• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Kronologi Ahmadiyah Kuningan (pra-penyerbuan)

Berikut ini kronologi kasus Ahmadiyah Manis Lor Kuningan, sebagaimana yang disebarkan oleh rekan-rekan dari Jemaat Ahmadiyah. Sudah waktunya publik belajar semakin dewasa dengan membuka mata dan melihat fakta, bukan mengumbar prasangka dan kebencian.

Selamat mengkaji.
Kronologis Kasus Ahmadiyah Manis Lor Kuningan

20 Pebruari 1956
Pendirian JAI di Kuningan yang berdiri pada tahun 1956. Pusat kegiatan JAI terdapat di desa Manis Lor, Jalaksana Kuningan Jawa Barat. Dari sekitar 4000 penduduk desa 3.000 diantaranya adalah pengikut JAI. Di desa ini JAI mendirikan Masjid dan beberapa Musholla serta lembaga pendidikan. Dari tahun 70-an kepala desa selalu dipegang oleh JAI.

11 Agustus 2002
Seminar LPPI tentang Ahmadiyah. Seminar ini dilaksanakan oleh Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPPI) bertempat di Masjid Istiqlal Jakarta dengan mengangkat Tema ” Membongkar Kesesatan Ahmadiyah”. Sejumlah pemuda yang tergabung dalam RUDAL kuningan, hadir dalam seminar ini. Setelah mengikuti seminar, mereka kemudian membuat spanduk dipasang di jalan menuju komplek ahmadiyah yang isinya mengecam kesesatan ahmadiyah. Mereka juga meminta kepada pemda kuningan untuk melarang aktivitas jema’at Ahmadiyah di Manis lor Kuningan.

5 Oktober 2002
Masjid At-Taqwa di rusak massa. Sambil melakukan lobi ke Pemda agar mengeluarkan pelarangan terhadap Jema’at Ahmadiyah, RUDAL juga melakukan teror dengan melakukan pengrusakan masjid At-Taqwa dan Al-Hidayah serta beberapa rumah jemaat Ahmadiyah.

27 Oktober 2002
Bupati dan unsur Muspida Kabupaten Kuningan, Depag dan MUI berkunjung ke Ahmadiyah Manis Lor, Bupati menjelaskan sebagai berikut:

  • Masalah Agama yang dilindungi oleh UUD 1945 Pasal 29.
  • UU 22 Tahun 1999 (OTDA) tidak termasuk agama, agama adalah urusan pemerintah pusat, kami datang tidak mempermasalahkan agama.
  • Tidak rela sejangkal tanah Kuningan di pakai arena kerusuhan dan besok saya akan datang ke pihak RUDAL di Balai Desa, yang nantinya akan dipertemukan dan berdamai agar menjaga kerukunan.

28 Oktober 2002
Bupati dan Unsur Muspida pertemuan dengan pihak RUDAL di Balai Desa, setelah mendengar pemaparan/pidato Nashrudin, Bupati memerintahkan kepada Kejaksaan untuk bertindak kepada Ahmadiyah.

31 Oktober 2002 dan 2 November 2002

  • Pengurus Ahmadiyah di Undang ke Kejaksaan
  • Pengurus Ahmadiyah dialog dengan unsur Pakem.
  • Bpk. Mualim Dudung di BAP

3 November 2002
Pemda Kuningan Mengeluarkan SKB (Pelarangan Ajaran Jema’at Ahmadiyah). SKB ini ditandatangani oleh Bupati, Ketua DPRD, Kepala Kejaksaan Negeri, Komandan Kodim, Kapolres, Kakandepag, ketua MUI serta beberapa Ormas (NU, Muhammadiyah, GUPPI, PUI) dan organisasi Kepemudaan lainnya.

Pembekuan kegiatan Ahmaddiyah sambil menunggu keputusan pusat.

Setelah SKB turun aksi teror makin menjadi banyak rumah jema’at ahmadiyah di Manis Lor yang dirusak massa.

