• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Tanpa kekerasan, tanpa kekebalan

Akhir-akhir ini, ada dua ekspresi beragama yang cukup mencuat di publik.

Yang pertama adalah kekerasan mengatasnamakan agama. Atas nama pembelaan terhadap kemuliaan Tuhan dan agama, sekelompok orang menghalalkan dan mempraktekkan kekerasan kepada orang lain yang dianggap sesat atau berbeda. Dalam bentuk ekstrem, kita pernah menyaksikannya dalam bentuk bom Bali. Dalam skala yang lebih kecil (walaupun tetap saja mengkhawatirkan), penyerangan dan anarkisme mengatasnamakan agama sering kita saksikan di berbagai kota di Indonesia. Yang terakhir adalah penyerangan FPI terhadap massa AKKB yang sedang melakukan aksi damai di Monas dan aksi balasan terhadap FPI di Cirebon/Yogya.

Menyikapi kekerasan yang dilakukan FPI, ada lagi ekspresi beragama yang berbeda, tetapi juga mengkhawatirkan (dari sisi religius). Itulah penggunaan ilmu klenik kekebalan yang mengatasnamakan ajaran Tuhan.

Buatku, rasanya seperti de ja vu. Rasanya teringat perjalanan yang pernah diperintahkan Malaikat Jibril di Eden pada tahun 2003. Pada waktu itu, aku ikut perjalanan menyampaikan peringatan Tuhan dari satu kota ke kota lain. Kami mendatangi dua kelompok besar, yaitu kelompok radikal dan makam2 keramat. Di kelompok radikal, kami menyampaikan pesan Tuhan agar mereka menebarkan Islam yang sejuk dan menjaga Islam dari kekerasan mengatasnamakan ajaran Tuhan. Di makam-makam walisongo, kami menyampaikan peringatan tentang kemusyrikan yang dibalut ajaran Islam. Catatan mengenai perjalanan itu pernah aku tuliskan” “Lawatan Duta Cahaya”. Ceritanya bisa dibaca di SINI, bukunya bisa didownload di SINI.

Duh.. sekarang dua kelompok yang diperingatkan Tuhan itu sedang berhadapan dengan “kebenaran” nya sendiri-sendiri. Yang satu menggunakan bambu dan pentungan, yang satunya lagi menggunakan ilmu kekebalan. Duh… ternyata tak mudah ya memelihara spiritualitas yang jernih sekaligus anti-kekerasan..

***

Tuhan, kami bermohon perlindungan untuk semua umat-Mu yang mencintai-Mu dan memelihara kesuciannya di manapun berada. Amin.

Satu Tanggapan

  1. Mau nya seh,jgn ada kekerasan lagi..

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.