• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Hari raya di Eden adalah Tahun Baru

Hari raya di Eden adalah pergantian tahun atau malam Tahun Baru. Bukan Idul Fitri, Natal, atau yang lain-lain, Ruhul Kudus sejak beberapa tahun yang lalu menyatakan bahwa hari raya Eden adalah malam Tahun Baru.

Konsepsi hari raya itu adalah milik semua orang, semua golongan, tak ada sekat-sekat diantara manusia. Dalam perayaan Tahun Baru, yang ada adalah manusia dan kemanusiaannya.

Yang menjadi tantangan dalam Tahun Baru adalah mengisinya dengan spiritualitas, pemaknaan dan kegiatan yang positif. Itulah momen kebersamaan yang bisa digunakan untuk meretas sekat-sekat perbedaan kelompok diantara umat manusia.

Hari ini adalah tanggal 31 Desember. Nanti malam akan ada perayaan Tahun Baru di Eden. Kegiatannya adalah internal, ditambah beberapa tamu sahabat Eden yang diundang. Yang aku dengar, malam Tahun baru 2007/2008 ini teman-teman Eden diperintahkan Ruhul Kudus mengenakan kain hitam perkabungan (bukan kain putih seperti biasa).

2 Tanggapan

  1. Sebenarnya pada awalnya ada kesamaan paham antara pandangan saya untuk tuhan dan pandangan eden. Sayangnya eden seperti hanya penyempurna beberapa agama2 yang telah ada (atau mengambil intisari dari agama2 yng telh ada) bukan agama sendiri yang benar2 muncul secara hakiki, selalu membandingkan dengan agama lain memperkuat pemahaman saya bahwasannya eden sama saja dengan agama lain. apalagi tentang hari raya, knapa setiap agama punya hari raya? apa untuk pesta rakyat? hehehe… kurang kerjaan aja orang2 ini

  2. Kalau dalam pemahaman saya, setiap ajaran Tuhan itu seperti rangkaian titik yang membentuk garis, bukan sebuah titik yang berdiri sendiri… Menciptakan momen utk refleksi itu kurang kerjaan ya mas? Salam… :)

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.