5 November 2002
Kepala Desa Manis Lor (Prana Imawan Putra) melayangkan surat himbauan terhadap Jemaat Ahmadiyah agar menghentikan semua aktivitas peribadatannya sesuai isi diktum pertama SKB guna menjaga keamanan dan keselamatan, serta menghindari konflik-konflik baru.

3 Desember 2002
Tim Pakem Kabupaten Kuningan mengeluarkan surat dengan No: B.938/0.2.22/Dep.5/12/2002 yang isinya meminta kepada Kapolres untuk melakukan penyidikan terhadap pengurus jema’at Ahmadiyah. Kedua, meminta Camat dan Kepala KUA agar tidak menikahkan Jema’at Ahmadiyah. Ketiga, meminta kepada Camat agar tidak membuatkan KTP bagi Jema’at Ahmadiyah.

4 Desember 2002

  • Kepada Desa Manis Lor melayangkan surat pemberitahuan kepada Jemaat Ahmadiyah Manis Lor sesuai surat Tim Pakem tertanggal 3 desember 2002 yang isinya memberitahukan bahwa pada tanggal 4 Desember 2002 Pukul 16.00 akan ada pelaksanaan penertiban/penurunan atribut jemaah Ahmadiyah di desa Manis Lor.
  • Pelaksanaan penurunan /penerbitan atribut Ahmadiyah di Desa Manis Lor.

23 Desember 2002
Bakor Pakem Kabupaten Kuningan melayangkan surat kepada Kepolisian Resort Kuningan, Kepada Camat Jalaksana, Depag Kabupaten Kuningan.

Surat kepada Kepolisian Resort Kuningan: Bakor Pakem Kabupaten Kuningan menuntut agar Tim Penyidik Kepolisian Resort Kuningan dapat melakukan penyidikan tindak pidana umum terhadap Ustadz, Pengurus, PNS yang menganut Ahmadiyah sesuai Pasal 156a KUHP, hal ini didasarkan atas pembacaan situasi dan kondisi terakhir oleh Bakor Pakem terhadap Ahmadiyah Manis Lor yang menyatakan bahwa Ahmadiyah Manis Lor tidak mau menerima SKB tertanggal 3 November 2002, Ahmadiyah Manis Lor masih menjalankan aktivitas ibadahnya, situasi terkahir yang banyak terjadi tindakan pengrusakan rumah ibadah dan penduduk, serta kesimpulan akhir mengenai Jemaah Ahmadiyah Manis Lor yang bukan Islam.

Surat kepada camat: Bakor Pakem mendesak Camat Jalaksana agar menertibkan KTP anggota Jemaat Ahmadiyah.

Surat Kepada Depag: Menghimbau agar KUA menolak pernikahan jemaah Ahmadiyah Manis Lor.

4 Januari 2003
Surat dari PAKEM tertanggal 3 Desember 2002. Isi surat ini pertama, meminta kepada Kapolres untuk melakukan penyidikan terhadap pengurus jema’at Ahmadiyah. Kedua, meminta Camat dan Kepala KUA agar tidak menikahkan Jema’at Ahmadiyah. Ketiga, meminta kepada Camat agar tidak membuatkan KTP bagi Jema’at Ahmadiyah.

10 Januari 2003
Komnas HAM membuat surat kepada Bupati Kuningan dan Kepolisian Resort Kuningan. Komnas HAM mengirim surat kepada Bupati Kuningan dan Kepolisian resort Kuningan soal tindakan intimidasi dan kekerasan yang diterima Jema’at Ahmadiyah di Manis Lor. Juga dijelaskan jaminan menjalankan ibadah sebagaimana tercantum dalam pasal 28.E UUD 1945, Pasal 29 ayat (2) 1945, dan pasal 22 ayat (2) UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

25 Februari 2003
Surat dari Dirjen Kesatuan Bangsa. Surat ditujukan kepada Bupati Kuningan isinya, pemda Kuningan harus menjaga keharmonisan dengan melakukan kerjasama dengan Anggota JAI Manis Lor. SKB yang ditandatangani Muspida dan Ormas bukan produk hukum sehingga diminta untuk ditinjau kembali.

