• Senarai

    "Tugas kemanusiaan kita sebagai hamba Tuhan adalah jujur," itu salah satu prinsip hidup yang membimbingku meniti kehidupan.

    Jujur berarti kita membuka hati dan pikiran kita selapang-lapangnya, tanpa pretensi apapun saat menjalani kehidupan. Jujur berarti tak memiliki setitik apapun yang kita sembunyikan dari Tuhan dan juga manusia. Jujur adalah menyatakan apa-adanya, walaupun itu mungkin merugikan kepentingan pribadi kita dan kelompok kita.

    Setelah jujur, kita belajar bersetia dengan kejujuran kita. Tak mudah untuk bersetia, sebab banyak hal yang berusaha merintangi kita. Itu mungkin kepentingan kita, ketakutan kita, keinginan kita, atau apapun yang melekat dalam diri kita. Di dalam kesetiaan, kita berusaha agar setiap keputusan kita tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan, tetapi oleh nurani yang jujur itu.

    Dan sebagai pondasi dari kejujuran dan kesetiaan adalah kecintaan kita yang utuh kepada Tuhan, kebenaran, dan kemanusiaan. Tak ada pretensi buruk apapun yang boleh bersemi di hati dan pikiran kita, bahkan terhadap orang yang bersikap jahat dan memusuhi kita.

    Melalui blog ini, aku sedang belajar jujur dan bersetia dengan nuraniku.

Hari ini jadwal eksekusi putusan MA

Hari ini (Senin, 10/12) adalah jadwal eksekusi ke-3. Panggilan ke-3 dari kejaksaan menyatakan bahwa hari ini YM harus datang ke kejaksaan pukul 08.00 untuk dieksekusi dan dipenjara selama 3 tahun (dikurangi masa tahanan).

Komunitas Eden menolak putusan kasasi tersebut. Para pengacara pun menyebutkan sejumlah kejanggalan, antara lain:

  • putusan bertentangan dengan KUHAP (putusan bebas tidak boleh dikasasi)
  • sebagai terdakwa turut serta, Abdul Rachman dihukum lebih tinggi dari terdakwa utama (Bunda Lia 2 tahun)
  • barang berharga disita oleh Departemen Agama (ada mesin cetak, laptop, kamera; harusnya disita negara utk dilelang)
  • sampai sekarang belum pernah diberikan salinan putusan MA yang berisi pertimbangan-pertimbangan MA dalam pengambilan keputusannya.

Teman-teman Eden sedang berkumpul di Mahoni untuk menanti perkembangan masalah ini. Semuanya memasrahkan diri kepada Tuhan, untuk menjadi saksi sejarah sebuah penitian spiritual yang harus dilalui oleh Eden.

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.