Hari Minggu (17/2), Wahana Kebangsaan mengadakan pertemuan bulanan di kediaman Umar Iskandar di Pondok Gede, Bekasi. Pertemuan kali ini mengambil tema “Aliran Kepercayaan Sumarah”. Tema tentang Aliran Kepercayaan ini diangkat sebagai salah satu cara untuk membangun penghormatan dan apresiasi antar-keyakinan yang menjadi spirit dasar Wahana Kebangsaan. Kebetulan, ada salah seorang aktivis di Wahana Kebangsaan yang memiliki latar belakang “Paguyuban Sumarah”, sebuah aliran kepercayaan Jawa.
Sharing mengenai Sumarah dilakukan oleh Budi Monareh. Budi menceritakan sejarah Sumarah yang didirikan oleh pak Sukino pada tahun 1933. Sebagai seorang Jawa yang gemar melakukan tirakat pengendalian diri, Sukino mendapat serangkaian pengalaman rohani dan pewahyuan dari Tuhan. Tetangga di sekitarnya melihat sebuah cahaya besar jatuh di rumah Sukino. Sukini juga mendapatkan bimbingan Tuhan untuk membimbing manusia agar tunduk pasrah kepada Tuhan. Beberapa nubuat juga diterima Sukino, termasuk mengenai kemerdekaan.
Sumarah bukanlah agama, bukan perdukunan, pengikut Sumarah menyembah Tuhan yang Maha Esa; demikian penekanan Budi mengenai Sumarah. Ajaran inti Sumarah adalah “berserah diri secara mutlak kepada Tuhan” sesuai namanya, yaitu “Sumarah” yang berarti berserah diri (surender to God). Di dalam Sumarah, ada anggota yang tetap memeluk agama-agama yang diyakininya, tetapi ada juga yang menjalani Sumarah sepenuhnya. Praktek meditasi dan penerimaan pesan Tuhan (saat meditasi) menjadi bagian utama di dalam aktivitas Sumarah.
Setelah mengutarakan sharingnya, para hadirin ikut memberikan sharing dan pemahaman spiritualitasnya. Acara semacam ini bukan lagi menekankan pada toleransi untuk keyakinan yang berbeda, tetapi menumbuhkan spirit apresiasi dan kesediaan mengambil pelajaran dari keyakinan yang berbeda.
Irsa Bastian, ketua Wahana Kebangsaan, memberikan sharing tentang Kejawen secara umum. Tentang kehendak pensucian diri yang selalu ada di setiap komunitas, tentang kesamaan inti-inti setiap ajaran yaitu kepasrahan diri kepada Tuhan. Juga, tentang pembimbingan Tuhan yang selalu diturunkan kepada orang-orang yang mensucikan diri dari kelompok apapun. Nubuat-nubuat pun diturunkan kepada tokoh-tokoh di kalangan ini.
Sharing juga dilakukan oleh Oscar (aktivis Universal Peace Federation) yang menceritakan pengalaman spiritual Dr. Sun Myung Moon. Deddy Bebas dan hadirin lain juga menyampaikan sharingnya.
Diskusi hari itu sangat intens. Walaupun ada perbedaan-perbedaan pandangan, semuanya disampaikan dalam spirit kecintaan kepada Tuhan dan kehendak hidup selaras bersama-Nya.
DIarsipkan di bawah: Diari, Perjalanan, religi | Ditandai: religi, sumarah, wahana kebangsaan
Salam kenal
Numpang ikut baca-baca dan ngangsu kawruh,
Mugi wilujeng rahayu ingkang sai pinanggih
sabdalangit’s web
kejawen
“Jalan setapak menggapai spiritualitas sejati”
“Membangun bumi nusantara yang berbudi pekerti luhur”