“Kalau saya cuma sekedar menyingkir dari kerumunan, saya pasti selamat,” kata Guntur Romli saat kami menengoknya di RSPAD Gatot Subroto.
“Tapi saya tidak tahan melihat anak kecil yang digendong bapaknya dipukul. Juga ibu-ibu yang dipukuli dengan bambu. Saya mencoba menghalangi mereka (yang menyerang), tapi saya justru yang menjadi sasaran mereka. Hidung saya bergeser ditusuk dengan bambu mereka.”
Saat kami membezuknya siang kemarin (2/6), Guntur masih lemah dengan wajah dipenuhi dengan perban. Malam usai mengalami cidera itu, dia harus mengalami operasi hidung selama 3 jam akibat tusukan massa FPI. Mata kanannya hitam legam seperti terkena benda tumpul. Mata itu sempat berdarah, tetapi Guntur tak terlalu bercerita sakitnya.
Muhammad Guntur Romli adalah aktivis muda NU dan Direktur Jurnal Perempuan. Dia menjadi salah seorang korban diantara puluhan korban akibat penyerbuan FPI pada massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) pada 1 Juni 2008.
Tak lama setelah kami datang, Bapak dan Ibu Guntur datang dari Situbondo. Ibu Guntur sempat menangis terpukul melihat kondisi puteranya, tetapi kemudian berangsur tenang. Sementara itu, Bapaknya yang seorang kyai tampak tenang menghadapi semuanya.
Hari itu juga, kami bezuk ke seorang bapak peserta AKKBB yang juga dirawat di RSPAD. Wajahnya terlihat lebam. Beliau menceritakan bahwa pemukulan-pemukulan yang dialaminya itu karena dia melindungi isterinya dan ibu-ibu yang dipukuli.
***
Duh… kekerasan mengapa begitu mudah diluapkan? Di mana hati nurani?
DIarsipkan di bawah: Diari, intoleransi, peristiwa, religi | Ditandai: AKKBB, Guntur Romli, islam, Jurnal Perempuan, kekerasan, korban, religi