Aku mendengar cerita Bunda Lia Eden yang menasihati anggota Komunitas Eden lainnya,
“Bukan kalian saja yang bisa terlempar dari Eden. Aku pun bisa dikeluarkan dari Eden kalau gagal dalam pensucianku.”
Kata-kata Bunda itu, katanya, mengejutkan teman-teman Eden yang mendengarkan. Kalau Bunda keluar, terus bagaimana kelangsungan Eden? Siapa yang akan menyampaikan pesan Malaikat Jibril?
“Pokoknya siapapun bisa dikeluarkan dari Eden. Dan siapapun bisa digunakan sebagai alat penyampai pesan Ayah (Malaikat Jibril). Agus (Supriadi) pun bisa, tak harus Yang Mulia (Abdul Rachman). Kalau ada orang yang sedang digunakan untuk menyampaikan pesan, kalian pasti akan tahu dengan sendirinya. Aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya.”
Begitu cerita yang aku dengar dari Eden. Kisah cerita Bunda ini agak mengagetkan karena diucapkan secara verbal oleh Bunda. Tapi, substansi pembicaraan beliau itu memang selaras dengan pengajaran Malaikat Jibril yang selalu aku dengar saat di Eden dulu.
“Tak ada jaminan apapun buat kalian walaupun kalian berada di Eden. Yang menjamin kalian adalah kesucian diri kalian sendiri.”
Begitulah, Tuhan memang sangat sering memuji Eden. Tapi pujian itu tak melekat pada orang dan tak menjadi kepemilikan, tapi pujian itu melekat pada kesucian yang diraih. Kalau pujian itu dibanggakan (yang berarti menyalahi kesucian) atau sebuah jenjang kesucian gagal diraih, maka gugurlah pujian dan berubah menjadi teguran dan hukuman.
Kesucian. Sesederhana itu pesan Tuhan di Eden.
DIarsipkan di bawah: eden, refleksi, religi, ruhul kudus | Ditandai: eden, kesucian, religi, spiritualitas