Walaupun pemerintah sudah memberikan jaminan terhadap Ahmadiyah, penyerbuan dan perusakan masih terus berlangsung. Senin, 18/2/2008, masjid Ahmadiyah di Majalengka diserbu dan dihancurkan massa.
Pfuih… ekspresi keagamaan sudah semakin memburuk. Hendak ke mana ajaran agama? Hendak ke mana Indonesia yang membiarkan kekerasan demi kekerasan terus berlangsung?
Berita selengkapnya:
Lagi, Masjid Ahmadiyah Dirusak
MAJALENGKA-Aksi pengrusakan masjid Ahmadiyah kembali terjadi di Kabupaten Majalengka. Kemarin (18/2), ratusan massa merusak Masjid Al Istiqomah Blok Rekesan Desa Sadasari Kecamatan Argapura. Tak hanya masjid yang dirusak, tempat belajar jemaat Ahmadiyah juga dihancurkan massa. Bahkan, meja belajar dan bangku ludes dibakar diluar gedung. Padahal sebelumnya, Bupati Hj Tutty Hayati Anwar SH MSi bersama muspida dan tokoh agama beserta tokoh Ahmadiyah, melakukan pertemuan di gedung Yudha Setda Majalengka. Dari pantauan Radar kemarin, aksi massa yang dilakukan sekitar pukul 11.30 WIB telah menghancurkan
tempat ibadah yang memang sebelumnya sudah dirusak.Puing-puing genteng dan kaca serta arang bekas kayu yang dibakar, nampak disekitar lokasi. Dua rumah warga Ahmadiyah yakni milik Sarta (50) dan Rais (60) menjadi sasaran massa dan mengalami kerusakan dibagian atapnya.
Warga Ahmadiyah nampak trauma dengan aksi pengrusakan kelima kalinya sejak 2005 lalu tersebut. Massa juga menyegel pintu Masjid Al Istiqomah dengan menggunakan kayu. Sejumlah anggota polisi dari Polres Majalengka nampak bersiaga di sekitar kejadian. “Massa nampak beringas dan tidak bisa dikendalikan. Saya juga lari menyelamatkan diri ke rumah tetangga,” kata Ma Iin (55) warga Ahmadiyah saat ditemui Radar, kemarin.
Diceritakan Ma Iin, ratusan massa yang datang dari arah utara itu melakukan pengrusakan selama satu jam. Mereka, kata dia, ada yang membawa linggis, golok dan senjata tajam lainnya. Dari ratusan massa, tak sedikit yang naik ke atap dan menghancurkan genteng baik itu masjid dan madrasah milik Ahmadiyah. Dari ratusan massa yang merusak, kata Ma Iin sebagian ada anak-anak. Sebelum terjadi pengrusakan, kata dia, terdengar bunyi kokol (kentongan, red) dari arah utara.
“Sebanyak 18 meja belajar dan 25 kursi ludes dibakar, hanya tinggal tiga meja saja, itupun kondisinya sudah rusak,” kata seorang warga Ahmadiyah, sambil menggendong anaknya yang masih kecil.
Sementara itu, Camat Argapura Drs Oman Suratman menyebutkan, seusai pertemuan dengan Ibu Bupati dan muspida di setda, dirinya bersama muspika langsung menuju Desa Sadasari. Diceritakan Camat Oman, saat itu suasana di Blok Rekesan sepi. Tapi, ternyata di balai desa sudah ada ratusan massa yang rupanya menantikan hasil pertemuan tokoh agama setempat dengan bupati. Dikatakan Camat Oman, pihaknya sudah berusaha untuk menjelaskan kepada masyarakat hasil pertemuan di setda. Hanya saja, penjelasan yang disampaikan tidak cukup untuk meredam emosi massa.
“Kami sudah berusaha untuk meredam emosi warga, tapi tidak berhasil. Rupanya ada tiga kelompok massa yang ada saat itu dan jumlahnya ratusan orang,” ungkap Camat Oman seraya berharap agar warga Ahmadiyah juga mentaati kesepakatan yang telah dicapai.
Ditambahkan Camat Oman, warga Ahmadiyah di Sadasari jumlahnya tidak mencapai ratusan. Berdasarkan data dari desa, kata Camat, jumlahnya hanya sekitar 24 kepala keluarga (KK) atau 88 jiwa. Aksi massa, imbuh Camat dilakukan hanya kepada tempat ibadah dan madrasah saja. “Tidak ada korban jiwa ataupun terluka akibat aksi massa ini,” ujarnya.
Kapolres Majalengka AKBP Drs M Gagah Suseno menyatakan, pihaknya tengah melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi. Dikatakan Kapolres Gagah, pihaknya kembali menyiagakan anggotanya untuk mengantisifasi terjadinya hal yang tidak diinginkan. “Kita menyiagakan kembali anggota di TKP,” kata Kapolres Gagah di lokasi didampingi Dandim 0617 Letkol Inf Drs Sigit TN dan Kajari Tonny Sinay SH.
Secara terpisah, Ketua Gerakan Anti Maksiat (GAM) Kabupaten Majalengka OS Adenan menyerahkan penanganan kasus Ahmadiyah di Sadasari ini kepada pemerintah dan aparat penegak hukum, sebab itu merupakan tanggungjawabnya. (ara)
(Sumber: Radar Cirebon)
DIarsipkan di bawah: intoleransi, peristiwa, religi | Tagged: ahmadiyah, intoleransi, majalengka, religi