, sebagaimana dimaksud dalam Pancasila. Gambaran masyarakat Eropa itu mengikuti “agama budi”, sebagaimana diramalkan oleh Sabdo Palon. Karena itu, saya menjawab pertanyaan peserta dari aliran kepercayaan itu bahwa ramalan Sabdo Palon itu mungkin saja terjadi di Indonesia. Islam sekarang sudah makin diidentikkan dengan kekerasan, sebagaimana diungkapkan dalam kartun Nabi Muhammad oleh majalah Denmark, Jyllands-Posten. Begitulah persepsi tentang Islam di Eropa. Jika citra itu berkembang, dan “Islam itu rahmat bagi sekalian alam” dinilai sebagai kebohongan terhadap publik, orang akan diam-diam atau terang-terangan meninggalkan Islam.

Komunitas Eden secara terang-terangan telah meninggalkan Islam. Tapi mereka membentuk sebuah masyarakat etis yang didasarkan pada ajaran semua agama, walaupun sumber utamanya Islam. Dalam kaitannya dengan gejala itu, mungkin saja agama budi yang bersumber pada ajaran kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa, terutama yang diikuti oleh masyarakat Jawa, akan berkembang menjadi “agama ageming budi” menggantikan agama-agama besar yang mapan dewasa ini.

Mungkin saja Islam sebagai agama yang menekankan akidah (fundamentalisme Islam) dan syariat (hukum Islam) akan ditinggalkan. Dan yang diikuti hanyalah ajaran akhlak sebagaimana yang diisyaratkan oleh Kang Jalal atau termasuk ajaran muamalahnya (dengan contoh keuangan dan perbankan syariah). Dan sebagaimana yang dianjurkan oleh Nurcholish Madjid, Islam sebagai agama publik akan bangkit. Gejala itu pun sudah tampak dalam aliran “Islam progresif” yang sejalan dengan Islam liberal yang dipelopori oleh generasi muda.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: