“Ada lebih seratus wanita tua muda dan anak2 yang hidupnya dibawah standard kesehatan Lombok, karena sudah lebih 2 tahun mereka tinggal di Transito.
Di Manislor ada sekitar 2000 perempuan tua muda dan anak hidup dibawah ancaman terror selama 2 tahun, mereka selalu gelisah, khawatir dan ketakutan jika sampai terjadi kekerasan, bentrokan akibat adanya penyerangan kembali.”
Begitulah sebagian potret para anggota Jemaat Ahmadiyah sebagaimana yang diceritakan seorang sahabat.
Apakah negara tidak mempedulikan mereka, yang juga adalah warga negara Indonesia, yang telah menjadi korban selama bertahun-tahun? Apakah suara korban hilang dan yang ada hanya suara para penentang yang mengatasnamakan mayoritas yang begitu jumawa memandang kemayoritasannya? Mengapa media massa hanya mengangkat isu konflik Ahmadiyah tanpa pernah mengangkat sisi-sisi kemanusiaan yang melintasi sekat-sekat perbedaan keyakinan?
Haruskah saling bunuh karena berbeda keyakinan? Haruskah membuat begitu banyak orang dan anak-anak terusir dari rumahnya dan hidup dalam ketakutan karena mereka dinilai sesat oleh manusia?
Apakah para penentang Ahmadiyah pernah memikirkan ibu dan anak-anak korban penyerangan dan intimidasi yang mereka lakukan? Jangan-jangan tidak…. jangan-jangan dalam keyakinan mereka hanya ada kata sesat, serang, usir, bunuh… jangan-jangan mereka memandang para Jemaat Ahmadiyah hanya seonggok daging yang bebas ditumpahkan darahnya dan diperlakukan apa saja…
Bukankah mereka juga manusia seperti kita dan keluarga kita?
DIarsipkan di bawah: intoleransi, peristiwa, religi | Ditandai: ahmadiyah, islam, korban, lombok, manislor, religi