• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Sentimen anti-Islam di Eropa

Akhir-akhir saat ini, sentimen anti-Islam sedang meningkat di Eropa. Dua kejadian terakhir yang diangkat media massa memberikan indikasi sentimen ini. Tentu saja ada peristiwa-peristiwa lain yang tidak diangkat media massa karena bersifat lokal atau dinilai tidak layak berita. Dua peristiwa terakhir adalah beredarnya film “Fitna” buatan anggota parlemen Belanda dan pementasan “Ayat-ayat Setan” di Jerman.

Jangan terprovokasi film Fitna

Umat Islam sedang dalam ujian. Sikap mereka akan menjadi penentu kualitas spiritualnya. Ujian itu berasal dari film Fitna, besutan Geert Wilders. Setelah diputar dan ditautkan di liveleak, film itu mendapat tentangan keras dari berbagai penjuru dunia.

Menimbang Ramalan Jayabaya

Hari ini ada tulisan opini menarik di Kompas Cetak mengenai Indonesia dan Ramalan Joyoboyo:

Mencermati karut-marut kehidupan bernegara dan berbangsa Indonesia dewasa ini mengingatkan kita pada Ramalan Jayabaya. Jauh sebelum bangsa ini terbentuk, Jayabaya telah memberikan ramalan untuk Tanah Jawa. Seruan prediktifnya kian terasa kebenarannya bukan hanya untuk Tanah Jawa, tetapi juga Indonesia sebagai bangsa.

WS Rendra, Kalabendu, dan Ratu Adil

“Situasi Indonesia saat ini seperti zaman Kalatida dan Kalabendu sebagaimana yang digambarkan oleh Ronggowarsito,” kata WS Rendra dalam pidato penganugerahan gelar doktor honoris causa di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta (Selasa, 4/3/2008). Judul pidato WS Rendra adalah “Megatruh Kambuh:Renungan Seorang Penyair dalam Menanggapi Kalabendu.”