Benazir Bhutto, mantan perdana menteri Pakistan yang saat ini menjadi pemimpin oposisi tewas beberapa jam yang lalu (Kamis, 27/12/2007) akibat serangan bom bunuh diri. Serangan bom bunuh diri dilakukan pada saat Bhutto sedang melakukan demonstrasi bersama pada pendukungnya. Bhutto yang baru kembali 2 bulan dari pengasingan tewas bersama 10 orang lainnya. Sebelum bom bunuh diri ini, para pengikut Bhutto mengalami peristiwa bom bunuh diri terburuk di Pakistan yang menewaskan setidaknya 770 orang beberapa jam setelah kembalinya Bhutto dari pengasingan.
Berita ini disiarkan oleh kantor berita Agence France-Presse (AFP) beberapa menit yang lalu.
Meninggalnya Benazir Bhutto ini semakin menambah catatan buruk konflik dan kekerasan di Pakistan. Sepanjang tahun ini saja, terjadi lebih dari 40 serangan bunuh diri dengan korban paling sedikit 770 orang meninggal.
***
Aku agak terhenyak membaca berita itu yang diluncurkan oleh Yahoo 5 menit yang lalu.
Mengapa kekerasan demikian mudah meluap di Pakistan? Padahal negeri itu jelas-jelas menyatakan membangun bangsanya berdasarkan nilai-nilai agama? Nilai-nilai semacam apa yang difahami masyarakat negeri itu sehingga tak muncul solusi damai dan beradab di dalam masyarakatnya. Tetapi mengapa justru begitu banyak bom bunuh diri, juga konflik-konflik antar kelompok masyarakatnya?
Mudah-mudahan Indonesia tak mengikuti jejak Pakistan dalam tren kekerasan di masyarakat. Soalnya, gejala solusi kekerasan yang dibiarkan oleh negara sudah mulai terlihat banyak di negeri ini.
DIarsipkan di bawah: Diari, intoleransi, peristiwa | Ditandai: benazir bhutto, berita dunia, bom bunuh diri, kekerasan, Pakistan
Benazir menjadi tumbal proses demokrasi di Pakistan
Karena jiwa mereka telah keras, seperti batu. Tidak lagi punya kelembutan Islam.