Di dalam pengajaran-pengajaran Tuhan di berbagai tradisi agama, banyak sisi-sisi menggentarkan sekaligus mempesona mengenai kemisterian Ilahiah. Maksudku, Tuhan sifat dan cara kerja Tuhan itu luar biasa. Tuhan selalu melampaui kepastian-kepastian yang dibuat manusia yang ingin mendefinisikan tentang Dia, Sifat-Nya, dan Cara-Nya bekerja.
Repotnya, sebagai manusia kita itu memang sulit sekali untuk lentur. Kita selalu membutuhkan pemahaman. Dan pemahaman itu (yang awalnya adalah alat untuk mengenal-Nya), lama-lama berubah menjadi nilai dan definisi mengenai Dia.
Kemisterian Ilahiah itu selalu menggentarkan. Saat menemuinya, kita distretch sampai pada batas-batas kemanusiaan kita, keluar dari comfort zone kita, dan berkonfrontasi dengan “diri kita” hingga terpapar pada kondisi diri kita yang paling renta. Apa pilihan kita, apa nilai-nilai terdalam kita? Rasanya bagaikan tantangan untuk sebuah “permainan kemustahilan”, game of impossibilities. Tapi ini bukan permainan, tapi kehidupan nyata.
Pada saat bersamaan, kemisterian ilahiah itu begitu mempesona. Pesona-Nya dan kenikmatan bersama-Nya yang tak terbatas itu tak dapat membuat kita terpaling sedikit pun dari-Nya. Dia bukanlah entitas eksternal yang menjadi candu bagi kita. Tapi Dia adalah yang ada, sejati, yang tak terkatakan, berada dalam persona kita sekaligus melampauinya. Entahlah apa dan siapa Dia, tapi pesona-Nya memang luar biasa.
***
Ada tiga bagian dari kitab suci yang membuatku gentar sekaligus terpesona oleh misteri Keilahian-Nya. Yang pertama adalah dialog-dialog dalam kitab Ayub di Perjanjian Lama. Yang kedua adalah kisah Musa-Khidir di dalam Al Quran surat Al Kahfi. Yang ketiga adalah dilema-dilema kebenaran menjelang dan selama perang Bharatayudha.
Tentu saja, ada satu pelajaran besar mengenai kemisterian Ilahiah dari Bapak Para Nabi, yaitu kisah ujian penyembelihan anak pada Ibrahim.
***
Tuhanku, cintaku. Terima kasih Engkau telah menyibakkan setitik cahaya-Mu untukku melalui kehendak-Mu yang sedang Engkau turunkan melalui Eden. Aku terpesona Tuhan, tapi jujur aku katakan bahwa aku juga gentar…
Kuatkan aku sehingga mampu meluruhkan diriku di dalam kehendak-Mu. Apapun itu…
DIarsipkan di bawah: eden, refleksi, religi | Ditandai: ayub, eden, ibrahim, ilahiah, khidir, khidr, musa, religi