Dalam pemahaman Eden, Tuhan menepati janji-Nya kepada umat-Nya selama umat-Nya memenuhi perjanjian yang telah diikatnya dengan Tuhan. Kalau umat-Nya tak memenuhi perjanjian, maka dimungkinkan turun teguran Tuhan dan Wahyu baru.
Apa itu perjanjian dengan Tuhan yang harus ditepati oleh oleh umat Yahudi, Kristen, Islam, dan siapapun yang mencintai-Nya?
Pokok terpenting dari peringatan Tuhan yang bersifat umum dan berlaku pada kaum yang manapun juga (termasuk umat Islam) adalah pentingnya menepati perjanjian dengan Tuhan. Betapapun Tuhan memuji, meridhoi, meninggikan sebuah kaum, tetapi jika kaum tersebut melanggar perjanjiannya dengan Tuhan, maka pujian dan ketetapan Tuhan itu dapat dianulir Tuhan, bahkan berganti menjadi teguran dari-Nya. Dan sebuah kaum dapat digantikan Tuhan dengan kaum yang lain, sebuah ketetapan lama dapat digantikan Tuhan dengan ketetapan yang baru.Demikianlah, Kitab Suci memang mencatat pujian terhadap suatu kaum; sebagaimana pujian kepada kaum Yahudi, Kristen, dan Islam. Tetapi sejarah mencatat bagaimana pujian Tuhan itu berganti menjadi kritik Tuhan pada masa berikutnya ketika umat yang dipuji tak menepati perjanjiannya dengan Tuhan.
Pujian Tuhan kepada umat awal Yahudi:
Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi.
(Keluaran 19:5)Pujian Tuhan kepada umat awal Kristen:
“Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi.”
(Kisah Para Rasul 13:47)Pujian Tuhan kepada umat awal Islam:
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.
(QS Ali Imron 3:110)Tetapi pujian Tuhan bukanlah sebuah hal yang statis dan menjadi hak yang dimiliki sepanjang masa. Pujian Tuhan kepada sebuah kaum merupakan tanggung jawab yang harus diperjuangkan dan dibuktikan kaum tersebut di dalam kehidupan masyarakat. Pujian Tuhan tak boleh digunakan untuk kesombongan dan digunakan untuk merendahkan kelompok lain, apalagi menjadi dasar untuk melakukan permusuhan dan kekerasan terhadap pemeluk agama lain. Jika pujian itu disalahgunakan, maka nilai pujian itupun hilang dan berbalik menjadi teguran Tuhan.
Perjanjian yang harus ditepati oleh umat manusia yang dipuji dan ditinggikan Tuhan adalah keesaan Tuhan (Tauhid, absolute-monotheism) serta spirit beragama yang suci dan luhur. Itulah yang disebutkan Musa di dalam hukum Taurat:
“Dengarlah. Hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”
(Ulangan 6:4-5)Sebagaimana yang diajarkan Yesus dalam Injil:
“Guru, hukum manakah yang terutama dalam Taurat? Jawab Yesus kepadanya:”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
(Matius 22:36-40)Sebagaimana Al Quran menyatakan:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ”Sembahlah Allah dan jauhilah Taghut (berhala, tiran)“
(QS An Nahl 16:36)Sebagaimana Nabi Muhammad menasihatkan:
“Tiadalah kamu dikatakan beriman sampai kamu mengasihi saudaramu (sesama manusia) sebagaimana kamu mengasihi dirimu sendiri.”
Itulah Ruh Agama yang sejati.
Maka ketika Ruh Agama yang merupakan perjanjian antara umat yang dipilih Tuhan dengan Tuhan itu dilanggar, adalah hak bagi Tuhan untuk membatalkan perjanjian-Nya dengan kaum tersebut, serta menggantikan kaum tersebut dengan kaum yang baru. Demikian prinsip ini menjelaskan dinamika sejarah agama dan para rasul yang telah terjadi dan akan terjadi kapan pun kondisi-kondisi itu terpenuhi.
Sekali lagi, kami menegaskan bahwa Tuhan telah menyatakan mengenai dinamika sejarah agama dan respon tipikal dari para penentang (orang-orang kafir) terhadap Wahyu-wahyu Tuhan yang sedang diturunkan-Nya.
“Dan apabila Kami ganti satu ayat menempati ayat yang lain sedang Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata, “Sesungguhnya engkau mengada-ada.” Bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Katakanlah, “Yang menurunkannya adalah Ruhul Kudus (Jibril) dari Tuhanmu dengan benar supaya meneguhkan (hati) orang-orang yang beriman dan sebagai petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
(QS An Nahl 16:101-102)(Kutipan dari Pleidoi Eden)
DIarsipkan di bawah: eden, pleidoi, refleksi, religi | Ditandai: eden, religi, umur umat