• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Kejaksaan Tinggi menyatakan al Qiyadah al Islamiyah sesat?

Sore ini lihat acara TV lagi, kebetulan abis hujan dan keluar dari kamar bersama anak-anak. Berita di TV: Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta menetapkan aliran Al Qiyadah Al Islamiyah sebagai aliran sesat.

Lho, apa relevansinya Kejaksaan dengan sesat/tidak sesat? Bukannya kewenangan kejaksaan berada di wilayah hukum? Bukannya belum ada pengadilan yang membuktikan bersalah/tidak bersalah?

Kalau lembaga agama, boleh deh menggunakan bahasa sesat. Tapi kalau lembaga hukum seperti Kejaksaan, bukankah bahasanya adalah melanggar hukum dan dibuktikan secara hukum? Apakah ada tindakan kriminal yang dilakukan dan seberapa berbahaya bagi negara sehingga harus dilarang oleh negara?

Mmmm… just don’t get the point and logics. Sorry…

Satu Tanggapan

  1. MUI atau Dewan Gereja Indonesia atau lembaga sejenis itu hanya bisa memberikan rekomendasi adanya kegiatan/aliran sesat seperti AlQiyadah atau Ahmadiyah atau Gereja Setan atau Children of God dsb.
    lembaga2 tsb adl contoh2 representasi umat agama formal. mereka tdk memiliki hak/otoritas eksekutorial dlm menanggapi aliran sesat dlm agamanya. representasi langkah aktualnya nya ada pd lembaga/pejabat2 hukum sesuai dgn amanat UU positif seperti kejaksaan, kepolisian atau peradilan. kejaksaan mengatakan sesatnya suatu aliran krn ada rekomendasi dr perwakilan umat agama formal bukan hanya asal bicara saja.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: