Kalau Tuhan terus menerus menurunkan wahyu-Nya, bagaimana menilai pewahyuan baru?
Begini pandangan Eden:
Dalam konteks ini, kedatangan Wahyu dan kaum baru itu (di manapun dan kapan pun) niscaya untuk menegaskan kembali Ruh Agama. Ruh Agama itu adalah Islam dalam pengertiannya yang generik, yang menjadi ajaran seluruh nabi. Dalam artian generik, Islam bermaknakan prinsip kehidupan yang tunduk pada hukum semesta Tuhan. Islam dalam pengertian ini niscaya kekal. Tetapi Islam dalam pengertian lembaga tidaklah kekal sebagaimana Yahudi dan Kristen dalam pengertian kelembagaan tidaklah kekal karena Tuhan senantiasa turun dan berkehendak kapan pun Dia menghendaki.
Maka, ketika ada sebuah klaim mengenai Tuhan yang menyejarah, yang penting ditanyakan bukanlah apakah Tuhan mungkin turun kembali, karena Tuhan senantiasa dimungkinkan untuk menyejarah kembali. Tetapi yang penting untuk ditanyakan adalah: apa pesan yang diturunkan-Nya, sejauh mana relevansinya dengan masalah-masalah nyata yang dihadapi umat manusia pada zamannya, dan apa buah yang dihasilkan pada para pengikutnya.
Buah akhlak/moralitas yang tertinggal pada sosok-sosok yang menyatakan diri sebagai pembawa pesan Tuhan adalah ukuran yang mudah dilihat dan nyata daripada klaim-klaim kebenaran yang keluar dari kelompok yang manapun juga. Apakah ajaran itu meninggalkan buah kejernihan hubungan dengan Tuhan (tauhid), keikhlasan, cinta, keadilan, dan kerendahan hati pada para pengikutnya? Apakah para pengikutnya memancarkan aura kesucian dan ketenangan yang terpancar dari diri mereka? Jika akhlak mulia yang terpancar, niscaya sosok-sosok itu berasal dari sebuah ajaran yang benar dari Tuhan.
Sebaliknya, jika sebuah ajaran menghasilkan buah berupa orang-orang yang memancarkan aura buruk, hatinya dipenuhi kebencian, sorot matanya penuh kemarahan, kata-katanya penuh hujat dan celaan, hidupnya adalah kemunafikan, niscaya buah itu berasal dari ajaran yang buruk apapun klaim kebenaran yang keluar dari ajaran itu.
Buah-buah ajaran, yaitu kualitas moral/akhlak para pengikut ajaran adalah tolok ukur yang dapat digunakan untuk menilai sebuah klaim dan ajaran. Tolok ukur itu pula yang dapat digunakan untuk membedakan pengajaran yang benar dengan ajaran yang salah; antara nabi yang benar dan nabi yang palsu. Sebab, akhlak dan moralitas melampaui klaim, doktrin dan ajaran apapun.
Dari uraian mengenai sejarah agama ini, kami ingin menyatakan bahwa kehadiran Tahta Suci Kerajaan Tuhan Eden adalah bagian dari dinamika sejarah sosial keagamaan di dalam peradaban umat manusia. Kehadiran sebuah keyakinan baru yang berbeda dengan keyakinan yang telah ada tak dapat dipandang sebagai penodaan terhadap keyakinan yang lama. Agama Kristen tak dapat dinilai menodai Yahudi, agama Islam tak dapat dianggap menodai agama Kristen. Ketidakpercayaan dan ketidaksetujuan adalah sebuah hal, tetapi ketidakpercayaan dan ketidaksetujuan tak dapat dengan serta merta dianggap sebagai penodaan atas keyakinan, yang kemudian didakwakan di pengadilan.
(Kutipan dari Pleidoi Eden)
DIarsipkan di bawah: eden, pleidoi, refleksi, religi | Ditandai: eden, pledoi, pledooi, pleidoi, refleksi, religi