8 April 2003
Pertemuan antara Pemerintah, Komnas HAM, serta Jemaat Ahmadiyah Manis Lor di Kecamatan Jalaksana. Komnas Ham meminta agar SKB dikaji ulang, serta akan diadakan rapat Komnas HAM dengan unsur-unsur terkait. Jemaat Ahmadiyah menyerahkan beberapa data kronologis kepada Komnas HAM.

Oktober 2004
FPI Menyerang Ahmadiyah. Setelah mengikuti tabligh akbar dalam rangka peringatan isra mi’raj di masjid Al-Huda Manis Lor, massa kemudian menyerang masjid Ahmadiyah, mereka meminta kegiatan jema’at ahmadiyah di manis lor di hentikan sesuai dengan SKB. Beberapa massa kemudian melempar petasan ke pelataran masjid Ahmadiyah.

3 Januari 2005
Pemda Kuningan mengeluarkan SKB II. SKB dengan Nomor: 451.7/KEP.58-Pem.Um/ 2004,KEP-857/0.2.22/Dsp.5/12/2004, kd.10.08/ 6/ST.03/1471/2004 tentang Pelarangan kegiatan Ajaran Ahmadiyah di Wilayah Kabupaten Kuningan. SKB ini ditandatangani oleh Bupati Kuningan, Kepala Kejaksaan negeri, Kakandepag, dan Sekda.

4 Januari 2005
Pertemuan antara Muspida Lengkap, Kepala Kandepag Kabupaten Kuningan dengan pengurus Jemaat Ahmadiyah

19 Februari 2005
JAI Manis Lor mengajukan gugatan atas terbitnya SKB melalui Pengadilan Tata Usaha Negara Bandung. Dan meminta kepada pemda Kuningan agar menunda pelaksanaan SKB.

20 April 2005
Kuasa Hukum Jemaat Ahmadiyah Manis Lor mengajukan naik banding ke PTUN Pusat di Jakarta, yang sampai sekarang masih dalam proses.

30 Juli 2005
1 Masjid dan 7 Musholla Ahmadiyah Manis Lor di tutup.

31 Juli 2005
Manis Lor Masih dijaga Ketat. Pasca penutupan masjid dan 7 musholla milik jemaat Ahmadiyah manis lor Kuningan.

1 Agustus 2005
MTs Ahmadiyah ditutup. Penutupan 1 masjid dan 7 musholla milik jemaat Ahmadiyah di Manis Lor Jalaksana Kuningan, ternyata diikuti oleh penutupan fasilitas lain milik Ahmadiyah. Terakhir, MTs Ahmadiyah Manis Lor dengan jumlah siswa 112 orang juga ditutup.

10 Agustus 2005
Masjid Ahmadiyah Majalengka disegel. Masjid Ahmadiyah yang berada di desa Sadasari kecamatan Argapura, Majalengka disegel pihak kepolisian Resort Majalengka. Penyegelan itu terkait keluarnya fatwa MUI yang melarang ajaran Ahmadiyah, karena dinilai menyesatkan. Menurut Wakapolres, Kompol Sukirman, penyegelan tersebut dilakukan setelah adanya kesepakatan antara muspika kecamatan Argapura dengan pihak ulama setempat dan para pengikut Ahmadiyah yang jumlahnya sekitar 138 jemaat.

4 Oktober 2005
Jemaat Ahmadiyah mendapat selebaran brosur yang ditandatangani oleh:
1. KH. Achidin Noor, M.A (Pimpinan Ponpes Husnul Khotimah)
2. Drs. H. Hapidin Ahmad (Ketua MUI Kuningan)
3. H.D. Arifin. S, S.Ag M.Pd (Kepala Kandepag Kab. Kuningan)

Isi Brosur:
“Kedatangan Imam Mahdi dan Turunnya Kembali Isa Al-Masih Adalah Keyakinan dan Bagian dari Iman Umat Islam”

22 Oktober 2006
Dialog ke-5 (terakhir) antara MUI Kab.Kuningan dengan pihak Ahmadiyah, bertempat di gedung DPRD, yang difasilitasi oleh Bupati dan Ketua DPRD.

