• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Hubungan pria-wanita di Eden

“Keselamatan untuk perempuan itu sederhana, yang penting taat suami…” begitulah kira-kira salah satu poin nasihat pernikahan yang diberikan seorang ustad dalam seremoni pernikahan sepupuku.

Sambil mengkritik gagasan kesetaraan gender dan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) yang dianggapnya bertentangan dengan ajaran Islam, Ustad itu menjelaskan tentang gagasan ketaatan isteri pada suami dengan mengisahkan tentang kemarahan malaikat kepada wanita karena menolak permintaan suami untuk berhubungan. Semua teologi itu dijelaskan dan dinyatakan valid dengan menyandingkannya pada otoritas “menurut hadits sahih”.

Terus terang mendengar ceramah seperti itu cukup mengejutkan buatku. Kebiasaan hadir hanya dalam resepsi pernikahan membuatku hampir tidak pernah mendengar ceramah-ceramah yang menurutku “bias gender”: perempuan diletakkan sebagai subordinat laki-laki. Keselamatannya di mata Tuhan bukan karena kualitas personalnya, tetapi karena ketundukannya pada otoritas suami.

Pandangan seperti itu berbeda dengan yang diajarkan dan terjadi di Eden. Kalau kriteria ketundukan pada suami sebagai ukuran utama kesalehan, para wanita di Eden tentu akan termasuk wanita-wanita yang tak saleh. Sebab, mereka menempatkan kesetiaan kepada Tuhan di atas ketundukannya kepada para suami.

Beberapa kali terjadi perceraian di dalam keluarga Eden, penyebabnya adalah karena para suami mengagungkan otoritasnya atas isterinya (tentu saja disandarkan pada pendapat para Ulama). Karena tidak sepakat dengan apa yang diyakini oleh isterinya, beberapa suami mengancam isterinya supaya memilih: Eden atau suami. Tentu saja ancaman pilihan seperti itu tidak sepadan dan ditolak oleh para wanita Eden, tetapi para suami cenderung tetap mendesakkan pilihan itu. Dan para wanita ini kemudian memilih imannya, tak tunduk pada suami karena lebih memilih Tuhan.

Di Eden, semua orang membawa dirinya sendiri di hadapan Tuhan. Suami tetap menjadi kepala dalam pengelolaan keluarga, tetapi hubungan suami-isteri tak ditata secara ketat berdasarkan gender, tetapi berdasarkan kesepakatan-kesepakatan saja antar suami-isteri. Tak ada dominasi suami, demikian pun tak ada dominasi isteri.

Saling mencintai, saling menghormati, saling berbagi. Bekerjasama dan bahu membahu di dalam keluarga, mandiri di dalam iman dan pertanggung jawaban kepada Tuhan. Semua setara di hadapan Tuhan.

Satu Tanggapan

  1. sejauh yang saya pahami sebenarnya wanita sangat dilindungi dalam qur’an. cukup setara. tapi sayangnya memang sebagian dari kita hanya bisa membacanya tapi tidak bisa memaknainya lebih baik..
    karena itu hanya sekedar bacaan, tanpa hati dan empati kali yaa.. masih harus banyak bebenah deh.

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.