“Mana kitab suci Eden, saya ingin membaca konsepnya.” pertanyaan seperti itu relatif sering kudengar saat masih di Eden dulu.
Bahkan, dulu seorang rekan kerja di kantor yang aktivis masjid sempat bertanya kepadaku,”Bagaimana perkembangan Kitab Suci Eden? Sudah selesai ditulis?”
Hmmm… aku sempat agak bingung mendengar pertanyaan itu. Apakah pertanyaan itu tulus karena keingintahuan atau hanya iseng ingin meledek saja?
Just wondering, apa sih yang terbayang di benak orang mengenai Kitab Suci yang diyakininya? Apakah mereka mengira para Nabi dulu menerima satu buku yang dinamakan Kitab Suci dari Tuhan? Apakah mereka mengira para Nabi itu menulis sebuah buku yang kemudian diterbitkan dan didakwahkannya?
Aku curiga, ada pengajaran keagamaan yang missed. Atau, setidaknya ada konsepsi mengenai kitab suci yang masih belum “greg” di dalam diri.
Kertas itu belum ada di zaman Nabi Muhammad, apalagi Yesus (jadi jangan membayangkan ada buku yang dinamakan Kitab Suci pada waktu itu). Terus, tidak ada Nabi yang menuliskan Kitab Suci. Kitab Suci itu dituliskan/didokumentasikan puluhan bahkan ratusan tahun setelah meninggalnya Nabi yang bersangkutan.
Yang lebih esensi, apa sih Kitab Suci itu? Dalam cara pandang Islam (cara pandang agama lain bisa berbeda), Kitab Suci adalah kumpulan Wahyu Tuhan sebagai respon atas peristiwa-peristiwa yang dihadapi seorang Nabi. Jadi, selama Nabi itu hidup, selama itu pula Wahyu Tuhan terus turun dan tidak ada buku yang disebut Kitab Suci sebagaimana yang kita kenal dan baca pada saat ini.
***
Kembali tentang Eden, basic keyakinan Eden adalah mengimani seluruh ajaran (Kitab Suci) yang pernah diturunkan Tuhan sebelumnya. Pada saat bersamaan, Eden berpegang pada setiap Wahyu Tuhan yang sedang diturunkan-Nya melalui Bunda Lia.
Jadi, tidak ada Kitab Suci Eden karena Wahyu-wahyu Tuhan itu masih terus turun dan belum dikodifikasi menjadi sebuah buku.
Eden adalah history-in-making.
DIarsipkan di bawah: eden, religi | Ditandai: eden, kitab suci, religi
Hmm, sepertinya ada persamaan dengan Bahai ya?