• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Bunda menulis risalah baru

Dari Eden, aku mendapat berita bahwa Paduka Bunda Lia Eden sedang menulis risalah baru lagi. Bunda sedang diperintahkan untuk menuliskan pesan-pesan Ruhul Kudus dan wahyu Tuhan mengenai berbagai peristiwa aktual yang sedang terjadi saat ini. Bersama dengan risalah itu, teman-teman Eden juga diperintahkan untuk menyiapkan beberapa VCD mengenai rangkaian bunga dan lainnya.

Kabar yang aku dengar, materinya adalah melanjutkan mengenai risalah sebelumnya yang sempat dituliskan usai pemenjaraan YM Muhammad Abdul Rachman. Materi risalah itu belum pernah dikeluarkan, dan sekarang diperintahkan untuk dilanjutkan kembali dengan tambahan-tambahan pesan yang baru.

Pesan-pesan yang turun itu sangat berat. Saking beratnya materi yang harus dituliskan Bunda, beberapa kali Bunda menghentikan proses penulisan itu. Betapapun, Bunda adalah manusia biasa dengan segala perasaan yang dimilikinya, rasa takut, khawatir, segan, malu, dan sebagainya. Terjadi pergolakan sebelum akhirnya Bunda melanjutkan tulisan itu kembali. Bunda juga sempat sakit yang membuat beliau memaksa diri untuk menuliskan pesan-pesan yang diterimanya. Biasanya, begitu pesan berat itu dituliskan, maka sakit yang diterima Bunda pun berangsur-angsur berkurang dan sembuh. Yang sekarang ini juga begitu.

Peristiwa “behind the scene” seperti ini jarang diketahui oleh orang di luar Eden. Banyak orang yang mengira Bunda megalomania, dengan berbagai pernyataan yang keluar melalui lisan dan tangan beliau mengenai Kerajaan Tuhan yang minta ditaati. Mungkin orang mengira Bunda gila hormat karena banyak pesan yang memerintahkan manusia untuk berkhidmat pada Kerajaan Tuhan Eden yang sedang diturunkan melalui Bunda. Padahal, Bunda itu selalu jengah dan “tahu diri” kalau harus menuliskan mengenai hal-hal semacam itu. Kalau boleh memilih, tentu Bunda dan teman-teman Eden tidak mau. Tapi, tentu saja sumpah untuk setia kepada Tuhan jauh lebih mengikat daripada suka atau tidak suka.

Juga, tak ada kebencian sedikit pun dalam diri Bunda terhadap umat Islam yang saat ini sedang banyak mendapat teguran dari Tuhan. Bunda sendiri lahir dan besar di kalangan Islam Bugis yang dikenal fanatik dalam agamanya. Komunitas Eden juga berasal dari masyarakat muslim, yang satu persatu terpanggil dan kemudian mengimani pesan Tuhan yang sedang diturunkan di Eden. Kalau sedang menuliskan pesan penghakiman yang berat, secara manusiawi Bunda dan teman-teman Eden juga takut. Tetapi, ketakutan kepada Tuhan membuat mereka lebih memilih menyampaikan pesan itu dibandingkan resiko yang harus diterimanya.

Apa dan bagaimana pesan yang sedang ditulis Bunda, aku sedang menunggu sampai selesai. Apakah risalah yang sedang dituliskan akan diluncurkan atau menjadi sekedar ujian, tak ada seorang pun yang tahu.

Satu Tanggapan

  1. “Komunitas Eden juga berasal dari masyarakat muslim, yang satu persatu terpanggil dan kemudian mengimani pesan Tuhan yang sedang diturunkan di Eden. Kalau sedang menuliskan pesan penghakiman yang berat, secara manusiawi Bunda dan teman-teman Eden juga takut. Tetapi, ketakutan kepada Tuhan membuat mereka lebih memilih menyampaikan pesan itu dibandingkan resiko yang harus diterimanya.”
    apa ini? apakah memang benar bahwa Tuhan memerintahkan bunda utk menulis atau mengabarkan ttg pesan penghakiman yang dapat melukai perasaan umat agama lain?
    ga usah lah minta pembenaran dari (umat) Islam. Silahkan saja buat sistem kepercayaan baru tanpa harus dikait-kaitkan dengan (ajaran) Islam.

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.