• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Guntur: “Saya tidak tahan melihat anak-anak dan ibu-ibu dipukuli”

“Kalau saya cuma sekedar menyingkir dari kerumunan, saya pasti selamat,” kata Guntur Romli saat kami menengoknya di RSPAD Gatot Subroto.

“Tapi saya tidak tahan melihat anak kecil yang digendong bapaknya dipukul. Juga ibu-ibu yang dipukuli dengan bambu. Saya mencoba menghalangi mereka (yang menyerang), tapi saya justru yang menjadi sasaran mereka. Hidung saya bergeser ditusuk dengan bambu mereka.”

Saat kami membezuknya siang kemarin (2/6), Guntur masih lemah dengan wajah dipenuhi dengan perban. Malam usai mengalami cidera itu, dia harus mengalami operasi hidung selama 3 jam akibat tusukan massa FPI. Mata kanannya hitam legam seperti terkena benda tumpul. Mata itu sempat berdarah, tetapi Guntur tak terlalu bercerita sakitnya.

Muhammad Guntur Romli adalah aktivis muda NU dan Direktur Jurnal Perempuan. Dia menjadi salah seorang korban diantara puluhan korban akibat penyerbuan FPI pada massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) pada 1 Juni 2008.

Tak lama setelah kami datang, Bapak dan Ibu Guntur datang dari Situbondo. Ibu Guntur sempat menangis terpukul melihat kondisi puteranya, tetapi kemudian berangsur tenang. Sementara itu, Bapaknya yang seorang kyai tampak tenang menghadapi semuanya.

Hari itu juga, kami bezuk ke seorang bapak peserta AKKBB yang juga dirawat di RSPAD. Wajahnya terlihat lebam. Beliau menceritakan bahwa pemukulan-pemukulan yang dialaminya itu karena dia melindungi isterinya dan ibu-ibu yang dipukuli.

***

Duh… kekerasan mengapa begitu mudah diluapkan? Di mana hati nurani?

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.