Setelah cukup lama tidak mendengar stempel “halal darahnya”, hari ini ada komentar di blog ini yang menyebutkan Ahmadiyah dan Eden sesat… dan HALAL DARAHNYA!
Hmmm…. ini sebuah problem klasik keberagamaan dalam Islam yang sampai saat ini masih cukup marak. Logika dan retorika “Halal darahnya” dikemukakan oleh berbagai kalangan dengan mudah, tanpa pikir panjang.
Sesat -> menodai Islam -> halal darahnya; sesat -> murtad -> halal darahnya. Begitulah kira-kira logika yang sering digunakan. Bahkan murtad karena tidak mau memeluk agama Islam lagi pun diancamkan sanksi “halal darahnya”.
Peristiwa terakhir itu pernah diungkap dalam persidangan Eden yang menghadirkan saksi Ahli yang menyatakan bahwa walaupun seorang muslim keluar dari agama Islam, maka dia tetap terikat dengan hukum Islam. Dan hukum untuk orang murtad menurut syariat Islam adalah hukuman mati. Walah… hakimnya waktu itu sempat terperanjat.
Kembali soal retorika “halal darahnya”, aku sering bingung saja melihat realitas yang ada di hadapanku: mengapa pemeluk agama yang notabene selalu menyebutkan ajaran agamanya adalah kedamaian dan kesucian justru sangat mudah melontarkan ancaman semacam itu? Bukan hanya di kalangan umat yang memang cenderung berfikir sederhana, tapi juga di kalangan orang-orang yang disebut pemuka agama?
***just don’t get it***
DIarsipkan di bawah: Diari, intoleransi, refleksi, religi | Tagged: agama, halal, islam, murtad, refleksi, sesat
aku ingin bertanya, bagaimana posisi lia eden, ketika ada nabi baru yang menyebut dirinya mushadeq. apa kah lia eden tidak merasa tertandingi dengan kedatangan nabi tersebut.
sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ada di pikiranku mengenai eden ini. di bawah ini akan ku runtut satu oersatu:
1. ajaran apa sih yang dibawa lia eden??apakah hanya ajaran pake baju putih saja atau cuma kumpul2 di dalam satu rumah padahal bukan muhrim??
2. apa yang baru dari lia edeng. dimana kedudukan nabi muhammad di pandangan lia.
setauku selama ini begitu ada nabi atau rasul, pasti dia membawa kitab suci yang akan disampaikan kepada umatnya.. lalu kitab suci macam apa yang digunakan lia edeng?? apa tetap alqur’an atau bagaimana??
jika ternayata kitab suci yang digunakan adalah alqur’an berarti tidak ada yang baru dari lia eden. malah hanya sekedar cari popularitas. Rumy saja yang dengan ajaran cintanya tidak pernah menyebut dirinya nabi..padahal tidak hanya didunia Islam di dunia barat rumi dipuja. lalu lia eden kayaknya hanya orang taman eden saja yang kenal dengannya.
3. perubahan apa yang ingin dilakukan lia eden??mencari tuhankah?? kalau hanya mencari tuhan aku rasa tidak perlu..mending kamu gunakan untuk membantu sesama manusia. yang sedang kelaparang…tapi bagaimana mungkin kamu akan bisa membantu manusia yang kelaparan , kesusahann…sedangkan dirimu terus menerus berpakaian putih separuh telanjang..mau keluar dari rumah aja mungkin malu
4. apa gak cukup ajaran yang disampaikan oleh nabi muhammad?? yang udah jelas nabi???
Kalau Anda memang bersungguh-sungguh mencari informasi, Anda dapat membaca Pleidoi Eden yang ada blog ini (cari dengan kata kunci “pleidoi” atau download dari menu buku). Atau, Anda dapat membaca artikel2 di http://www.mahoni30.org. Kebenaran tidak diperoleh dengan cara instan dan prasangka…. Selamat mengkaji….
Meski saya Islam, serta – merta saya sudah dicap “halal” oleh para “ualama”.
Tanya kenapa ?