• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Siapapun bisa terlempar dari Eden

Aku mendengar cerita Bunda Lia Eden yang menasihati anggota Komunitas Eden lainnya,

“Bukan kalian saja yang bisa terlempar dari Eden. Aku pun bisa dikeluarkan dari Eden kalau gagal dalam pensucianku.”

Kata-kata Bunda itu, katanya, mengejutkan teman-teman Eden yang mendengarkan. Kalau Bunda keluar, terus bagaimana kelangsungan Eden? Siapa yang akan menyampaikan pesan Malaikat Jibril?

“Pokoknya siapapun bisa dikeluarkan dari Eden. Dan siapapun bisa digunakan sebagai alat penyampai pesan Ayah (Malaikat Jibril). Agus (Supriadi) pun bisa, tak harus Yang Mulia (Abdul Rachman). Kalau ada orang yang sedang digunakan untuk menyampaikan pesan, kalian pasti akan tahu dengan sendirinya. Aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya.”

Begitu cerita yang aku dengar dari Eden. Kisah cerita Bunda ini agak mengagetkan karena diucapkan secara verbal oleh Bunda. Tapi, substansi pembicaraan beliau itu memang selaras dengan pengajaran Malaikat Jibril yang selalu aku dengar saat di Eden dulu.

“Tak ada jaminan apapun buat kalian walaupun kalian berada di Eden. Yang menjamin kalian adalah kesucian diri kalian sendiri.”

Begitulah, Tuhan memang sangat sering memuji Eden. Tapi pujian itu tak melekat pada orang dan tak menjadi kepemilikan, tapi pujian itu melekat pada kesucian yang diraih. Kalau pujian itu dibanggakan (yang berarti menyalahi kesucian) atau sebuah jenjang kesucian gagal diraih, maka gugurlah pujian dan berubah menjadi teguran dan hukuman.

Kesucian. Sesederhana itu pesan Tuhan di Eden.

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.