• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Kitab suci Eden

“Mana kitab suci Eden, saya ingin membaca konsepnya.” pertanyaan seperti itu relatif sering kudengar saat masih di Eden dulu.

Bahkan, dulu seorang rekan kerja di kantor yang aktivis masjid sempat bertanya kepadaku,”Bagaimana perkembangan Kitab Suci Eden? Sudah selesai ditulis?”

Hmmm… aku sempat agak bingung mendengar pertanyaan itu. Apakah pertanyaan itu tulus karena keingintahuan atau hanya iseng ingin meledek saja?

Just wondering, apa sih yang terbayang di benak orang mengenai Kitab Suci yang diyakininya? Apakah mereka mengira para Nabi dulu menerima satu buku yang dinamakan Kitab Suci dari Tuhan? Apakah mereka mengira para Nabi itu menulis sebuah buku yang kemudian diterbitkan dan didakwahkannya?

Aku curiga, ada pengajaran keagamaan yang missed. Atau, setidaknya ada konsepsi mengenai kitab suci yang masih belum “greg” di dalam diri.

Kertas itu belum ada di zaman Nabi Muhammad, apalagi Yesus (jadi jangan membayangkan ada buku yang dinamakan Kitab Suci pada waktu itu). Terus, tidak ada Nabi yang menuliskan Kitab Suci. Kitab Suci itu dituliskan/didokumentasikan puluhan bahkan ratusan tahun setelah meninggalnya Nabi yang bersangkutan.

Yang lebih esensi, apa sih Kitab Suci itu? Dalam cara pandang Islam (cara pandang agama lain bisa berbeda), Kitab Suci adalah kumpulan Wahyu Tuhan sebagai respon atas peristiwa-peristiwa yang dihadapi seorang Nabi. Jadi, selama Nabi itu hidup, selama itu pula Wahyu Tuhan terus turun dan tidak ada buku yang disebut Kitab Suci sebagaimana yang kita kenal dan baca pada saat ini.

***

Kembali tentang Eden, basic keyakinan Eden adalah mengimani seluruh ajaran (Kitab Suci) yang pernah diturunkan Tuhan sebelumnya. Pada saat bersamaan, Eden berpegang pada setiap Wahyu Tuhan yang sedang diturunkan-Nya melalui Bunda Lia.

Jadi, tidak ada Kitab Suci Eden karena Wahyu-wahyu Tuhan itu masih terus turun dan belum dikodifikasi menjadi sebuah buku.

Eden adalah history-in-making.

Satu Tanggapan

  1. Hmm, sepertinya ada persamaan dengan Bahai ya?

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.