30 Mei 2006
Jemaat Ahmadiyah mengirimkan surat pemberitahuan kepada Bupati perihal penggunaan kembali Mesjid untuk sholat berjamaah.

19 November 2007
Komponen Muslim Kabupaten Kuningan melayangkan surat penegasan yang isinya penegasan bahwa Ahmadiyah harus segera menanggalkan pengakuannya beragama Islam, menghentikan seluruh kegiatan sesuai isi/perintah SKB dan segera membongkar seluruh tempat ibadah. Penegasan tersebut diberikan batas/tenggang waktu 15 hari terhitung diterimanya surat. Apabila pada batas waktu yang telah ditentukan Ahmadiyah tidak melanjuti penegasan tersebut, berarti Ahmadiyah menantang perang terhadap umat Islam. Isi surat penegasan tersebut melampirkan beberapa tanda tangan tokoh-tokoh ormas Islam Kuningan, diantaranya dari Gerakan Anti Ahmadiyah (GERAH) Kuningan, Remaja Masjid Al-Huda (RUDAL), FUI Kabupaten Kuningan, FPI Kabupaten Kuningan serta beberapa Pondok Pesantren, Ulama/Kiai/Intelektual Muslim.

26 November 2007
Surat tembusan dari Komponen Muslim diterima oleh Jemaat Ahmadiyah, disusul Jemaat Ahmadiyah Manis Lor melayangkan surat kepada Bapak Kapolres 855 Kuningan agar mohon mendapatkan perlindungan Hukum dan Keamanan bagi jemaah Ahmadiyah Manis Lor.

30 November 2007
Muspika, Camat, Danramil, dan Kapolsek, Kasi I Polres, Kepala KUA, serta ketua MUI berdialog dengan 10 Anggota Jemaat Ahmadiyah bertempat di Kecamatan Jalaksana. Pertemuan ini didasarkan Surat tembusan dari Komponen Muslim Kuningan tanggal 19 November 2007, Surat Tembusan dari Jemaat Ahmadiyah cabang Manis Lor tanggal 26 November 2007 mengenai permintaan perlindungan hukum dan keamanan, serta menyampaikan data-data pendukung mengenai kronologis SKB I, II dan beberapa data penting lainnya seperti Surat Depdagri kepada Bupati Kuningan yang menyatakan bahwa SKB bukan produk hukum, Hasil Mukhtamar NU Tentang akan datangnya Nabi Isa a.s, serta data-data lainnya. Pertemuan ini menghasilkan beberapa kesimpulan:

  1. Menyikapi rencana komponen Muslim tentang penyampaian surat tembusan kepada warga Jemaat Ahmadiyah.
  2. Diusahakan pihak komponen Muslim untuk memperkecil volume tenaga penyebaran.
  3. Pelaksanaan Penyebaran di barengi oleh aparat pemerintah.
  4. Pihak warga jemaat tidak bersedia memberikan tandatangan.

3 Desember 2007
Jemaat Ahmadiyah Manis Lor melayangkan surat jawaban penegasan terkait surat tertanggal 19 November 2007 dari Komponen Muslim Kabupaten Kuningan. Isinya terkait dengan 3 point penegasan oleh Kelompok Muslim kabupaten Kuningan, Jemaat Ahmadiyah menegaskan bahwa Ahmadiyah merupakan bagian dari Islam, dengan pegangan Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW, Ahmadiyah terdaftar secara hukum, serta penjelasan turunya SKB sesuai proses hukum, serta menyertakan sabda Nabi SAW mengenai pembangunan masjid/rumah ibadah. Surat ini diharapkan menjadi pertimbangan dan kajian untuk surat penegasan Kelompok Muslim Kabupaten Kuningan.

(setelah itu terjadi penyerangan kembali terhadap Jemaat Ahmadiyah Kuningan, pada 18 Desember 2007)

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: