Aku mendengar kabar dari Eden, beberapa hari ini Bunda Lia Eden diperintahkan Malaikat Jibril untuk puasa bicara. Sebab, ada kesalahan-kesalahan lisan yang dilakukan beliau.
Jadi, saat ini ada tiga orang yang sedang menjalani hukuman puasa bicara, yaitu Bunda, Bu Tuti, dan Agus Supriadi. Agus adalah yang paling lama menjalani puasa bicara. Aku tidak menghitung berapa lama, tetapi kalau diakumulasikan pasti sudah bertahun-tahun. Saking lamanya puasa bicara, Agus itu sampai mendapat sebutan “gagu” dari orang-orang. Padahal sebenarnya dia bisa berbicara normal seperti layaknya kita semua.
Kejadian yang terjadi pada Bunda Lia (seperti puasa bicara saat ini) adalah pelajaran nyata yang senantiasa dilihat para anggota Eden. Sebagai pemimpin dan medium penyampai pesan Malaikat Jibril, Bunda Lia dihormati tetapi juga diperlakukan seperti manusia biasa. Bunda Lia pun tetap manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan walaupun selalu berusaha menjaga kesucian dirinya.
Sebagaimana kasus puasa bicara ini, tak ada yang dikecualikan dalam pengajaran Tuhan. Yang berprestasi dan bersuci mendapat pujian, yang melakukan kesalahan mendapat teguran dan hukuman. Semuanya sama di hadapan Tuhan, tak terkecuali Bunda Lia. Sebab, yang berkuasa di Eden adalah Tuhan sendiri yang sedang mengutus Malaikat Jibril memberikan pengajaran dan pesan.
***
Biasanya, pemimpin itu selalu mendapat pengecualian dan kemudahan. Tapi Tuhan melalui Eden mengajarkan egalitarianisme itu. Dihormati, tetapi sekaligus dimanusiakan. Tak ada manusia yang berkuasa di Kerajaan-Nya karena Dia sendiri yang bertahta.
DIarsipkan di bawah: Diari, eden, hikmah, religi | Ditandai: Lia Eden, puasa bicara, religi
[...] Lihat saja bagaimana Bunda Lia sendiri dihukum dan diperintahkan puasa bicara oleh Ruhul Kudus. [...]