• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Buku Lawatan Duta Cahaya

Baru saja upload buku tentang Eden. Isinya mengenai catatan perjalanan Salamullah/Komunitas Eden menyusuri tanah Jawa hingga Bali untuk menyampaikan pesan-pesan Tuhan. Perjalanan in terjadi pada 27-19 Agustus 2003. Ada 2 tema besar yang diperintahkan Malaikat Jibril untuk disampaikan dalam perjalanan itu. Yang pertama adalah menyampaikan peringatan mengenai kemusyrikan. Yang kedua adalah pesan tentang pengajaran Islam [...]

LDC (21): Lawatan Perdamaian, Sagas – Teguran Tuhan

Setelah keberangkatan ke Bali sempat tertunda karena jadwal sidang Bom Bali yang diundurkan, akhirnya kami berangkat bersama pada hari Senin, 19 Agustus 2003. Rombongan dari Pandaan berangkat semua kecuali Satya yang mendapat ujian untuk tinggal dan menjaga rumah Pandaan sementara kami semua pergi ke Bali.

LDC (13): Lawatan Tauhid, Sapaan

Teguran dan nasihat Malaikat Jibril mengenai perjalanan Lawatan Duta Cahaya.

LDC (27): Lawatan Perdamaian, Next Journey

Hujan di Bandung dan hari terakhir perjalanan bagaikan sebuah rahmat Allah bagi kami. Sudah 34 hari kami melangkah sejak dari Jakarta, menyusuri Jawa hingga Bali, tak pernah sekalipun kami menjumpai hujan. Dan hujan itu betul-betul terasa sebagai nikmat yang menjadi penutup perjalanan kami.

LDC (26): Lawatan Perdamaian, Ujian Pribadi

Perjalanan panjang selama 34 hari bersama-sama bukanlah perjalanan yang mudah. Walaupun banyak hal-hal yang menyenangkan dan tugas-tugas padat yang harus kami selesaikan, gesekan-gesekan tak bisa dihindarkan sama sekali selama perjalanan. Kebiasaan hidup dan karakter yang berbeda membuat kami harus mampu mengendalikan diri dan bertoleransi satu sama lainnya. Dalam kondisi sadar, hal-hal semacam itu biasanya dapat [...]

LDC (25): Lawatan Perdamaian, Bulan Kembar

Sewaktu masih di Pandaan, Mbak Dunuk mendapat email dari Chippy tentang kemunculan planet X yang menjadi fenomena langka semesta. Di dalam email itu diceritakan tentang kemunculannya sejak awal bulan Agustus dan mencapai puncaknya pada tanggal 27 Agustus dan digambarkan sebagai bintang yang sangat terang di langit.

LDC (24): Lawatan Perdamaian, Jejak Silaturahmi

Kunjungan silaturahmi dan doa untuk bangsa di PP Langitan Tuban (tempat Ust. Abdullah Faqih), PP Tebuireng Jombang (KH Yusuf Hasyim), Buntet Cirebon (KH Abdullah Abbas), Az Zaytun Indramayu, Masjid Salman, dan Yayasan Muthahhari Bandung.

LDC (23): Lawatan Perdamaian, Rahmat bagi Semesta

Menyampaikan pesan perdamaian kepada Ust. Abu Bakar Ba’asyir di PP Ngruki, Ust. Ja’far Umar Thalib (mantan pemimpin Lasykar Jihad) di PP Ihya As Sunnah Kaliurang.

LDC (22): Lawatan Perdamaian, Persidangan Bom Bali

Menyampaikan pesan Malaikat Jibril kepada para teroris bom Bali, antara lain Imam Samudra.

LDC (20): Lawatan Perdamaian, Terlarang Membunuh

Hari itu sebagian besar teman-teman pergi ke Gunung Bromo sementara Bunda tinggal di Pandaan bersama Nur. Aku sendiri pada waktu itu sedang berada di Madiun bersama Lala untuk menjenguk Ibuku yang kambuh lagi sakitnya.